1 bulan setelah kepengian Axel.
Kondisi Khay mulai membaik dan ia juga sudah tidak menangis setiap hari ketika mengingat Papanya. Hubungan Khay dan juga Dilan masih sama seperti beberapa waktu yang lalu, dimana mereka sering sekali mempertengkarkan hal-hal kecil bahkan sikap Dilan juga masih begitu dingin padanya hingga membuat Khay terkadang merasa kurang nyaman.
Siang hari ini Khay dan juga Aulia sedang memberikan makan ikan-ikan koi peliharaan. Setiap hari Khay selalu datang ke kolam ikan koi ini guna untuk memberikan ikan-ikan berukuran acak itu makanan, entah mengapa Khay merasa begitu tenang sekali ketika melihat sekumpulan hewan air itu berenang dan sedang memperebutkan makanan yang ia berikan. Hal itu begitu menyenangkan bagi Khay.
“Sayang, apakah kamu sudah siap jika akan pergi ke sekolah besok?” tanya Aulia pada Khay setelah keduanya duduk di sofa yang ada di halaman rumah ini.
“Iya, Ma. Khay juga sudah tidak sabar untuk kembali bersekolah dan memiliki teman-teman yang baru,” jawab Khay seraya tersenyum manis.
“Kalau begitu sekarang kita pergi ke sekolah yang sama dengan Dilan, agar besok kamu bisa langsung masuk ke sekolah,” ajak Aulia.
“Kalau begitu Khay akan bersiap-siap,” sahut Khay dengan begitu antusias.
“Sayang,” panggil Aulia hingga menghentikan niat awal Khay untuk melangkah
“Ya, Ma,” jawab Khay setelah melihat ke arah perempuan paruh baya itu.
“Pakai make up di wajah kamu itu, Mama ingin membuat kamu menjadi primadona di sekolah itu,” ujar Aulia. Aulia tahu dengan sangat jelas jika di sekolah begitu banyak gadis yang mengejar-ngejar putranya dan Aulia ingin membuat Khay jauh lebih cantik dari mereka semua.
“Ma, kenapa Khay harus melakukannya. Khay jarang sekali mengunakan make up jika ke sekolah,” ujar Khay yang memang selalu suka tak mengunakan riasan dan ia hanya mengunakan libam saja di bibirnya supaya tidak kering.
“Sayangku, ini adalah jakarta dan Mama ingin kamu mengunakan make up sekarang, nanti juga kamu akan tahu kenapa Mama meminta kamu untuk memoles wajah,” pinta Aulia pada Khay dengan mengerdipkan kedua matanya secara bersamaan dan anggap saja inilah cara Aulia untuk merayu menantunya supaya mau menuruti keinginannya.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Khay dengan tersenyum manis.
***
“Dilan, lo tahu nggak barusan gue lihat ada anak baru dia begitu cantik sekali, ketika gue sapa dia tersenyum dengan begitu ramah sekali dan si anjir senyumannya itu manis banget, bahkan permen lolipop saja kalah manis,” ujar Galih. Galih adalah teman Dilan dan dia juga tidak kalah tampan dari Dilan namun, dia termasuk play boy gadungan.
“Di mana sekarang anak baru itu? Gue mau lihat?" tanya malik. Malik tadi sedang tertidur, tetapi ketika dia mendengarkan tentang perempuan cantik maka kesadaran Malik langsung kembali lagi. Malik ini teman Dilan, tetapi dia cukup lola-alias loding lama. Jadi kalau di ajak bicara itu jarang bisa nyambung gitu. Ibaratkan tali pasti putus di tengah.
“Gue ke sekolah ini mau belajar dan bukan cari cewek,” jawab Dilan acuh tanpa ada minat sedikitpun untuk melihat perempan cantik yang barusan kedua sahabatnya itu katakan.
Di tempat lain.
Khay dan juga Aulia baru saja keluar dari ruangan kantor setelah mereka mendaftar ke kepala sekolah. Dan Khay besok mulai masuk sekolah. Tangan Khay memegangi kresek besar yang berisikan baju-baju sekolah dan juga buku-buku sekolahnya. Khay merasa tidak nyaman ketika melihat semua orang menatapnya dan terutama kaum adam.
