Pacar Dilan

Sekarang Khay sedang berdiri di depan gerbang sekolahnya, satu mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapan Khay. Khay yang tidak melihat plat mobil itu hanya diam saja dan sesekali ia berbicara dengan putri yang sekarang sedang ada di sampingnya.

"Sayang," panggil seorang perempuan paruh baya yang ada di dalam mobil itu.

"Mama, Papa," panggil Khay dengan binar mata yang nampak bahagia sebab kedua mertuanya sudah datang sekarang.

"Putri, aku pulang dahulu, ya," kata Khay dan putih langsung menganggukkan kepalanya.

"Hati-hati."

Khay sudah berada di dalam mobil dan Jiro langsung mengemudikan mobil ini menjauhi sekolah Taruna. Khay dan juga Aulia berbincang-bincang dan sesekali Jiro juga ikut menimpali ucapan keduanya. Hingga perhatian Aulia mulai teralihkan ke jendela mobilnya.

“Dilan,” ujar Mama Aulia ketika melihat jika kini Dilan sedang membonceng seorang perempuan.

Jiro dan juga Khay langsung ikut melihat ke arah yang Mama Aulia lihat sekarang. Khay melihat jika kini Dilan sedang membonceng Cantika, perempuan itu nampak begitu bahagia sekali dan semuanya terlihat dengan begitu jelas dari netra Khay.

Khay merasakan sakit di bagian dadanya, perempuan itu mulai memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya dari mulut seakan mencoba untuk memenuhi lingkup oksigen yang sudah mulai menipis di paru-parunya sekarang. Khay tidak tahu apa alasan dari rasa sakit ini. Kenapa Khay harus sakit hati melihat semua ini? Dia tak mencintai Dilan, dirinya menikah dengan Dilan juga bukan karena cinta, tetapi karena tak ada pilihan lain lagi hidupnya.

Aulia dan juga Jiro mengepalkan kedua tangannya melihat tingkah Dilan yang malah membonceng perempuan lain dan membiarkan Khay pulang sendiri. Jiro hendak mengklakson mobilnya namun, Khay melarang Papa mertuanya itu.

“Pa, Ma. Mereka hanya berteman baik, Khay tak masalah akan hal ini,” ujar Khay pada kedua mertuanya itu. Khay mengulas senyuman manisnya seakan ia sedang menunjukkan jika semua baik-baik saja.

“Khay, maafkan Dilan.” Aulia hanya bisa berkata demikian untuk menenangkan menantunya. Khay memang mengatakan jika semua baik-baik saja, tapi Aulia tahu jika Khay merasa tak nyaman hingga membuang pandangannya ke arah lain dan tak mau melihat putranya yang kurang ajar itu.

Selang beberapa waktu.

“Ma, bolehkan jika Khay tidur di dalam kamar Khay sendiri malam ini?” tanya Khay pada Aulia ketika ia sudah berada di bawah kaki anak tangga.

“Tentu saja Sayang, kamu boleh tidur di sana,” jawab Aulia yang mengerti perasaan menantunya itu.

“Terima kasih, Ma,” jawab Khay pada Aulia kemudian beranjak menaiki anak tangga rumah ini.

2 jam kemudian.

Dilan baru saja turun dari motor Ducati merahnya, lelaki itu melihat jika kini kedua orangtuanya sudah ada di depan rumah. Dilan tahu jika kini kedua orangtuanya nampak tak sedang baik-baik saja sebab aura mereka nampak begitu gelap sekarang. Namanya juga Dilan ia tetap memberikan ekspresi wajah datar dan tak ada rasa cemas nampak dari guratan wajah lempeng bak kanebo kering itu.

“Dilan kemari!” titah Jiro dengan nada suara yang setengah tertahan di tenggorokannya.

“Ada apa Ma, Pa?” tanya Dilan dengan suara datar.

“Kamu tak mau pulang bersama dengan Khay, tetapi malah membonceng gadis lain, apakah kamu tidak berpikir bagaimana perasaan Khay sekarang.” Sembur Jiro yang sudah tak bisa menahan emosinya lebih lama lagi. Wajah lelaki itu nampak merah padam karena merasa emosi.

