Bukan Pangeran Tampan Tapi Pangeran Mesum

Khay merasa sangat lapar sekali malam ini, namun ia begitu malas keluar dari kamarnya, apalagi Mama Aulia dan juga Papa Jiro sore tadi mengatakan jika mereka akan menghadiri acara pernikahan sahabatnya ketika sekolah dahulu, keduanya juga mengatakan jika mereka tak akan pulang malam ini. Itu tandanya jika Khay akan berdua dengan Dilan di dalam ruangan kamar ini. Argh! Menyebalkan sekali.

Hati Khay masih tramat sakit ketika mengingat apa yang telah Dilan katakan padanya tadi. “Lebih aku menahan lapar dari pada harus keluar dari ruangan kamar ini dan melihat wajah menyebalkan itu,” gumam Khay dari dalam hatinya.

Khay menutup buku pelajarannya kemudian kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, tangannya meraih remot tv yang ada dalam jangkauannya.

“Astaga ini film bagus banget, lee min hoo jadi pemeran utama, Oppa sang heo,” guman Khay dengan binar mata yang nampak begitu bahagia sekali. Hanya dengan melihat wajah ganteng oppa-oppa korea, itu sudah membuat Khay semangat lagi dan kesedihannya pun sudah hilang entah kemana.

Ketika manik mata Khay sedang fokus melihat ke arah layar televisi tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar ruangan kamar ini mulai terdengar membuat atensi sang empunya teralihkan sudah.

“Siapa?” tanya Khay tanpa beranjak dari posisi duduknya. Pandangan Khay bahkan tak bergeming sedikitpun dari layar televisi.

“Lo, buka pintunya atau gue pakai kunci cadangan untuk membukanya!” ancam Dilan dari luar ruangan ini. Hal itu sudah membuat Khay merinding tak karuan sekarang.

Senyuman yang tadinya memenuhi wajah Khay langsung melebur seketika saat indra pendengarannya menangkap suara si makhluk jadi-jadian. Dengan berat hati Khay turun dari atas ranjang dengan tatapan masih melihat ke arah sang idola yang sedang nampak di layar kaca. Yang ada di televisi bak dewa kebahagiaan dan yang ada di luar pintu ini bak dewa kematian. Khay membuka kunci pintu ruangan kamar ini kemudian kembali mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dengan sorot mata lurus ke depan.

Dilan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan kamar ini. Dilan melihat ke arah Khay yang tak mengubris kedatangannya, manik istrinya itu lebih tertarik pada sosok tampan yang ada di layar televisi.

“Ngapain kamu ke sini?” tanya Khay pada Dilan. Khay melirik ke arah Dilan sekilas kemudian kembali fokus melihat ke arah layar televisi. “Kamu mau melihat oppa bareng sama saya?” tanya Khay malah menawarkan hal yang membuat Dilan langsung membuang nafas kasar karena merasa kesal.

“Oppa, kepala lo itu.” Sembur Dilan. Lelaki itu langsung meraih remote tv yang ada di hadapan Khay kemudian mematikan sambungan televisi itu. “Ikut gue sekarang!” perintah Dilan dengan seenak jidat.

“Ogah, kembalikan remote nya, saya mau lihat oppa,” kata Khay mirip seperti anak kecil, kini Khay menarik-narik baju yang kini sedang Dilan kenakan.

“Ikut saya sekarang atau kamu masih ingin melihat cowok halu itu?” tanya Dilan dengan ambigu. Dilan mengangkat tinggi tangannya ke atas supaya Khay tak bisa mengambil remote tv itu.

“Ya, milih lihat cowok halu tapi bikin bahagia dari pada melihat cowok nyata yang bikin sesak dada,” jawab Khay jujur.

Entah mengapa setiap kali melihat Dilan maka Khay merasa begitu kesal sekali, apa lagi lelaki ini tak pernah melihatnya dengan seulas senyuman, melainkan melihatnya dengan tatapan tajam yang membuat jenggah.

Kalau mau lihat visual Khay dan juga Dilan berciuman follow IG. Khairin_junior.

