Mau tidak mau Khay pun membalas kecupan Dilan dengan membuka mulutnya seakan mempersilahkan Dilan untuk melakukan apapun padanya. Satu tetes bulir bening menetes di salah satu pipi Khay, ia merasa marah sekali melihat sikap Dilan yang seperti ini. Lelaki ini selalu saja mengubah sikapnya dan melakukan apapun yang ia inginkan. Khay tahu mereka berdua sudah menikah, tapi Khay tetap tidak rela ketika lelaki ini menciumnya begitu saja.
Dilan melepaskan kecupannya ketika ia menyadari jika gadisnya menangis, ibu jari Dilan mengusap bibir Khay dengan begitu lembut sekali dan ada rasa bersalah di hatinya sebab membuat Khay menangis. Tapi percayalah Dilan tak pernah bermaksud seperti itu.
“Kamu jahat,” ujar Khay dengan nada suara yang bergetar di bibirnya.
“Maafin gue,” ujar Dilan pada Khay. Dilan membenarkan rambut panjang Khay yang nampak berantakan kemudian ia langsung mendaratkan bibirnya di kening Khay.
Khay menarik nafas dalam mencoba untuk menguasai dirinya sendiri, mendengar ucapan Dilan yang terdengar lembut entah mengapa membuat hati Khay tenang sekarang.
Mereka berdua berdiri bersampingan dan kali ini Dilan tak melakukan apapun lagi. Terdengarlah kedua perempuan yang tadi sempat merias dirinya di depan cermin toilet nampak keluar dari ruangan ini dan Dilan langsung membuka pintu kamar mandi perlahan mencoba untuk mengamati situasi yang terjadi. Dilan menggapai tangan Khay kemudian mengajak gadisnya keluar dari tempat sempit itu.
“Pergilah,” pinta Khay sembari menarik tangannya yang di genggam oleh Dilan kemudian ia melangkah menuju ke wastafel, membasuh wajahnya mengunakan kucuran air dari kran.
Tanpa mengucap kata Dilan keluar dari kamar mandi begitu saja. Khay melirik Dilan yang sudah tak ada di tempat ini dan ia pun menitihkan air mata. Dada Khay sampai terguncang ketika mengetahui sikap Dilan yang selalu membuatnya sakit hati, lelaki itu seenaknya dengan lelaki lain dan malah melakukan ini padanya! Memangnya Khay ini perempuan murahan. Itulah yang sekarang sedang ada didalam pemikiran Khay Milagros.
Setelah bisa menenangkan dirinya Khay melangkah keluar dari kamar mandi dan di saat yang sama Barra keluar dari kamar mandi cowok. Sebenarnya bukan kebetulan sebab Barra tadi mengikuti Khay keluar dari kamar mandi karena ia juga ingin buang air kecil, niat hati Barra ingin menunggu Khay dan balik ke kelas bersama, tapi yang tidak disangka justru Barra memergoki Dilan keluar dari kamar mandi dan berselang beberapa detik Khay juga keluar dari kamar mandi itu.
“Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?” tanya Barra sembari menyandarkan punggungnya pada dinding toilet.
***
Bel istirahat mulai berbunyi, Khay langsung melipat kedua tangannya di atas meja kemudian membenamkan wajahnya pada lipatan tangan itu. Seorang gadis yang duduk di samping Khay hendak beranjak berdiri namun ketika melihat Khay nampak tak baik-baik saja, gadis itu kembali mendudukkan tubuhnya.
“Khay, apakah lo baik-baik saja?” tanya seorang gadis dengan rambut panjang, wajahnya cukup cantik dan ia juga baik karena sering mengajak Khay ngobrol disela-sela jam belajar.
Khay memiringkan kepalanya kemudian menjawab, “Saya baik-baik saja,” jawab Khay dengan kedua mata yang nampak sembab.
“Khay lo habis nangis?” tanya Putri setelah ia memperhatikan kedua kelopak mata putri yang nampak bengkak.
“Nggak pa-pa kamu pergi aja ke kantin, kamu pasti lapar sebab aku mendengar perut kamu berbunyi ketika jam pelajaran tadi,” kata Khay. Terlihatlah kedua rona merah di pipi putri sebab ia terciduk sedang kelaparan saat jam belajar.
