Bukan Perfek Honeymoon

Setelah selesai membersihkan tubuhnya Khay sekarang sedang berdiri di depan cermin dan ia melihat pantulan wajahnya sendiri di depan cermin yang nampak begitu berantakan, kedua pelupuk matanya nampak sembab dengan wajah yang nampak kusam sekali mirip seperti orang yang tak terawat. Tanpa mengoleskan make up apapun di wajahnya Khay keluar dari ruangan kamar ini sembari menyisir rambutnya hanya dengan menggunakan jemari tangan saja, Khay melihat sisir di atas meja rias dan juga semua perlengkapan make up yang biasanya selalu ia kenakan namun, tak ada sedikitpun minatnya untuk menyentuh semua itu.

Khay masih terlalu sedih dan juga begitu hancur ketika ia mengingat jika lelaki yang begitu ia sayangi ternyata telah tiada dan meninggalkan dirinya sebatang kara. Tuhan tak bisakah engkau mengembalikan lelaki tangguhnya itu? Tentu saja itu semua tak akan mungkin lagi dan Khay harus bisa menerima semua kenyataan ini.

Khay terdiam sejenak ketika ia menyadari jika Dilan kini sudah berdiri di kaki anak tangga terakhir dan dengan gaya angkuh dan juga arogan lelaki itu memutar tubuh menghadapnya. Tak ada senyuman ramah ataupun tatapan hangat yang kini sedang Khay lihat dari wajah calon suaminya, tapi Khay tidak merasa kaget sebab mereka memang tak saling mengenal. Ya, itu benar.

“Lama sekali gue menunggu lo, ayo kita makan sekarang,” ujar Dilan ketika melihat jika Khay kini sudah berdiri di belakangnya.

“Saya tidak menyuruh kamu untuk menunggu,” jawab Khay singkat. Khay masih terlalu sedih dan lelaki yang ada di hadapannya sekarang sungguh tak memiliki hati. Tapi Khay harus sabar sebab dirinya menumpang di rumah ini sekarang.

“Lo memang tidak menyuruh gue untuk menungggu, tetapi kedua orangtua gue yang memintanya,” ketus Dilan kemudian melenggang pergi begitu saja setelah menancapkan luka di hati Khay.

Saat ini Khay sudah duduk di meja makan, ia tak begitu berselera untuk menyentuh makanan apapun di atas meja ini. Semua itu terjadi bukan karena rasa makanannya yang tidak enak melainkan Khay tak memiiki selera makan untuk sekarang ini.  Aulia yang melihat akan hal itu tidak tinggal diam saja, ia menaruh beberapa lauk-pauk di atas piring Khay kemudian Jiro juga ambil bagian dengan menaruh dua sendok nasi di atas piring calon menantunya itu.

Khay tersenyum pada keduanya sebagai tanda terima kasih kemudian Khay mulai memaksakan dirinya untuk menyantap makanan yang ada di dalam piringnya, rasa makanan ini begitu pahit sekali ketika menyentuh lidahnya dan Khay tahu itu hanya perasaannya saja sebab ketiga orang yang sedang ada di hadapannya sekarang makan dengan sangat lahap sekali.

“Ma, Pa. Terima kasih karena sudah berbuat baik pada Khay, jika tak ada kalian berdua pasti Khay akan menjadi gelandangan,” tutur Khay sembari menundukkan kepalanya. Ketika Khay sedang merasa bersedih terdengarlah suara seseorang lelaki yang langsung mampu membuyarkan kesedihannya menjadi kemarahan.

“Kenapa dia memanggil kalian dengan sebutan yang sama dengan Dilan?” tanya lelaki itu sembari menatap kedua orangtuanya yang kini sudah membulatkan mata pertanda protes akan apa yang barusan Dilan katakan itu. Tapi Dilan hanya mengangkat kedua pundaknya acuh melihat tatapan kedua orangtuanya sekarang.

“Nanti sore kalian akan menikah jadi sudah sewajarnya jika Nak Khay memanggil kami dengan sebutan yang sama dengan kamu,” jelas Aulia. Perempuan itu berbicara dengan nada suara terdengar begitu geram sekali, tapi Aulia mencoba untuk tetap terlihat tenang di hadapan calon menantunya.

“Apakah kami akan menikah secepat ini?” tanya Khay sembari melihat ke arah sepasang suami istri itu yang langsung menganggukkan kepalanya.

