Khay dan juga Dilan baru saja sholat bersama kemudian Khay kembali sibuk dengan ponselnya dan seharian ini yang perempuan itu lakukan hanya memegang ponsel, tapi apa yang sedang ia lakukan mungkinkah berkirim pesan dengan kekasihnya yang ada di bandung? Tapi sepertinya tidak sebab Khay tak mengingat nomor ponselnya dan juga semua sandi akun medsosnya. Khay sekarang mengunakan semua akun baru pada ponselnya dan begitu juga dengan emailnya.
Dilan melangkah keluar dari kamar mandi kemudian melihat ke arah Khay yang masih juga mengotak-atik ponselnya. Dilan melangkah menuju ke meja belajar kemudian membuka bukunya dan siap untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya di berikan oleh sang maha guru. Dilan kembali melirik ke arah Khay yang sedang senyam-senyum sendiri dengan pandangan yang masih fokus pada ponselnya.
“Khay,” panggil Dilan sembari melihat istrinya.
“Hem,” jawab Khay tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya seakan melihat ponsel ini lebih menarik dari pada suaminya.
“Gue ada di sini bukan di dalem ponsel.” Sembur Dilan dengan suara beratnya.
“Gue tahu, nggak perlu kamu jelasin,” jawab Khay kemudian menaruh ponselnya dan melihat ke arah Dilan dengan penuh tanya.
“Lo udah kasih nama semua buku bacaan dan juga kitabnya?” tanya Dilan.
“Sudah,”
“Kapan?”
“Sebelum kamu pulang sekolah,”
“Sekarang ambilin gue satu gelas air minum dan juga camilan!” perintah Dilan.
“Kamu itu mau mengerjakan tugas sekolah atau nonton bioskop sih,” kesal Khay yang merasa jika dirinya tak dipinang menjadi istri melainkan menjadi kacung oleh sang suami.
“Kalau lo mau memperbanyak dosa teros aja bantah dan abaikan peringah suami.” Setelah bicara Dilan kembali fokus melihat ke arah bukunya.
“Menyebalkan sekali,” gerutu Khay sembari menghentak-hentakkan kakinya melangkah keluar dari ruangan ini. Khay sabar, ya.
***
Suasana di meja makan ini terlihat begitu hening sekali dan hanya terdengar suara garpu dan juga sendok yang saling bersentuhan satu sama lain. Semua orang sedang sibuk menghabiskan makanan yang ada di dalam piring masing-masing hingga terdengarlah suara Mama Aulia yang membuyarkan suasana di dapur ini.
“Pa, kemarin ketika Mama mengantarkan Nak Khay ke sekolah, semua cowok-cowok yang ada di sekolah itu memerhatikan Khay sampai ada yang berkata sama Mama jika ingin menjadi menantu Mama loh,” cerita Mama Aulia sembari melirik ke arah Dilan. Mama Aulia pasti merasa penasaran dengan ekspresi putranya sekarang namun, putranya ini tetap memasang wajah datar. Menyebalkan sekali.
“Khay memang cantik,” puji Jiro sembari ikut melirik ke arah Dilan kemudian berkata. “Dilan jaga istri kamu ketika ada di sekolah dan jangan sampai Khay jatuh cinta pada pemuda tampan lainnya,” ujar Jiro menasehati putranya.
“Kalau Khay mau ya, biarkan saja,” jawab Dilan dingin dan juga datar.
“Dasar anak ini,” kesal Aulia sampai mengigit bibir bagian bawahnya kesal melihat tingkah Dilan yang seakan tak perduli.
“Khay, abaikan saja lelaki sepertinya dan kamu fokus cari lelaki tampan lain di sekolah,” ujar Jiro dengan sengaja ingin membuat Dilan kesal dan berhasil. Dilan melihatnya sekilas kemudian pergi dari meja makan ini tanpa mengucap kata.
“Mau kemana kamu Dilan?” tanya Mama Aulia.
“Sekolah,” jawab Dilan tanpa memutar tubuhnya.
“Bareng sama Khay dong, dia kan masih baru dan belum tahu kelasnya,” sahut Aulia sembari beranjak berdiri dari posisi duduknya.
