“Berani banget lo sentuh tangan cowok lain ketika ada gue,” bisik Dilan lirih di dekat telinga Khay.
“Khay, kamu nggak pa-pa?” tanya Barra sembari menarik tangan Khay menjauhi Dilan. Dilan menatap Barra pernah permusuhan.
Khay melihat ke arah Dilan kemudian netra cantik itu melihat ke sekitarnya, nampaklah semua orang sedang melihat mereka sekarang seakan mereka semua sedang menonton drama secara life di depan mata. Khay tak banyak bicara ia langsung melangkah pergi begitu saja. Khay tidak mengerti kenapa Dilan selalu mengusiknya, padahal dia tak pernah perduli jika ada perempuan yang mendekati Dilan. Khay sama sekali tak perduli karena itu bukan urusannya.
“Aku nggak suka sama cara Dilan, dia selalu saja suka ngelarang aku ini dan itu, dia juga selalu nyakitin aku sejak kali pertama bertemu,” batin Khay di dalam hati. Khay mengingat bayangan seseorang yang ada di masa lalunya membuat Khay merindukan sosok itu, sosok yang tak ia dengar kabarnya sejak meninggalkan kita Bandung.
Di tempat lain.
“Lain kali kalau jalan itu lo pakai mata.” Dilan berbicara dengan begitu kasar sekali pada Cantika dan selama mengenal Cantika baru kali pertama Dilan merasa terganggu melihat sikap perempuan itu.
“Dilan lo, jahat banget ngomongnya,” ujar cantika kemudian berlari menjauh.
“Dilan kok jahat banget sih sama Cantika, padahal selama ini Cantikan selalu baik sama Dilan,” kata Gita kemudian berlari menghampiri sahabatnya itu.
“Dilan, kenapa lo marah banget sama Cantika, dia hanya nggak sengaja menabrak anak baru itu, tapi kenapa lo marah seakan memiliki hubungan dengan anak baru itu,” tegur Galih yang tidak habis pikir melihat sikap Dilan sekarang.
“Dilan, lo harus minta maaf sama si itik, kasihan dia,” ujar Malik menyarankan. Manik setuju dengan teguran Gita dan juga Galih pada Dilan barusan.
“Bener itu nyet,” jawab Galih sembari merangkul pundak Malik. Baru kali ini Malik bisa diandalkan.
“Nama gue Malik bukan monyet, dasar kingkong,” umpat Malik balik pada Galik.
Jadilah kedua sahabat itu malah berantem membuat kepala Dilan semakin pusing kemudian memilih untuk masuk ke dalam ruangan kelasnya.
***
Khay keluar dari kelasnya setelah mendapatkan ijin dari guru yang sedang mengajar siang hari ini. Sekarang Khay sedang melihat pantulan wajahnya di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi ini. Ia memikirkan tentang sikap Dilan padanya, kenapa lelaki itu tak pernah berbicara dengan ucapan yang baik dan tidak menyakitkan. Lamunan Khay buyar ketika ia mendengar jika seseorang menutup pintu kamar mandi ini dengan begitu keras sekali.
“Dilan, kenapa kamu ada di kamar mandi cewek?” tanya Khay terkejut ketika mengetahui jika Dilan masuk kedalam kamar mandi perempuan. “Kamu pasti sedang janjian dengan cewek lain, kalau begitu kau akan keluar,” sambung Khay mengutarakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Dilan menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi dengan melipat kedua tangannya angkuh di depan Dada, netra yang terus saja memperhatikan Khay.
Khay tiba-tiba merasakan seluruh bulu kuduknya meremang ketika ia mengetahui hanya berdua saja di dalam toilet sekolah bersama dengan Dilan. Khay mengamati setiap pintu toilet yang terbuka dan hal itu membuat harapan Khay melebur, tadinya Khay berharap jika pemikirannya itu salah tetapi justru benar 100%.
“Dilan, minggir aku mau lewat,” ujar khay. Khay menjaga jarak dengan Dilan.
“Dengan suami sendiri lo jaga jarak, tapi dengan lelaki lain lo dekat-dekat,” ujar Dilan dengan mata menajam.
