Lo Masih Doyan Betina Kan?

Dengan perasaan marah dan juga kesal Khay melangkah memasuki gerbang sekolahnya, setelah ia membayar ongkos pada ojek online itu. Di dalam hati Khay sudah mengutuki tingkah konyol Dilan yang mengambil ciumannya begitu saja tanpa permisi. Dilan benar-benar menyebalkan dan ingin rasanya Khay langsung mencabik-cabik tubuhnya namun, sayangnya Khay manusia biasa dan bukan keturunan manusia srigala seperti apa yang pernah ia lihat di film.

“Khay,” panggil Barra setelah berada di samping Khay.

Khay terlonjak kaget ketika menyadari ada seseorang yang menyenggol lengan tangannya, Khay tadi sedang sibuk memikirkan tentang kejadian tadi pagi hingga ia tak fokus.

“Eh … Barra, aku pikir siapa tadi,” kata Khay sembari tersenyum manis pada Barra.

“Maaf jika gue ngagetin lo. Habisnya tadi dah gue panggil malah nggak dengar,” cerita Barra. Barra memperhatikan lentik bulu mata Khay yang terlihat natural namun begitu mirip seperti boneka hidup saat ia mengerdipkan kedua matanya. Bak boneka berbie mata lebar itu. “Lo mikirin apa tadi?” tanya Barra pada Khay.

Khay tak mungkin berbicara jujur jadi ia mengajak keras otaknya untuk berpikir. “Saya lapar dan berpikir ingin ke kantin dulu setelah menaruh tas,” jawab Khay jujur. Dia memang lapar sebab nggak sempat sarapan tadi pagi, enek aja rasanya melihat Dilan di meja makan yang sama, apalagi kini mereka hanya berdua karena Mama dan juga Papa belum pulang.

Barra melihat ke arah Dilan yang baru saja keluar dari kelas, tatapan lelaki itu melihat Barra tajam, detik berikutnya menatap ke arah Khay yang kini menundukkan kepala. Barra menarik salah satu senyuman begitu tipis pada bibirnya kemudian berkata pada Khay,

“Kalau begitu kita ke kantin bersama karena gue juga lapar banget nih,” jawab Barra seraya mengerdipkan satu matanya pada Khay. Barra melirik Dilan yang kini melihatnya semakin tajam dan juga menusuk, Barra bukannya takut, tetapi lelaki itu justru sangat senang sekali melihat pemandangan seperti ini.

“Barra, kamu kelilipan,” ledek Khay yang langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain. Kedua pipi Khay bersemu merah ketika melihat tingkah Barra yang menurutnya begitu lucu.

Khay nggak perduli dengan tatapan mata setiap perempuan padanya, karena yang terpenting ia tak mengganggu mereka semua, jadi abaikan saja. Khay menatap sekilas ke arah Dilan, kembali melihat Barra yang kini tersenyum padanya.

“Khay, kenapa kedua pipi kamu merona merah begitu, menggemaskan banget deh,” kata Barra dengan sengaja ketika mereka melangkah di samping Dilan. “Ada sesuatu nih di pipi kamu.” Setelah bicara Barra langsung memegang pipi Khay kemudian mengusapnya lembut.

Dilan yang melihat akan hal itu langsung mengertakkan giginya seakan lelaki ini siap mengoyak tubuh Barra menjadi serpihan-serpihan kecil. Dilan melihat Khay yang langsung menepis pelan tangan Barra.

“Kecantikan yang begitu natural,” puji Malik ketika melihat senyuman Khay yang begitu manis sekali.

“Lo kalau milih perempuan jangan selera yang tinggi begitu nyet, nanti patah hati,” kata Galih sembari menyiku pelan lengan tangan Malik seakan mencoba menyadarkan sahabatnya itu.

“Dilan, lo nggak kepingin gitu pacaran dengan cewek secantik itu?” tanya Malik sembari melirik Dilan yang hanya memberikan tangapan air muka datar tanpa mengeluarkan suara.

“Lah si Cantika sudah deketin Dilan selama 3 tahun saja nggak bisa nyentuh hati si babang,” jawab Galih pada Malik. Galih mulai melirik Dilan dengan tatapan penuh selidik kemudian berkata, “Dilan, lo masih doyan betina kan dan bukan jantan?” tanya Galih dengan wajah yang nampak serius dan dengan bodohnya kini Galih mulai menjaga jarak dengan Dilan seakan takut jika ternyata temannya itu menyukai pisang dan bukannya jeruk.