“Dia bisa bertanya pada teman-teman nanti. Dilan berangkat dulu,” jawab Dilan tak acuh.
“Astaga bocah itu,” ujar Jiro kesal sendiri melihat sikap Dilan sekarang. Padahal Jiro sempat berharap jika sikap Dilan tak akan berubah dingin begini ketika sudah menikah dengan Khay, tapi ternyata semuanya masih sama.
Sebenarnya sejak dari kecil Dilan itu tipe yang ceria namun, entah sejak kapan sikapnya berubah dingin dan jarang sekali tertawa. Kedua orangtuanya merasa heran dengan perubahan sikap Dilan, tapi mereka tak bisa melakukan apapun sebab setiap orang memang memiliki karakter yang berbeda-beda.
“Ma, Pa. Khay berangkat sendiri saja,” ujar Khay yang tak ingin merepotkan semua orang.
“Kenapa berangkat sendiri, biar Mama antarkan, lagi pula Mama punya mobil pribadi.”
***
Dilan bersama dengan kedua teman-temannya sedang duduk di depan kelas mereka yang terdapat bangku panjang. Atensi ketiga pemuda yang tadi sempat berbincang-bincang itu pun mulai teralihkan saat melihat semua orang nampak heboh melihat ke arah satu titik saja.
“Si anjir kecantikan nih cewek bertambah berkali-kali lipat setelah mengenakan seragam sekolah,” ujar Galih. Galih yang begitu terpesona dengan kecantikan murid baru itu sampai tanpa sadar menonyor kepala Malik.
“Kampret! Lo kalau sedang terpesona dengan perempuan lain jangan pukul kepala gue, dasar monyet,” kesal Malik kemudian balik menonyor kepala Galih.
“Si anjir, balasnya nanti aja sih kalau kita udah di kelas,” ujar Galih.
“Cantika, lihat itu Dilan memperhatikan murid pindahan,” ujar Anita yang merupakan teman Cantika selama ini.
Cantika yang tadinya melihat ke arah Dilan langsung mengubah pandangannya ke arah murid baru itu. Cantika menatap ke arah Khay tajam sebab perempuan itu memang benar-benar cantik sekali dan melebihi kecantikannya. Tapi yang membuat Cantika cemburu bukan hal itu, melainkan tatapan Dilan.
“Gue mau samperin tu cewek, kayahnya dia bingung deh cari kelas,” kata Galih ketika melihat Khay menatap satu persatu kelas yang ia lewati.
Ketika Galih hendak melangkah nggak di sangka ternyata seorang Barra melewatinya dengan begitu cepat sekali. Kedua mata Dilan menatap semakin tajam.
Bisa di bilang wajah Barra ada di bawah Dilan namun, keduanya sama-sama menjadi idola di sekolah ini. Bahkan semua junior selalu memuja-muja mereka berdua, tapi satupun dari mereka tak ada yang memiliki kekasih sebab sikapnya yang sedingin kutub utara hingga tak mudah di dekati.
“Hai perkenalkan nama gue Barra,” ujar Barra sembari mengulurkan tangannya di hadapan Khay.
Khay menerima uluran tangan itu karena Barra terlihat baik padanya. “Nama saya Khay Milagros, panggil Khay saja,” jawab Khay dengan tersenyum.
“Apakah masih belum menemukan kelas yang akan kamu tujuh?” tanya Barra pada Khay sembari berjalan di sampingnya.
“Iya, saya mencarinya sejak dari tadi,” ujar Khay pada Barra.
Di tempat lain.
“Si anjir, tu cewek beruntung sekali karena baru saja masuk sekolah ini sudah di dekati oleh Kak Barra. Mana tu cewek cuantik banget loh, baru kenalan saja udah secocok itu seperti orang yang sudah pacaran.” Begitulah sahut-bersahut suara para perempuan yang sedang heboh sendiri.
Dilan bisa mendengarkan dengan begitu jelas ucapan para perempuan itu sebab para gadis bicara dengan begitu keras. Hem … Dilan cemburu nggak nih?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Hilman damara
lanjutkan kak dan tetap semangat oke
2023-04-14
0