Khay hendak buka suara dan membantah ucapan Dilan barusan namun, suara para perempuan yang hendak menuju ke kamar mandi membuat atensi keduanya berubah. Dilan langsung menarik tubuh Khay masuk kedalam salah satu toilet kemudian Dilan mengunci pintunya.
“Dilan, kenapa tarik saya juga! Harusnya kamu masuk sendiri aja,” keluh Khay pada Dilan.
“Lo tahu nggak sih. Ternyata Kak Barra dan juga Kak Khay pacaran loh, pantas saja dari awal Kak Khay masuk ke sekolah ini, Kak Barra sudah baik padanya,”
“Gue patah hati banget loh mengetahui kenyataan ini, tapi Kak Khay cantik banget sih,”
Itulah suara-suara yang terdengar di dalam toilet ini. Khay menundukkan kepalanya apalagi kini dia ada di dekat Dilan dan rasanya begitu tidak nyaman sekali. Dilan mengeratkan pelukannya pada Khay hingga membuat perempuan itu langsung mengangkat pandangannya.
Dilan mengarahkan satu tangannya untuk memegangi tengkuk Khay dan satu tangan yang lain masih memeluk pinggang istrinya. Khay mencoba melepaskan diri, tapi gagal hingga perempuan itu hanya bisa pasrah saja. Khay hendak membuka suara protes dan memohon pada Dilan untuk melepaskannya namun, di detik itu juga Dilan menundukkan kepalanya hingga membungkam ucapan yang sudah berjejer rapi di tenggorokan Khay.
Khay membulatkan kedua matanya ketika Dilan mengecupnya dengan kedua mata yang tertutup. Khay mencoba untuk melepaskan diri hingga tak sengaja kakinya menendang pintu kamar mandi.
“Si-siapa yang ada di dalam?” tanya kedua perempuan yang sejak tadi masih sibuk memoles wajahnya mengunakan make up.
Dilan melepaskan kecupannya dari bibir Khay kemudian berbisik di dekat telinga Khay, “Jawablah, atau mereka akan curiga.” Nafas berat dan juga hangat Dilan yang menerpa telinga Khay membuat sekujur bulu halus yang ada di tubuh Khay meremang dengan begitu sempurna.
“Siapa di sana?” tanya salah satu perempuan yang ada di depan cermin toilet.
“Sa-saya, maaf saya sakit perut,” sahut Khay tergagap dari dalam kamar mandi.
“Oh … ya, udah lanjutin aja. Minum obat sembelit minta sana di uks setelah keluar dari toilet,” jawab salah satu perempuan cantik dengan kembali fokus memoles bibirnya menggunakan lipbom.
“Jangan bergerak lagi atau lo akan membuat mereka curiga,” bisik Dilan di dekat telinga Khay. Dilan menghirup aroma shampo yang menguar dari rambut panjang Khay, dan aroma parfum yang Khay gunakan sungguh membuat Dilan betah berlama-lama ada di jarak yang sedekat ini.
Berbeda dengan Khay yang malah tak suka dan menganggap ada di dekat Dilan tidak lain mirip seperti suatu bencana nyata. Setiap menit yang Khay lewati serasa begitu lama sekali ketika ada di dekat Dilan.
“Lepasin saya,” ujar Khay berbisik di dekat telinga Dilan. Khay mungkin tidak tahu jika telinga merupakan salah satu hal sensitive untuk para pria.
Dilan menarik nafas dalam kemudian langsung mencium bibir Khay lagi. Khay mencoba untuk melepaskan diri namun tangan Dilan yang sudah lebih dahulu berada di belakang tengkuknya justru mendorong Khay untuk memperdalam kecupannya.
“Jika lo nggak membalasnya maka nggak bakal gue lepasin!” ancam Dilan pada Khay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
@Kevin Ferdianto A.S
hmm khay bener² ga peka sama perasaan dilan ......... yang sabar ya dilan 😂
2023-04-18
1
Hilman damara
Weh.... makin seru aja nih persaingan antara barra dan dilan Cantika dan kehy lanjutkan kak dan tetap semangat oke
2023-04-17
1