Ketika Khay melangkah melewati kelas-kelas yang masih melakukan jam pelajaran. Semua murid melihatnya dari kaca jendela seakan dirinya ini adalah artis nyasar ke sekolah ini. Memalukan sekali.
“Ma, apakah Khay terlihat aneh sehingga mereka semua terus saja memperhatikan Khay seperti ini?” tanya Khay pada Aulia.
Aulia menghentkan langkahnya kemudian melihat wajah Khay lalu berkata, “Apa yang barusan kamu katakan itu Sayang? Kamu terlihat begitu cantik sekali dan karena sebab itu semua penghuni sekolah memperhatikan kamu.
“Khay merasa kurang nyaman, kita langsung pulang saja sebelum bel isirahat berbunyi,” pinta Khay pada mertuanya itu. Khay tidak tahu saja jika Aulia sengaja pergi ke sekolah ini ketika hendak jam istirahat supaya Dilan bisa melihat wajah cantik Khay sekarang. Sebab ketika ada di rumah Khay memang tak pernah mengunakan riasan sama sekali dan Khay juga selalu mengunakan piyama tidur tidak berdandan rapi seperti sekarang ini.
“Khay, Mama lapar sekali sampai merasa mual,” dusta Aulia pada menantunya. Untuk mendukung aktingnya Aulia sampai mengarahkan tangannya untuk memegangi perutnya sendiri dan ia melihat Khay mulai iba padanya, itu tandanya akting Aulia berjalan lancar.
Selang beberapa waktu kemudian.
Semua perempuan melihat ke arah satu titik yaitu tiga pemuda tampan, dimana mereka bertiga mendapatkan julukan pangeran sekolah. Ya, ketiganya adalah Dilan, Galih dan juga Malik. Ketika pemuda itu memiliki begitu bangan fan di sekolah ini jadi tak heran jika semua perempuan melihat ke arah mereka dengan penuh damba. Namun, satupun dari ketiga pangeran sekolah tak ada yang memiliki kekasih, itu bukan berarti tak ada satupun perempuan yang mau menjadi kekasih mereka, tetapi mereka bertigalah yang tak tertarik pada semua perempuan yang mengejar-ngejar mereka. Kodrat seorang lelaki itu mengejar dan bukan di kejar.
“Dilan, lo mau kemana?” tanya Cantika. Perempuan cantik dengan rambut panjang dan juga wajah full make up itu mengeser posisi Malik yang sebelumnya berjalan di samping Dilan.
“Astaga, biasa aja kali Itik, lo ngomong baik-baik juga gue bakal minggir dan kasih lo akses buat lebih dengan dengan sang pangeran,” keluh Malik yang merasa kesal dengan sikap Cantika.
Cantika di juluki perempuan paling cantik di sekolah ini dan ketika dia berjalan di samping Dilan maka sudah bisa di pastikan jika semua Perempuan akan mengalami patah hati massal tentunya.
“Gue mau ke kantin,” jawab Dilan dengan wajah datar tanpa melirik ke arah Cantika sedikitpun. Sikap Dilan memang begitu dingin sekali pada semua orang perempuan, tapi yang anehnya mereka semua masih menyukai Dilan dan malah mengidolakannya.
“Gue temenin,” jawab Cantika.
Dilan mulai menatap ke arah cantika dan yang di tatap pun langsung memamerkan senyuman manisnya. “Gue larang juga lo bakal ngikuti gue kayak lintah yang menghisap darah.” Sembur Dilan dengan suara terdengar kejam namun Cantika bukannya marah marah tersenyum manis.
“Astaga, Malik, itu dia cewek yang gue bilang cantik tadi, dia murid baru,” ujar Galih sembari menunjuk ke arah kantin.
Dilan langsung menatap ke arah yang Galih tunjuk dan ia langsung membulatkan kedua matanya ketika mengetahui jika itu adalah istrinya.
“Khay,” gumam Dilan tak bersuara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Hilman damara
mulai seru nih ceritanya lanjutkan kakak dan adik semangat oke
2023-04-13
1