Orang Misterius

Kedua netra indah ini seketika langsung membulat penuh ketika ia melihat siapa sosok yang baru saja masuk ke dalam ruangan kelasnya, ya itu adalah Dilan. Lelaki yang menjadi alasannya tetap bertahan di dalam kelas ini sampai semua murid pergi ternyata Dilan malah datang menghampirinya, Khay tiba-tiba menyesal karena ternyata ia salah mengambil keputusan, jika tahu Dilan akan menghampirinya di dalam kelas ini pastilah Khay akan memilih pulang bersama dengan Barra dan juga Putri tadi.

Khay menundukkan kepalanya tak berani melihat ke arah mata setajam elang yang kini sedang memperhatikannya seakan dirinya ini adalah seekor mangsa yang tak mungkin Dilan lepaskan begitu saja.

Khay menggengam rok sekolahnya dengan kedua telapak tangan yang sudah di basahi oleh keringat dingin. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya mengisi pasokan oksigen yang hampir saja habis didalam lingkup paru-parunya sekarang. Khay memantapkan hatinya kemudian berlari cepat menuju pintu keluar namun yang tidak di sangka malah Dilan langsung menutup pintu keluar satu-satunya yang ada di dalam ruangan ini, membuat langkah Khay terhenti mendadak.

“Kenapa tidak pulang semalam?” pertanyaan itu keluar lancar dari mulut Dilan.

“Apa urusannya dengan kamu?” bukannya menjawab justru Khay bertanya balik pada Dilan. Khay berusaha untuk menahan lidahnya agar tidak bergetar ketika bicara, tapi ia gagal sebab rasa takutnya akan sosok yang ada di hadapannya ini terlalu besar hingga begitu sulit sekali untuk Khay sembunyikan. Dan Dilan tahu itu.

Dilan melangkah cepat kemudian menarik lengan tangan Khay dengan begitu erat hingga membuat gadis itu meringis kesakitan. “Lo itu istri gue kalau lo lupa! Apakah semalam lo tidur bersama dengan Barra?” tanya Dilan pada Khay sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Khay.

“Sa-sakit Dilan, lepasin tangan saya,” rintih Khay sembari mengigit bibir bagian bawahnya. Khay tak berani melihat ke arah Dilan dan ia lebih memilih untuk menundukkan kepala saja.

“Sakit lo bilang!” bentak Dilan dengan mengarahkan satu tangannya yang lain ke lengan tangan Khay kemudian mencengkramnya dengan begitu kuat. Hal itu tentu saja membuat tubuh Khay gemetar ketakutan akan sikap kasar Dilan. “Lo semalam tidur di mana? Jawab gue!” bentakan penuh perintah itu mampu membuat air mata Khay jatuh meleleh di kedua pipinya.

“Aku tidur di rumah putri,” jawab Khay disela-sela isak tangisannya. Khay merasakan jika cekalan tangan Dilan mulai melemah hingga akhirnya cekalan tangan itu terlepas dan Khay mengunakan kesempatan itu untuk berlari keluar dari ruangan kelas ini dengan derai air mata yang membasahi kedua pipinya.

Dilan mengejar Khay keluar dari ruangan kelas ini. Ketika ia hendak menarik tangan putri tiba-tiba keluarlah Bu Beti dari ruangan kepala sekolah kemudian mengajak Dilan berbicara. Dilan masih menatap ke arah Khay yang baru saja menaiki mobil dan menjauh dari sekolah ini.

Di dalam mobil.

Khay terus saja menangis sampai kedua bahunya terguncang, wajahnya terlihat berantakan karena tumpahan bulir bening itu, alis dan juga hidungnya memerah ketika menangis. Sang supir menatap ke arah Khay tanpa membuka suara.

“Dilan kasar banget, apakah sebenci itu dia sama aku sampai melakukan kekerasan ini,” batin Khay sembari menahan rasa nyeri dikedua lengan tangannya akhibat cekalan tangan keras Dilan tadi.

***

Dilan melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah datar bagaikan tak terjadi apapun. Aulia sudah menatap murka ke arah putra semata wayangnya itu. Aulia melangkah mendekati Dilan yang kini sedang berjalan lurus ke arahnya.