“Kalau begitu kita nontoh bersama, tapi lo sambil pijitin gue!” perintah Dilan.

“Ogah banget,” sahut Khay jutek. Khay memutar kedua bola matanya jengah kemudian langsung beranjak berdiri di hadapan Dilan. “Sekarang kamu keluar dari ruangan kamar ini, sekarang nggak ada Papa dan juga Mama sebaiknya kita tidur di kamar masing-masing,” pinta Khay dengan kedua mata menatap tajam lelaki di hadapannya.

“Justru karena nggak ada Papa dan juga Mama maka gue bisa melakukan apapun pada lo,” jawab Dilan dengan seringai ranjangnya. Entah sejak kapan lelaki ini mulai memasang tampan mesum begini membuat Khay ketakutan hingga mundur beberapa langkah ke belakang mencoba untuk menghindar.

“Ka-kamu jangan macam-macam,” kata Khay terbatah. Sialnya ketika Khay mundur ia tak memperhatikan arah belakang hingga kini tubuhnya terpojok ke dinding.

“Macam-macam sama istri sendiri kan boleh banget,” jawab Dilan. Demi apapun itu, Dilan yang sekarang ini tak terlihat angkuh dan juga dingin melainkan dia terlihat begitu mesum sekali. Khay nggak suka melihat cara Dilan menatapnya yang seakan sedang mencoba untuk menyentuh setiap inci tubuhnya menggunakan tatapan mesum itu. Namanya juga buaya, jadi kerjanya cari mangsa terus.

“Baiklah ak-aku ikut sama kamu sekarang,” kata Khay mengalah dari pada harus terkena masalah. Begitu pikirnya.

Dilan yang semula melangkah menghampiri Khay pun langsung berhenti di posisinya. “Ganti baju kita cari makan malam.” Setelah bicara Dilan melemparkan remot tv ke atas kasur, melangkah keluar dari ruangan kamar ini.

“Astaga! Dia mesum banget jika begitu, andaikan semua perempuan tahu jika lelaki yang mereka idolakan bukanlah pangeran tampan sekolah, melainkan pangeran mesum,” celoteh Khay sambil mengusap dadanya.

***

Khay dan juga Dilan melangkah keluar dari pintu utama rumah ini bersama-sama. Mereka berdua tidak saling bertegur sapa bagaikan orang yang nggak mengenal satu sama lain.

Seorang ojek tiba-tiba berhenti di depan pagar rumah ini dan itu adalah ojek pesanan Khay. Khay tahu jika Dilan nggak akan mau berangkat bareng sama dia.

“Wah … cepet banget abang ojek datang,” ujar Khay lirih kemudian melangkah mendahului Dilan. Khay kembali melangkah mundur ke belakang ketika merasakan jika ada seseorang yang menarik lengan tangannya, itu adalah Dilan memangnya siapa lagi.

“Lo lupa apa yang gue bilang kemarin?” tanya Dilan pada Khay dan ini bukan mirip seperti suatu pertanyaan melainkan mirip seperti suatu teguran.

“Kemarin kamu bilang apa?” tanya Khay balik. Otak kecil Khay mencoba mengingat semuanya namun, ia lupa maklumlah Khay menolak ingat jika lelaki yang berdiri di hadapannya ini adalah suaminya. Suruh siapa Dilan nyebelin.

Dilan melihat Khay dengan wajah yang nampak datar dan sorot mata itu semakin menyipit hingga membuat kedua alisnya hampir saja bersentuhan. Nyali Khay yang segede upil langsung menciut seketika saat melihat perpaduan wajah tampan dan juga garang yang kini ada di hadapannya.

Dilan menarik lengan tangan Khay hingga tak ada jarak diantara keduanya kini. Jantung Khay mulai berdetak dengan tidak karuan ketika menyadari jika jarak keduanya mulai terkikis sekarang.

“Abang ojek sudah nunguin gue, lebih baik gue berangkat sekara ….” Perkataan Khay terhenti ketika Dilan menyatuhkan kedua bibir mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!