“Gue nggak sarapan pagi, jadi lapar,” jawab Putri. “Tapi kalau lo nggak ke kantin, gue temani aja,” jawab Putri yang merasa kasihan melihat Khay sendiri di dalam kelas.
“Putri, lo ke kantin aja, biar Khay gue yang temani,” jawab Barra dari arah belakang mereka berdua. Ya, sejak dari tadi Barra memang mendengarkan perbincangan kedua gadis itu karena tempat duduk Barra ada di belakang Khay.
“Ya, udah kalau gitu gue ke kantin dulu, Khay nanti kalau lo nggak ke kantin juga maka akan gue bawakan makanan ke sini,” jawab Putri dengan senyuman manisnya. “Barra gue titip Khay, awas aja kalau sampai lo gangguin dia,” ujar Putri memberikan wejangan sebelum ia pergi.
“Lo tenang aja, gue ini lelaki pecinta wanita jadi bakal gue jaga, nggak bakal ada yang lecet satu ujung kuku pun,” jawab Barra balik bercanda.
Khay terkekeh melihat tingkah keduanya. Barra dan juga Putri melihat ke arah Khay yang tertawa. “Ayo kita ke kantin bersama, kesedihan aku sudah hancur melihat tingkah kalian berdua,” kata Khay sembari beranjak berdiri dari posisi duduknya.
Di sisi lain.
Dilan, Malik dan juga galih sedang berdiri di depan kelas seperti biasanya. Kedua lelaki itu sibuk menggoda adik kelas yang sedang lewat di hadapan mereka sedangkan Dilan lempeng aja menatap lurus ke depan dengan wajah datar.
Dua orang perempuan cantik mendekati ketiga lelaki itu, siapa lagi melakukannya jika buka Cantika dan juga Anita. Kedua perempuan itu tak pernah bosan mendekati ketiga pemuda tersebut.
“Malik, yok ke kantin sekarang, gue gerah lihat pemandangan ini,” ujar Galih ketika Cantika sudah berhenti di depan Dilan.
“Yo nyet! Gue takut dosa lihat mereka pacaran depan mata,” jawab Malik pada Galih.
“Ayok kita pergi bersama saja kalau gitu,” jawab Anita yang setuju dengan keputusan Galih dan juga Malik. Begini lebih baik jadi nggak ada yang ganggu Cantika dengan Dilan.
“Dilan. Sayang,” panggil Cantika dengan manja. Cantika sengaja menyebut Dilan dengan panggilan Sayang ketika melihat Khay berada di antara mereka.
Khay, Barra dan juga Putri mendengarkan percakapan mereka semua tadi, karena kebetulan mereka melewati Dilan. Khay tak melihat ke arah Dilan sedikitpun sebab hatinya masih terasa begitu sakit sekali ketika mengingat kejadian di dalam toilet tadi. Dan di tambah dengan kejadian kali ini.
“Dia sudah punya pacar yang cantik, tapi masih saya mengurusi hidup aku,” gerutu Khay di dalam hati.
“Gila si Cantika akhirnya mendapatkan Dilan juga,” kata putri mulai mengajak Khay dan juga Barra gibah.
“Apa maksudnya?” tanya Khay mulai merasa penasaran.
“Dari sejak awal masuk ke sekolah ini, Cantika sudah menyukai Dilan, tapi si Dilan nggak perduli dan cuek aja tuh, baru sekarang ini gue lihat Cantika panggil Dilan dengan sebutan Sayang,” cerita Putri dengan sangat antusias sekali.
“Sebenarnya si Dilan itu kayaknya suka sama putri, tapi ia tak menunjukkannya secara langsung.” Barra melihat ke arah Khay yang menatap lurus ke depan dan perempuan itu juga diam tak menjawab apapun. Barra sengaja berbicara seperti ini agar Khay menjauh dari Dilan.
“Gue nggak akan kalah dari lo lagi Dilan!” kecam Barra dengan penuh kebencian yang nampak terpampang nyata di balik kedua manik matanya yang berkobar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
bintang orion
milagros tuh jdi inget nm obat😁
2023-05-20
0
Hilman damara
lanjutkan kak dan tetap semangat oke
2023-04-18
1