Dukungan Mama Mertua

Khay melangkah masuk ke dalam ruangan kamarnya, Khay berpura-pura lupa jika ia sekarang sudah pindah ke dalam ruangan kamar Dilan. Khay melemparkan tasnya begitu saja ke atas sofa dan tanpa melepaskan sepatu sekolahnya, Khay langsung melemparkan tubuhnya terlentang ke atas ranjang. Tangan Khay sibuk mengotak-atik ponselnya, hari ini ia merasa senang sekali karena bisa memiliki teman sebaik Barra, tapi Khay berharap semoga ia memiliki teman perempuan agar bisa di ajak ngobrol.

Ketika Khay sedang sibuk berkutat dengan semua pemikirannya itu. ia begitu terkejut sekali ketika melihat Dilan nyelonong masuk ke dalam ruangan ini dan lelaki itu mengunci pintu kamar. Khay hendak bangkit dari posisi tidurnya namun, semua terlabat sebab Dilan sekarang sudah ada di bagian atas tubuhnya. Lelaki itu mengunakan kedua tangannya sebagai penyangah agar tubuhnya tak menyentuh Khay untuk saat ini.

Jantung Khay berdetak dengan begitu kencang sekali ketika melihat sorot mata Dilan sekarang. Lelaki itu menatapnya dengan begitu tajam! Sorot mata itu bagaikan pisau yang siap mencabik tubuhnya kapan saja. Nafas hangat Dilan membuat jantung Khay berdetak tak karuan hingga membuat kedua pipinya memanas sekarang sebab sebelumnya Khay tak pernah sedekat ini dengan Dilan.

“Siapa yang nyuruh lo jabat tangan lelaki lain.” Sembur Dilan dengan sorot mata tajamnya. Sorot mata itu melihat kearah Khay tanpa berkedip sama sekali. Begitu menakutkan.

“Kapan?” tanya Khay kemudian ia mengerti maksud Dilan barusan. “saya hanya melakukan hal yang wajar saja,” jawab Khay memberikan alasan. “Lagi pula dia baik,” sambung Khay lagi.

Dilan melihat ke arah Khay semakin tajam sampai deru nafas lelaki itu naik turun hingga membuat hidungnya kembang-kempis. “Sekali lagi gue lihat loh jabat tangan lelaki lain awas saja,” kecam Dilan yang langsung mengutarakan ketidak sukaannya itu.

“Kamu aja dekat-dekat sama perempuan lain saya nggak ngelarang dan juga nggak ada masalah, jadi kita impas,” protes Khay pada Dilan. Khay nggak akan mau di tindas oleh Dilan terus menerus, perempuan itu nggak selemah dan juga senaif itu, Dilan.

“Dia itu teman gue dan jangan disamakan,” jelas Dilan sembari menjatuhkan tubuhnya di atas Khay dan kini kedua tangan Dilan langsung memegangi tangan Khay ke atas kepala.

“Dilan, apa yang kamu lakukan, lepaskan saya,” gerutu Khay yang mulai ketakutan dan juga merasa tidak nyaman ada di posisi ini sebab Dilan bisa saja melakukan hal apapun padanya, lebih lagi kedua kakinya juga sudah diamankan oleh Dilan hingga ia tak bisa menendang lelaki ini sekarang.

“Lo itu istri gue, jadi turutin gue jika nggak mau jadi istri yang durhaka.” Dilan melihat ke arah pipi Khay yang tadi sempat terkena tangan Barra ketika lelaki itu modus menyibakkan anak sulur rambut istrinya kebelakang telinga. “Dia tadi nyentuh lo di sini.” Setelah bicara Dilan langsung mencium pipi Khay kemudian ciuman itu merambat hingga ke telinga Khay.

Aroma tubuh Khay begitu wangi sekali hingga membuat Dilan betah berlama-lama ada di dekat Khay sekarang. Dilan terus mengecup pipi Khay dan sesekali mengusap telinga Khay mengunakan jemari tangannya dengan gerakan yang begitu lembut sekali.

Merinding dan juga geli, ya itulah dua kata yang sekarang bisa mengambarkan situasi yang Khay hadapi sekarang. Khay tak tahu kenapa Dilan melakukan hal ini padanya, lelaki itu menatapnya dengan begitu tajam sekali tetapi ia memperlakukannya dengan begitu lembut ketika mengecup pipi Khay.

“Dilan, lepasin aku … lepasin,” teriak Khay sembari terus mengerakkan tubuhnya.

