“Khay nih makanan lo datang,” kata Barra sembari menaruh nampan di atas meja kemudian menaruh satu mangkuk soto ayam dan juga satu gelas jus mangga di hadapan Khay.
“Ya, elah jahat banget sih! Khay aja makanannya di taruh di depannya langsung, lah gue suruh ambil sendiri gitu,” kata Putri berpura-pura marah pada Barra.
“Lo kan masih punya tangan putri malu,” ledek Barra seraya mendudukkan tubuhnya, mengambil satu mangkuk bakso dan juga es jeruk di hadapannya sendiri. “Khay itu sepesial di hati gue jadi jangan samakan dengan lo.” Barra bicara sembari melirik tajam ke arah Dilan yang kini juga menatapnya dengan wajah datar seperti biasa.
“Apaan sih Barra, kita kan sama-sama teman,” jawab Khay sembari terkekeh melihat perdebatan kedua sahabatnya ini. Sikap Barra yang begitu manis padanya membuat Khay merasa senang dan juga nyaman berteman dengan lelaki ini. Tapi Khay tak tahu jika ternyata Barra baik padanya karena ingin membuat Dilan marah.
Khay tidak terlalu naif jadi orang, hanya saja dirinya tak mengerti jika Barra merupakan musuh bebuyutan Dilan. Jika saja Khay tahu mungkin ia akan menjauhi Barra dan mulai memikirkan hal negatif tak seperti sekarang ini.
“Khay, sepulang sekolah lo mau nggak jalan ke mall sama gue dan juga Putri?” tanya Barra sembari menatap ke arah Khay dengan mengedipkan kedua matanya menggoda. Khay tertawa terbahak melihat tingkah Barra yang begitu manis sekali.
“Kapan lo menawarkan jasa untuk pergi dengan gue ke mall?” tanya Putri dengan mulut yang penuh akan gorengan yang ia makan. Tatapan putri menyoroti Barra meminta jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan barusan.
“Niatnya sih, gue bakal ajak lo setelah Khay setuju,” balas Barra jujur dan berhasil mendapatkan pelototan tajam dari putri. Barra membalas dengan senyuman manis kemudian melirik ke arah Khay, mengedipkan satu matanya menggoda hingga membuat Khay terkekeh melihatnya.
“Si anjir, Kak Barra manis banget sikapnya ketika sama Kak Khay,” kata seorang perempuan yang duduknya dekat dengan meja Khay.
“Gue pengen punya pacar yang romantis kayak Kak Barra gitu,”
“Awalnya gue kira Kak Barra itu orangnya cuek, eh … nggak tahunya pas sama gebetan sendiri malah sikapnya manis banget nggak sih.”
“Gue waktu itu nggak sengaja dengar jika Kak Barra sering banget kirim chat dengan Kak Khay setiap hari, duh udah ketemu di sekolah dan di rumah masih mendapatkan perhatiaan dari si doi. Beruntung banget Kak Khay dapatkan Kak Barra yang begitu pengertian dan juga mencintainya.”
Wajah Dilan langsung memanas setelah mendengarkan suara para perempuan yang ada di dekatnya ini. Tak ada satu pun orang yang bisa menebak apa yang sekarang sedang Dilan pikirkan sebab lelaki itu begitu pandai menyembunyikan isi hatinya dibalik wajah datar ini.
“Dilan, lo kok hanya diam saja sih, sini gue suapin,” kata Cantika dengan begitu manja kemudian menyodorkan satu sendok soto di hadapan Dilan.
Dilan hanya diam saja sembari menatap ke arah Cantika hingga suara Anita mulai terdengar. “Dilan, terima dong suapan dari Cantika, anggap saja ini permintaan maaf kamu kemarin karena membentak Cantika di hadapan banyak orang, di perlakukan kasar seperti itu bikin malu loh, sumpah.” Anita sengaja memojokkan Dilan supaya lelaki itu mau menerima suapan dari sahabatnya.