“Astaga! Benarkan jika pangeran sekolah ini malah suka pisang dari pada jeruk?” tanya Malik dengan bodohnya. Aduh si Malikin ini kalau ngomong memang ngak ngotak bangat sih, nih mulut kayak nggak ada filternya deh.

Dilan melihat datar kedua sahabat bodohnya ini. “Dari sekian banyak lelaki normal di dalam sekolah ini kenapa gue harus milih lo pada jadi sahabat,” kata Dilan sembari menaruh kedua tangannya tersilang di dada.

Tatapan Dilan mengarah pada Khay yang melangkah hendak melewatinya. Khay yang seharusnya berjalan di dekat Dilan langsung menarik lengan tangan Barra dan meminta lelaki itu yang mengantikan tempatnya. Jadi kini Khay tak berjalan di dekat Dilan yang sedang menyandarkan punggungnya di dinding depan ruangan kelasnya.

“Benci banget aku ketika melihat sorot mata datar itu, dia selalu melihat siapapun dengan tatapan intimidasi yang begitu menakutkan sekali,” batin Khay dengan menundukkan kepalanya.

Cantika berjalan di belakang Khay dan juga Barra, dengan sengaja ia menyengol Khay hingga membuat perempuan itu hampir saja tersungkur ke depan kalau saja Barra tak memeluk pingang Khay dan mengamankan gadis cantik ini dalam dekapan hangatnya.

Semua siswa yang ada di lorong sekolah ini langsung heboh sekali ketika melihat semua itu. Bahkan ada juga yang langsung mengabadikan potret itu melalui ponsel mereka masing-masing, dengan iseng mereka menulis jika Barra-salah satu pangeran sekolah telah menemukan tambatan hatinya. Rumor itu pun langsung beredar ke seluruh sekolah hingga membuat Fan Barra nampak terkejut dan murka.

“Astaga, itu benarkan tadi Barra sempat ngecup pipi si cantik?” tanya Malik pada Galih. Dilan mendengar akan hal itu, wajahnya semakin memerah karena marah.

“Lo jangan asal bicara nyet, nanti malah bikin gosip yang nggak bener,” tegur Galih yang memang masih bisa berpikir waras dan masih bisa memfilter ucapannya.

“Maaf, gue nggak sengaja,” kata Cantika. Cantika melirik Dilan yang melihat Barra dengan tatapan tajam. Cantika cemburu melihat cara Dilan memperhatikan setiap gerak-gerik anak baru ini.

“Khay, lo nggak pa-pa kan?” tanya Barra sembari membantu Khay berdiri dengan tegap lagi.

“Sa-saya baik-baik saja,” jawab Khay dengan membenarkan bajunya. Khay nggak sadar jika kancing bajunya terbuka satu dan membuat Dilan merasa murka.

“Dasar bodoh,” gumam Dilan lirih namun, Malik dan juga Galih yang masih ada di sampingnya pun masih bisa mendengarnya dengan begitu jelas sekali.

Dilan langsung melangkah mendekati Khay kemudian berdiri di hadapan perempuan itu. Tatapan mata Dilan dan juga Barra saling beradu satu sama lain, hingga membuat semua orang yang kini melihat pemandangan ini pun tak berkedip ataupun beranjak dari posisi masing-masing.

Khay bingung kenapa Dilan tiba-tiba berdiri di hadapannya sekarang, Khay hendak melangkah pergi namun tangan Dilan langsung mengenggam pergelangan tangannya dan detik itu juga Dilan memutar tubuh hingga membuat Khay dan juga Dilan saling berhadapan.

“Lepasin aku,” kata Khay. Khay sempat melihat ke sekitarnya dan kini semua orang sedang memperhatikan mereka berdua.

“Benerin kancing baju lo.” Suara Dilan terdengar begitu marah sekali hingga membuat Khay ketakutan dan tak bisa menjawab. “Lakukan sekarang atau gue bantu!” ancam Dilan.

Terpopuler

Comments

Hilman damara

Hilman damara

lanjutkan kak dan tetap semangat oke

2023-04-17

1

@Kevin Ferdianto A.S

@Kevin Ferdianto A.S

kasian nya dilan ko khay ga peka² yha ?

2023-04-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!