“Lain kali jangan jadi perempuan murahan dengan mau begitu saja di sentuh oleh lelaki lain.” Setelah mengucapkan kata menyakitkan itu Dilan langsung beranjak berdiri kemudian meninggalkan Khay begitu saja.

Khay mulai merasakan nyeri di bagian dadanya, rasa nyeri itu menjalar naik ke tenggorokan lalu merambat ke hidung dan juga matanya hingga netra itu memanas seketika kemudian mulai memproduksi bening yang menetes dari sudut matanya. Khay mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan ini, ruangan kamar yang terlihat begitu sunyi sekali.

“Khay rindu Papa, jika saja Papa tidak pergi meninggalkan Khay pasti tak akan ada satu orangpun yang mengatakan jika Khay perempuan murahan, memangnya Khay salah apa? Hingga Dilan bicara sekejam itu.” Bulir bening mulai menetes di pipi Khay dan ia merasakan begitu kesepian sekali. Andaikan saja Khay memiliki kerabat dekat maka sudah bisa di pastikan jika ia tak akan tinggal di rumah ini lebih lama lagi.

Ketukan pintu dari luar ruangan ini membuat Khay langsung mendudukkan tubuhnya dan kedua tangannya dengan begitu sigap langsung mengusap bening di kedua pipinya.

“Sayang, kamu sedang apa sekarang?” tanya Mama Aulia pada Khay. Khay tersenyum manis di hadapan perempuan itu, tetapi sesekali juga terisak. “hei … kamu nangis?” tanya Mama Aulia dengan nada suara yang terdengar begitu lembut sekali di telinga Khay.

Khay gagal menahan Kristal bening ini supaya tidak menetes lagi, perkataan lembut Mama mertuanya membuat Khay merasa bagaikan seperti seorang putri yang sedang di perhatikan oleh orang tua kandungnya sendiri.

“Khay rindu Papa,” kata Khay. Ia tak mungkin menceritakan jika dirinya sakit hati dengan perkataan Dilan yang menyebutnya ‘perempuan murahan’ tapi Khay juga tak sepenuhnya berbohong karena sekarang ia memang begitu merindukan kehadian Papanya.

Aulia langsung menarik Khay ke dalam pelukannya kemudian menyisir lembut rambut Khay menggunakan jemari tangannya. “Sayangku Mama begitu menyadari dan juga mengerti isi hati kamu, ini semua pasti tak akan mudah bagi Khay untuk melupakan Papa yang selama ini selalu menemani Khay di setiap saat, tapi Khay juga tak boleh bersedih terlalu lama.” Aulia memberikan pengertian dan juga nasehat untuk menantunya ini sebab bersedih terlalu lama juga kurang baik.

“Iya, Ma. Khay tahu itu,” jawab Khay. Perasaan Khay jauh lebih tenang ketika melihat sikap Mama mertuanya ini dan sekarang Khay merasa tidak sendirian di atas muka bumi ini.

“Sekarang ceritakan pada Mama tentang hari pertama kamu di sekolah tadi.” Aulia mencoba untuk mengalihkan kesedihan Khay dengan mengajaknya bercerita. “Apakah ada pemuda tampan yang mendekati kamu?” tanya Aulia. Pertanyaan ini lebih mirip seperti pertanyaan ibu kandung ke anak kandungnya dan bukan sewajarnya seperti pertanyaan ibu mertua kepada menantunya.

“Ada seorang pemuda bernama Barra, dan ia begitu baik banget pada Khay. Dia bahkan membayar makanan Khay ketika di kantin dan semua murid perempuan sepertinya tak suka jika Khay dekat dengan Barra,” cerita Khay dengan sangat antusias sekali. Kesedihan Khay melebur entah kemana ketika ia menceritakan hari barunya di sekolah.

“Perlakukan orang yang baik pada kamu jauh lebih baik lagi dan jika ada orang yang membenci kamu jangan mau di tindas sebab Mama tak ingin membuat kamu terluka karena yang terpenting kamu tak memulai permusuhan terlebih dahulu,” kata Aulia menasehati Khay. “Apakah perempuan yang kemarin dekat dengan Dilan masih sama mendekatinya?” tanya Mama Aulia penasaran.

“Masih Ma,” jawab Khay.

“Kalau begitu balas dia. Mama nggak setuju melihat anak bodoh itu mengabaikan kamu.” Khay langsung melongo ketika mendengarkan ucapan mertuanya barusan. Kok ada mertua yang malah meminta menantunya untuk ngasih pelajaran pada putranya sendiri. Khay balas aja tu si monter kejam-Dilan.

Terpopuler

Comments

Hilman damara

Hilman damara

lanjutkan dan tetap semangat

2023-04-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!