Mencari Keberadaan Khay

Dilan masuk ke meja makan ini, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar dapur dan tak mendapati Khay dimanapun. Hanya ada kedua orangtuanya yang kini sedang duduk di meja makan.

Aulia memperhatikan Dilan yang baru saja masuk ke dalam dapur ini, perempuan paruh baya itu bisa menebak jika kini Dilan sedang memperhatikan sekitarnya seakan sedang mencoba untuk mencari sesuatu. Siapa lagi jika bukan Khay yang ia cari.

“Dilan, kemari lah Mama sudah lapar, kami hanya tinggal menunggu kamu saja.” Aulia dengan sengaja berbicara seperti itu supaya Dilan tahu jika kini Khay tak ada di rumah ini, Dilan cukup pintar hingga ia akan paham dengan maksudnya barusan.

“Ma, kalau nggak ada Khay sepi juga rumah ini,” ujar Jiro setelah Dilan mendudukkan tubuh di kursi yang berada tepat di sampingnya.

“Papa benar juga, tapi Mama tak akan menghalangi keputusan Khay,” sahut Aulia dengan ambigu.

Dilan memasang wajah datar seakan ia tak perduli dengan apa yang sedang kedua orangtuanya itu katakan. Dilan melahap makanannya dengan begitu santai sekali, bahkan ia juga sedang asik menghabiskan isian yang ada didalam piringnya itu.

Jiro dan juga Aulia yang melihat akan hal itu langsung menggertakkan gigi mereka sebab Dilan benar-benar bagaikan sosok lelaki yang tak memiliki hati sedikitpun. Bagaimana mungkin lelaki ini bisa santai dan tak perduli dengan keberadaan istrinya sekarang.

Pukul 22.00

Dilan beranjak keluar dari ruangan kamarnya kemudian ia melangkah menuju ke kamar Khay, tanpa mengetuk pintu lelaki itu langsung masuk ke dalam ruangan kamar istrinya tersebut, Dilan tak mendapati Khay di manapun, bahkan lelaki itu juga sampai membuka kamar mandi namun sosok cantik yang sedang ia cari tak terlihat. Tanpa mengubah air mukanya Dilan segera beranjak keluar dari ruangan kamar ini.

Mangkannya Dilan jangan berbuat seenaknya begitu, kalau di tinggal Khay seperti ini saja kamu baru kelimpungan dan juga sibuk nyari tu makhluk cantik yang sekarang sedang menjadi incaran lelaki sekolah taruna.

***

Khay dan juga Putri bergandengan bareng masuk ke dalam gerbang. Kedua perempuan itu sukses mendapatkan perhatian oleh kaum adam terutama Khay. Khay bahkan mendapatkan julukan bidadari sekolah ini dan itu berhasil menggeser posisi Cantika yang selama tiga tahun lamanya menjadi urutan pertama.

“Khay, dia ganteng banget tahu nggak,” kata Putri sembari mengoyangkan pelan lengan tangan Khay yang sedang ia pegang.

“Siapa?” tanya Khay balik pada Putri. Khay mengedarkan pandangannya ke sekitar dan tak ada satupun murid yang pantas di sebut ganteng yang sekarang ada di sekeliling mereka.

“Song jhong ki,” jawab Putri dengan wajah tak berdosanya.

“Aku juga tahu kalau dia ganteng lah doi aku,” jawab Khay dengan menunjukkan senyuman manisnya itu.

Ketika kedua sahabat itu sedang berbincang-bincang bersama tiba-tiba ada seorang lelaki yang menerobos di tengah-tengah mereka membuat pegangan tangan Putri pada Khay terlepas seketika. Kedua sahabat itu melihat ke arah Barra dan langsung memukul lengan Barra secara bersamaan.

“Ih apaan sih ganggu aja,” kata Putri gemas sendiri melihat tingkah teman satu kelasnya ini. Saat ini Barra ada diantara Putri dan juga Khay.

“Habisnya tadi gue dengar kalian sedang bilang tentang ganteng, lah gue emang udah ganteng sejak dari lahir,” kata Barra sembari mengedipkan matanya pada kedua sahabat yang ada disampingnya ini.

