Memperhatikan Dalam Bungkam

Galih dan juga Malik langsung berjoget ria ketika melihat Pak Guru baru saja keluar dari kelas ini setelah bel istirahat berbunyi. Sebagian murid langsung berhamburan keluar dari kelas menyerbu kantin Mak Yanti yang memang selalu di minati oleh semua murid di sekolah ini.

“Bila ku pandang si cantik yang ada di sana, cantiknya menyamai bidadari surga ... asolele ... jos,” teriak Malik sembari melihat ke arah pintu. Malik menyanyi ketika melihat Khay melangkah di samping Barra. Dan entah mengapa lidahnya langsung pengen berdendang ria.

“Kampret, lo jangan bikin malu dong. Bisa nggak lakuin hobi gila lo itu jangan pas ada di sekolah,” umpat Galih sembari mengeplak kepala sahabatnya itu karena geram. Semua murid perempuan yang ada di kelas ini langsung memutar bola mata jengah melihat sikap Malik yang memang hobi jadi penyanyi gadungan di kelas.

Dilan yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa memijat pelipis yang terasa pusing sekarang. Dan entah mengapa ia bisa awet berteman dengan dua kutu sekolah ini, mungkin saja karena keduanya tak merasa terganggu dengan sikap Dilan yang pendiam dan juga jarang sekali berbicara. Atensi Dilan langsung teralihkan ketika mendengar Malik bicara.

“Lidah gue langsung pengen nyanyi Nyet ketika melihat si cantik Khay baru saja lewat sama si Barra api,” cerita malik pada Galih.

“Eh mana … gue mau lihat anjir tu cewek cakep banget pengen gue jadikan pacar pertama gue,” ujar Galih malah alemong sendiri ketika mendengarkan nama Khay disebut oleh Malik.

“Dasar sampah! Lo tadi maki-maki gue, lah sekarang malah langsung keluar kelas lihat si cantik,” umpat Malik geram ketika melihat Galih berdiri di depan kelas ini sembari melihat ke arah Khay yang sudah berjalan menjauh.

Dilan melihat lurus ke depan dan ada Cantika bersama dengan Anita masuk ke dalam ruangan ini. Anita langsung berhenti di samping Malik kemudian keduanya mengobrol hal yang nggak penting tentunya. Dan bisa dibilang jika Malik dan juga Anita ada kecocokan sebab mereka berdua sama-sama somplak. Ibaratkan Malik suka nyanyi maka Anita suka goyang.

Cantika tersenyum ke arah Dilan kemudian langsung membuka suara, “Dilan, ke kantin yok, Cantika laper nih,” ajak Cantika pada Dilan seraya tersenyum semanis mungkin supaya bisa merayu Dilan agar ikut ke kantin bersama dengannya.

“Malik … malik, ada kresek nggak?” tanya Galih setelah menyerbu masuk kembali ke dalam ruangan kelas ini.

“Buat apa?” tanya Malik sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Gue pengen muntah nih,” sahut Galih. Entah mengapa ia merasa mual setiap kali melihat tingkah manis Cantika yang begitu terkesan dibuat-buat. Cewek kok nggak ada harga dirinya ngejar cowok mulu, mana yang di kejar tipe cowok sedingin kulkas lagi.

“Ayo.” Setelah bicara Dilan langsung beranjak berdiri dan berjalan keluar dari kelas ini.

Cantika yang melihat akan hal itu langsung mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sebab ia takut salah lihat. Biasanya Dilan akan ke kantin setelah ia paksa sebab lelaki itu suka membawa roti dan juga air mineral di tasnya jadi memang nggak pernah suka jalan ke kantin dan hanya sesekali saja sebab Dilan sebenarnya begitu risih jika di perhatikan oleh banyak siswi sekolah ini.

“Si anjir, ketempelan makhluk astral kali itu si Dilan kok bisa langsung mau gitu aja di ajak si Cantika,” kata Malik heran.

“Kayaknya si Cantika habis dari dukun itu semalam, mangkannya Dilan nggak bisa nolak,” sahut Galih semakin asal bicara.

Anita yang masih ada di samping kedua lelaki itu langsung mengebrak meja dengan keras dan berlalu pergi begitu saja. Ia nggak terima melihat kedua sahabat itu mengatakan hal buruk tentang Cantika.

“Si anjir hampir aja nih jantung copot,” keluh Galih ketika melihat sikap kasar Anita barusan.

“Dia bisa galak juga, makin cantik,” ujar Malik yang malah terpesona dengan sikap kasar Anita.

“Emang bener-bener otak lo dah rusak Nyet,” maki Galih pada Malik.

Kantin Mak Yanti.

Semua murid yang ada di kantin lebih dahulu langsung melihat ke arah Barra dan juga Khay yang baru saja melangkah masuk ke dalam kantin ini. Para murid perempuan melihat tajam ke arah Khay sebab mereka suda mati-matian mencoba untuk mencuri perhatian Barra dan tak pernah di gubris sedikitpun, tapi anak yang baru masuk ke sekolah ini malah langsung bisa begitu saja mendapatkan perhatian Barra dengan sangat mudah sekali.

Khay mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat ini dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat pemandangan horor saat semua murid menatapnya. Khay bisa menebak jika para lelaki melihatnya dengan penuh damba sedangkan para perempuan melihatnya bagaikan dirinya ini adalah musuh bebuyutan yang harus segera di musnahkan. Ngeri sekali.

“Khay kita duduk di sana saja,” ajak Barra. Ucapan itu mampu membuat atensi Khay teralihkan dan melihat ke arah yang Barra tunjuk.

“Ya, lebih baik duduk di sana saja, aku lebih suka duduk di pojokan agar tak menjadi pusat perhatian,” jawab Khay. “Eh … aku belum pesan makan tapi,” sambung Khay lagi.

“Lo pingin makan apa?” tanya Barra pada Khay.

Khay melihat ke arah daftar menu yang tertulis di atas jualan Mak Yanti kemudian menjawab, “Bakso dengan banyak sayur dan juga es jeruk,” jawab Khay.

“Baiklah, kamu duduk saja di sana lebih dahulu nanti takut ada yang tempati,” pinta Barra dan langsung dijawab anggukkan kepala oleh Khay.

Barra meminta seorang murid lelaki untuk memesankan pesanannya dan juga Khay kemudian Barra melangkah mendekati Khay dan duduk di hadapan perempuan cantik itu. Khay duduk di dekat dinding sedangkan Barra duduk di hadapannya.

“Loh mana pesanannya? Apa perlu saya ambil saja?” tanya Khay ketika melihat Barra tak membawa pesanan mereka.

“Nanti ada yang akan antar sendiri, santai saja,” sahut Barra.

“Ya, ampun itu pangeran Dilan baru saja memasuki kantin,” ujar salah satu murid perempuan dan semua perempuan yang ada di dalam ruangan ini langsung heboh sendiri.

“Ini Barra makanan pesanan lo,” kata seseorang lelaki kemudian menaruh dua mangkuk bakso dan juga dua gelas es jeruk di hadapan Barra dan juga Khay.

“Makasih,” jawab Khay ramah dan tersenyum manis.

Di tempat lain.

Dilan baru saja masuk ke dalam kantin ini dan pandangannya langsung tertuju pada seorang gadis yang kini sedang tersenyum ramah pada pemuda lain. Dilan menggertakkan giginya dengan tatapan menajam, apa lagi ketika ia melihat jika kini Barra sedang menyelipkan beberapa sulut anak rambut Khay kebelakang telinga.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!