***

Semua ini seperti suatu mimpi buruk yang tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya. Dalam sekejap mata lelaki tangguh yang selama ini selalu menyayangi dan juga menjaganya pergi dari dunia ini dan dengan sekejap mata juga semua orang menjauhinya setelah tahu jika Khay jatuh miskin dan tak memiliki apapun lagi. Dan dengan sekejap mata juga kini ia duduk di samping lelaki yang sedang mengucapkan ijab kobul dengan begitu lancar sekali seakan lelaki ini sudah hafal nama lengkapnya di luar kepala ‘khay milagros’ nama itu lelaki tersebut sebutkan dengan begitu lantang dan juga tegas seakan ia begitu siap untuk menikahinya.

Tak ada orang terdekat yang Khay kenal sekarang, semua orang yang hadir di acara pernikahan ini adalah keluarga dari suaminya. Argh! Semua seperti mimpi, tak ada perfek honeymoon yang selama ini selalu Khay impikan dan juga bayangan, yang ada hanya pernikahan penuh akan derai air mata. Ini pernikahan kilat yang selama ini tak pernah Khay inginkan dan juga dambakan. Tapi ini nyata dan bukan mimpi.

“Sah!”

“Sah!”

“Sah!”

Mendengarkan kata yang keluar dari bibir para saksi membuat air mata Khay jatuh begitu saja di kedua pipinya. Khay yang masih begitu shock harus bertukar cincin dengan lelaki yang tidak ia cintai dan juga tidak ia kenal. Lelaki yang menatapnya angkuh dan juga dingin itu sekarang resmi menjadi suaminya.

“Cepat lakukan, jangan bikin aku malu di depan keluarga!” perintah Dilan pada Khay dengan tatapan tajam.

Khay mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya dan dengan tangan yang gemetar perempuan itu mengambil cincin yang sedang di pegang oleh mertuanya kemudian memasangkan cincin pernikahan ini jari manis lelaki asing yang baru saja resmi menjadi suaminya beberapa detik yang lalu.

“Alhamdulillah,” kata semua orang setelah mengetahui jika cincin pernikahan itu telah terpasang dengan begitu sempurna di jari tangan kedua pengantin ini.

“Sayang, kini kamu telah menjadi putri kami. Tak perlu merasa sungkan akan apapun sebab kita adalah suatu keluarga dan inilah alasan Mama mempercepat hari pernikahan kalian,” ujar Aulia kemudian mengecup kedua pipi Khay dengan penuh kasih sayang. Selama ini Aulia begitu menginginkan anak perempuan dan kini ia telah mendapatkannya sekarang.

Selang beberapa waktu.

“Dilan, ajak istri kamu masuk ke dalam kamar nampaknya ia begitu lelah sekali,” ujar Jiro pada putranya itu.

“Pa, Khay bisa masuk ke dalam kamar sendiri,” jawab Khay dengan polosnya. Sepetinya ia lupa jika baru saja menikah.

Aulia tersenyum manis melihat sikap lugu menantunya ini lalu diapun melangkah menghampiri sang menantu kemudian berkata, “Sayangku, kamu sekarang nggak bisa tinggal di dalam ruangan kamar kamu lagi,” kata Aulia sembari menangkup wajah cantik menantunya menggunakan kedua tangan.

“Kenapa tidak bisa?” tanya Khay dengan penuh selidik.

Dilan yang melihat tingkah Khay langsung mengusap kasar wajahnya sendiri seraya bergumam, “Astaga dia bodoh sekali sih,” gerutu Dilan dengan suara yang lirih. Dilan ganteng sabar dong.

“Kamu sudah menikah dengan Dilan, jadi mulai detik ini maka kamu sudah sah menjadi istrinya secara agama dan juga hukum negara, jadi sudah sepatutnya jika kamu tinggal satu kamar dengan suami kamu,” jelas Aulia. Khay langsung melihat ke arah Dilan sembari menggelengkan kepalanya tanda menolak namun, pemuda itu malah menggenggam tangannya.

 

Terpopuler

Comments

Hilman damara

Hilman damara

duh bener loh udah sah....sah...sah...aja tuh si key Ama dilan samawa ya key dan dilan dan buat key yang sabar dan lapang kan hati dan dada... lanjutkan kak dan tetap semangat oke

2023-04-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!