“Barra, jelek,” kata Khay sembari menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah Barra dengan wajah jutek. Khay melihat Putri memberikan jempol padanya sebab hanya Khay lah satu-satunya gadis yang mengatakan jika lelaki seganteng dan juga sekeren Barra jelek di sekolah ini.

Barra menaruh kedua tangannya bersedekap di dada kemudian mengamati wajah Khay yang sedang cemberut, itu begitu menggemaskan sekali jika di lihat oleh Barra sekarang. Barra mulai memajukan wajahnya ke arah Khay hingga membuat Khay waspada kalau-kalau Barra menciumnya kan bisa mampus.

“Khay, cantik,” puji Barra kemudian mengedipkan satu matanya tanda menggoda.

Khay yang melihat akan hal itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan senyuman manis nampak menghiasi bibirnya. Barra dan juga Putri mengikuti langkah Khay.

Para perempuan yang ada di halaman sekolah dan yang sedang melihat pemandangan ini pun langsung patah hati massal sebab idola mereka justru sudah memiliki kekasih. Ya, itulah yang sekarang sedang semua orang pikirkan.

Di tempat lain.

“Dilan lihatlah itu,” kata Galih pada Dilan yang sekarang sedang sibuk memusatkan perhatian ke arah layar ponselnya.

“Jangan ganggu gue, gue nggak tertarik pada perempuan secantik apapun,” jawab Dilan dengan begitu santai tanpa mau mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Ngapain sih nyet lo ngajak ngomong manusia sedingin ini! Mending lo ngomong sama gue aja,” jawab Malik yang memang sudah hafal betul dengan tingkah Dilan.

“Si anjir, gua baru mau berjuang untuk merebut hati anak baru itu, tapi malah tu Barra api yang udah ngedapetin duluan,” ujar Galih sembari mendesahkan nafasnya di udara karena ia merasa kalah telak sebelum berjuang.

Dilan langsung mengangkat pandangannya, ia melihat jika kini Khay bersama dengan Barra, keduanya nampak berbicara dengan jarak yang begitu dekat sekali. Dilan melihat ke arah Khay yang kini sedang tersenyum manis pada lelaki lain dan lelaki itu adalah musuhnya sendiri. Saat ini jarak Dilan dan juga Khay mulai terkikis seketika membuat pandangan Dilan dan juga Khay beradu, tapi detik berikutnya Khay mengalihkan pandangannya ke arah lain kemudian kembali berbicara dengan Barra.

“Khay lo di tengah aja,” kata Barra kemudian langsung menarik lengan Khay dan memposisikan perempuan itu ada diantaranya dan juga Putri.

“Terima kasih,” jawab Khay. Perlakukan Barra yang begitu baik padanya membuat Khay merasa sangat di lindungi dan andaikan saja Dilan memiliki sikap penyayang seperti ini, tapi kenapa juga Khay memikirkan seorang lelaki yang hanya bisa membuatnya kecewa dan juga sakit hati! Nikmati waktu kamu Khay dan abaikan Dilan supaya dia tahu begitu sakitnya diabaikan oleh seseorang.

***

Semua murid langsung berhamburan keluar dari kelas ketika mendengarkan bel pulang sekolah berbunyi. Barra sudah pulang lebih dahulu dan begitu juga dengan Putri. Di dalam ruangan kelas ini hanya ada Khay saja, Khay akan menginap di rumah putri lagi, tapi Khay meminta pada Putri untuk pulang lebih dahulu sebab Khay tak ingin berpapasan dengan manusia menyebalkan yang namanya Dilan.

“Sepertinya sekarang sekolah sudah sepi deh,” ujar Khay kemudian mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya. Khay melangkah menuju ke pintu ruangan kelas ini, tapi kakinya langsung terhenti ketika netra indahnya menangkap sosok yang baru saja masuk ke dalam ruangan kelasnya. Siapakah itu?

Terpopuler

Comments

Hilman damara

Hilman damara

ya pasti itu DILAN lanjutkan kak dan tetap semangat oke

2023-04-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!