“Dia hanya teman Dilan,” jawab Dilan santai.

“Pa, masuklah ke dalam rumah dan biarkan Mama saja yang menasehati Dilan,” pinta Aulia pada sang suami. Aulia mengusap perlahan lengan tangan Jiro mencoba untuk menurunkan kadar emosi suaminya itu dan berhasil.

“Nasehati Dilan! Atau Papa akan mengirim Khay sekolah ke luar negri.” Setelah bicara Jiro langsung melangkah masuk ke dalam rumah.

Di dalam kamar.

Khay sedang berkirim pesan dengan putri sembari berbaring di atas ranjang. Entah mengapa melihat sikap putri yang nampak begitu lucu memuat mood Khay mulai membaik dengan sekejap mata.

Putri mengajak Khay untuk pergi ke mall di sore hari ini dan Khay juga merasa suntuk di rumah ingin langsung pergi jalan-jalan. Khay membuka pintu kamarnya dan di saat yang sama Khay melihat Dilan meliriknya tajam kemudian Khay hendak menutup kembali pintu kamarnya ini, tapi tak bisa kemudian Khay melihat ke arah bawah pintu, nampaklah sepatu Dilan menghalagi pintu ini untuk tertutup kembali. Khay mundur beberapa langkah kebelakang ketika Dilan mendorong paksa pintu ini.

“Dilan, ada apa?” tanya Khay. Khay menjaga jarak dari Dilan ketika melihat sorot mata tajam lelaki itu, Khay menyimpulkan jika sekarang Dilan pasti sedang marah padanya.

“Lo ngomong apa sama Mama dan juga Papa sampai gue di marahi.” Sembur Dilan sembari mengikis jarak dengan Khay sekarang.

“Sa-saya nggak ngomong apa-apa. Mereka melihat motor kamu yang ada di samping mobil dan kebetulan kamu sedang memboceng pacar kamu, tapi aku bicara pada Mama dan juga Papa jika dia adalah teman kamu, sumpah aku nggak ngadu apapun ke mereka,” kata Khay dengan wajah yang nampak ketakutan. Khay melihat ke arah kaki Dilan yang kini semakin mengikis jarak dengannya.

“Lo jangan pernah ikut campur urusan gue!” kata Dilan sembari mengacungkan satu jari telunjuknya ke hadapan wajah Khay.

“Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama padaku! Kita menikah bukan karena cinta dan aku tak mencintai kamu, justru aku juga tak suka berada di dekat kamu,” kelakar Khay dengan jujur dan wajahnya memerah karena kebencian. Dilan menciumnya di dalam kamar mandi kemudian dia dekat dengan perempuan lain dan sekarang lelaki sialan ini malah menyalahkan dirinya akan semua yang terjadi. Menjengkelkan sekali.

Dilan menarik pingang Khay, membuat tubuh Khay menegang seketika. Dilan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Khay lalu berkata, “Lo itu istri gue, jadi mana mungkin gue nggak perduli dengan Lo! Tapi gue melarang lo untuk perduli dengan kehidupan gue dan apapun yang gue lakukan.” Setelah bicara Dilan langsung melepaskan pinggang Khay begitu saja dan ia berjalan keluar dari ruangan kamar ini.

“Dilan sialan! Saya benci banget sama kamu,” teriak Khay dari dalam kamarnya. “Aku nggak bisa terus-terusan ada di dalam rumah ini, aku nggak mau di tindas olehnya lagi,” ujar Khay mulai menguatkan tekatnya. Khay tak boleh lemah ia harus menunjukkan pada Dilan jika ia bukanlah perempuan lemah yang bisa di tindas dan juga diperlakukan seenaknya.

Dilan tak menjelaskan apapun pada Khay, jadi jangan salahkan Khay jika ia semakin membenci Dilan dan mencoba selalu menjaga jarak dengannya.

Terpopuler

Comments

Hilman damara

Hilman damara

Weh...makin salah paham nih hubungan kehy dan dilan.... lanjut

2023-04-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!