“Dilan, kenapa kamu membuat Khay menangis? Apakah sebenci itu kamu padanya? Dilan, sadarlah gadis itu belum lama kehilangan Papanya, tapi kamu malah menyakiti hatinya, pada awalnya Mama menjodohkan kalian sebab ingin kamu menjaga Khay dan juga menjadi pelipur lara baginya namun, ternyata Mama salah,” cecar Aulia. Aulia mendapatkan kabar jika Khay menangis dari supir yang ia minta untuk menjemput Khay di sekolah. Dada Aulia naik turun menahan emosi ketika mengetahui semua ini dan ia pun sudah bisa menebak jika sang putra lah alasan Khay menangis.

“Jika ingin aku menjaganya, maka biarkan kami tinggal berdua dan pindah ke apartemen Dilan.” Setelah bicara Dilan langsung melangkah pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun lagi.

“Dilan! Jelaskan pada Mama kenapa kamu membuat Khay menangis!” teriak Aulia kesal sendiri melihat sikap putranya ini.

Dilan tak menjawab ia melangkah panjang menaiki anak tangga rumah ini. Aulia hanya bisa mendesahkan nafasnya di udara ketika melihat semua ini.

Beberapa jam kemudian.

Aulia sudah sampai di apartemen milik Dilan yang ada di pusat kota Jakarta. Hari ini Aulia tak memperbolehkan Khay untuk menginap di rumah Putri lagi dan Aulia sengaja meminta supirnya untuk membawa Khay menuju apartemen. Dilan hampir tak pernah datang ke apartemen ini sebab ia tak suka tinggal sendirian, tetapi Aulia selalu meminta orang untuk membersihkan apartemen ini setiap 3 hari sekali, jadilah kondisi apartemen ini terawat hingga bisa Khay tempati ketika ia pulang dari sekolah.

Aulia memasukan sandi pin apartemen kemudian langsung masuk ke dalam begitu saja. Ia melihat seorang gadis sedang tidur meringkuk di sofa. Itu adalah Khay. Aulia melihat bagian dalam apartemen milik Dilan yang nampak begitu rapi sekali. Aulia berjongkok di hadapan Khay kemudian mengusap rambut Khay dengan penuh kasih sayang.

“Sayang, apakah Mama membangunkan kamu?” tanya Aulia pada Khay yang kini sudah mendudukkan tubuhnya di sofa.

“Tidak, Ma,” jawab Khay mencoba berbohong.

Aulia mengusap pipi menantunya itu gemas sembari berkata, “Kamu tak pandai berbohong.” Khay hanya bisa mengulas senyuman tipis. “Apakah Dilan memukul kamu hingga kamu menangis seperti ini?” tanya Aulia sembari menarik Khay kedalam pelukan hangatnya.

“Ya, dia membentak Khay dan juga membuat Khay ketakutan dan tidak hanya itu saja! Bahkan dengan kejam Dilan mencengkram lengan tangan Khay hingga masih terasa nyeri sampai sekarang.” Ingin sekali lidahnya mengucapkan semua kebenaran itu, tapi Khay memilih diam dan menelan bulat-bulat semua kejujuran tersebut.

“Tidak, Ma. Dilan bahkan mengabaikan Khay ketika di sekolah dan itu membuat Khay sedih,” ujar Khay mencoba untuk berbohong sebaik mungkin dan itu berhasil.

“Sayang, Dilan memang seperti itu dan kamu harus sabar, sementara kamu tinggal saja di sini sebab Dilan tak pernah pulang ke apartemen,” kata Aulia dan Khay langsung menganggukkan kepalanya setuju. “Ini Mama bawakan kamu baju ganti dan juga seragam sekolah serta ada juga keperluan kamu lainnya, sekarang Mama harus pulang dahulu sebab jika Mama keluar rumah terlalu lama maka Dilan akan curiga nanti.”

“Baik, Ma. Dan terima kasih karena selalu menyayangi Khay,” jawab Khay seraya mengantarkan Aulia sampai ke luar dari ruangan ini.

“Ada makan malam juga di dalam paper bag, jika tidak habis kamu taruh saja di kulkas dan besok pagi tinggal dihangatkan lagi sebab Mama membuat cukup banyak.” Setelah melihat Khay mengganggu Aulia pun langsung meninggalkan tempat ini.

Aulia dan juga Khay tak menyadari jika sejak dari tadi ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua di tempat yang tersembunyi dari jangkauan mata keduanya. Siapa itu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!