“Benar apa yang Anita katakan,” jawab Malik malah mendukung sahabatnya, kemudian Galih ikut menganggukkan kepala setuju dengan kedua orang itu hingga membuat Dilan tak memiliki kesempatan untuk menolak suapan dari Cantika.
Khay memperhatikan hal itu kemudian dari tempat duduknya. Rasa lapar yang tadinya sempat memenuhi perut Khay langsung menghilang ketika melihat akan hal itu. Kenapa Khay harus sakit hati melihat lelaki jahat seperti Dilan bersama dengan perempuan lain? Seharusnya Khay senang karena jika Dilan menyukai perempuan lain mungkin saja lelaki itu akan menceraikannya. Semua pertanyaan itu membuat Khay bingung sendiri. Khay memilih meninggalkan makanannya begitu saja tanpa ia sentuh sama sekali.
Jam pelajaran.
“Putri, lo ngantuk?” tanya Barra pada putri yang terlihat menguap beberapa kali.
Putri menganggukkan kepalanya dengan kedua mata yang terlihat memerah karena tak dapat menahan rasa kantuknya. “Lo mau nggak tukar tempat duduk dengan gue?” tanya Putri pada Barra sembari menguap untuk yang kesekian kalinya.
“Lo marathon drakor Put semalam?” tanya Khay pada Putri.
“Gue bakal kepikiran kalau nggak selesaikan drakor ketika cha eun wo nampak ganteng di sana,” ujar putri dan berhasil membuat Khay menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap sang sahabat ini. Putri dan juga Khay memang berteman belum lama ini, tapi mereka sudah begitu dekat sekali.
“Barra api, mau nggak loh gantikan gue duduk di sini?” tanya Putri yang sudah tak bisa membuka matanya.
“Baiklah, putri malu,” jawab Barra kesenangan karena ia bisa duduk bersama dengan Khay.
Khay dan juga Barra sedang sibuk mengerjakan tugas masing-masing hingga terdengarlah keluhan Khay yang bingung menjawab soal nomor lima, maklumlah Khay begitu lemah di mata pelajaran Fisika. Khay yang sudah berpikir sekuat tenaga akhirnya tak bisa menjawab juga, otaknya seakan kosong bagaikan gelas yang tak ada isinya sama sekali. Khay menyandarkan lelah tubuhnya di bangku yang ia duduki, hal itu berhasil membuat Barra menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Khay sekarang.
“Khay, kenapa?” tanya Barra sembari menaruh sikunya di meja kemudian telapak tangannya menopang kepala dengan tatapan memuja ke arah Khay. Ya, tak dapat Barra pungkiri jika Khay begitu cantik sekali.
“Gue nggak bisa jawab pertanyaan nomor lima,” ujar Khay dengan wajah memelasnya.
Percayalah wajah polos dan memelas ini membuat setiap lelaki yang menatapnya begitu gemas sekali. Begitu juga dengan salah satu lelaki yang baru saja masuk ke dalam ruangan kelas ini. Dilan, ya lelaki itulah yang baru saja masuk ke dalam ruangan kelas Khay. Dilan di suruh gurunya untuk memberikan kunci jawaban soal pada guru yang sedang mengajar sekarang di kelas Khay. Dilan tentu langsung melihat ke arah Khay ketika masuk ke dalam ruangan kelas ini dan ia melihat pemandangan seperti ini memenuhi kornea matanya.
Sedangkan Khay yang sedang fokus melihat ke arah Barra tak menyadari akan hal itu, bahkan sampai Dilan keluar dari kelas ini.
Khay kamu harus berhati-hati dan jangan pancing Dilan untuk marah lagi sama lo. Tapi salah Dilan juga sih sebab nggak pernah memberikan penjelasan jadi Khay semakin salah paham apalagi setelah mendengarkan fitnah yang di katakan oleh Cantika dan juga Anita di halaman sekolah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments