Netra Dilan mengamati sekitarnya dan ia bisa melihat jika kini semua orang yang ada di kantin sedang memperhatikan Khay. Telinga Dilan mendengar dengan begitu jelas jika para pemuda memuji kecantikan Khay yang nampak natural sekali serta perempuan itu juga memiliki senyuman yang begitu manis hingga membuat para pemuda mulai mengincarnya.
Khay yang sedang sibuk melahap bakso didalam mangkuknya tak memperhatikan ke sekitar karena ia tak perduli dengan orang-orang yang tak ia kenali namun, Khay mulai mengangkat pandangannya setelah ia mendengar seorang perempuan menyebutkan nama Dilan. Ya, ternyata ini memang Dilan suaminya dan pemuda itu melewati meja yang ia duduki begitu saja dengan menatap lurus ke depan, astaga baru saja menikah tapi ternyata di sekolah pemuda itu sudah bersama dengan perempuan lain. Miris sekali.
Mama Aulia hendak beranjak berdiri dari posisi duduknya namun, Khay melarangnya dengan memegangi tangan sang mertua. Khay tahu jika Mama Aulia pasti akan menegur Dilan sebab mengabaikannya begitu saja.
“Ma, kita lekas selesaikan makan kemudian pulang, Khay tidak nyaman di lihatin oleh banyak orang,” ujar Khay berbohong. Khay melirik sekilas ke arah Dilan yang sedang sibuk melahap nasi soto di mangkuknya dan terlihat ada seorang perempuan cantik yang selalu menempel dengan suaminya itu. Khay kembali melihat ke arah Mama Aulia dengan tersenyum manis. Khay masih mencintai kekasihnya dan karena itu ia tak memiliki perasaan apapun pada Dilan.
“Anak, itu memang keterlaluan sekali, lihat saja nanti kalau sampai rumah pasti akan Mama marahi habis-habisan,” ancam Aulia sembari menggenggam erat gelas es teh yang ada di hadapannya seakan perempuan paruh baya ini hendak meremukkan tulang belulang sang putra.
“Ma, apakah selama ini Mama nggak pernah datang ke sekolah ini sehingga tak ada satu murid pun yang mengenali Mama?” tanya Khay mencoba untuk mengalihkan atensi Mama mertuanya sekarang dan itu berhasil. Alhamdulillah.
“Mama memang tak pernah datang kemari, paling tepatnya anak itu yang melarangnya,” ujar Aulia yang merasa enggan menyebutkan nama Dilan. Namun Khay paham dengan maksud Aulia barusan. “Khay, Mama nggak pernah lihat kamu pakai ponsel, apakah ponsel kamu rusak?” tanya Mama Aulia pada Khay. Selama beberapa hari tak sekalipun Aulia melihat Khay memegang ponsel ketika ada di rumah hal itu membuatnya penasaran.
“Ponsel Khay sepertinya jatuh ketika pingsan di halte waktu itu,” jawab Khay dengan tersenyum manis. Tapi hal itu lebih baik sebab semua teman-teman dan juga orang terdekat Khay justru menjauhinya lalu untuk apa ia memegang ponsel malah akan membuat Khay sudah melupakan hari kelam dan juga penuh penghinaan itu. Tak mudah melupakan hal menyedihkan begitu disaat kita membutuhkan seorang teman, tetapi semuanya menjauh bahkan Khay langsung di usir paksa keluar dari rumahnya tanpa membawa apapun. Miris sekali.
Ketika banyak uang dan memiliki kedudukan maka semua orang akan menganggap kita sebagai teman, tetapi ketika jabatan dan juga semua fasilitas kemewahan itu lenyap, maka semuanya juga ikut lenyap bersama dengannya. Ya, begitulah kehidupan hanya orang-orang yang benar-benar berhati tulus saja yang akan bertahan. Tapi sayangnya semua orang menghindari Khay waktu itu.
***
Khay sedang duduk di sofa sembari memainkan ponsel barunya. Ya, sebelum pulang ke rumah ternyata sang mertua mengajaknya untuk berjalan-jalan di mall dan tidak disangka Mama Aulia membelikan make up, baju dan juga ponsel baru untuk Khay. Khay sudah mencoba untuk menolak pemberian dari Mama Aulia namun, perempuan paruh baya itu terus memaksanya hingga Khay pun pasrah saja jika harus pulang dengan membawa begitu banyak barang.
Sejujurnya Khay merasa begitu malu sekali karena sejak ia tinggal di rumah ini, dirinya sudah merepotkan semua orang namun, keluarga ini memperlakukannya dengan sangat baik sekali hingga membuat luka menyedihkan di hatinya mulai terkikis perlahan.
Pintu ruangan kamar ini terbuka dan membuat Khay mengangkat pandangannya sekilas kemudian setelah ia melihat Dilan, perempuan itu kembali memfokuskan pandangan ke arah ponselnya.
“Ambilkan gue makanan, gue laper!” perintah Dilan sembari melemparkan tas sekolahnya ke samping tempat duduk Khay.
“Kenapa tadi sebelum naik nggak langsung ke dapur?” tanya Khay pada Dilan dengan bersunggut emosi. Khay mulai kembali cerewet seperti sebelumnya dan itu menandakan jika kondisi psikisnya mulai membaik seiring dengan berjalannya waktu.
Dilan menghentikan langkahnya kemudian melirik ke arah Khay tajam. “Lo mulai cerewet ya sekarang, sudah sana ambilin gue makan, itung-itung lo sedang menjalankan tugas dari suami nanti dapat banyak pahala,” dalih Dilan menyebut banyak pahala agar sang istri tak membantah lagi.
“Sok-sokan jadi suami, lah ngasih duwit aja nggak pernah.” Usai bicara Khay langsung nyelonong pergi begitu saja.
“Lo bilang apa barusan? Khay balik sini,” teriak Dilan setelah melihat pintu tertutup namun, sang empunya nggak perduli dan meninggalkannya begitu saja.
Kini Khay melangkah kembali masuk ke dalam ruangan ini dengan tangan yang membawa nampan berisikan satu piring makanan dan juga satu gelas air putih. Khay menaruh nampan itu di atas meja kemudian menyambar ponselnya yang ada di atas meja yang sama tanpa melihat ke arah Dilan sedikitpun.
Dilan menatap Khay tajam kemudian berkata, “Gitu aja?” tanya Dilan ambigu.
Khay yang hendak melangkah segera berbalik arah melihat Dilan kemudian berucap, “Apakah harus saya suapi kamu,” ketus Khay yang merasa geram dengan sikap Dilan sekarang. Tadi aja ketika ada di sekolah pemuda ini berlagak cuek dan juga bermesraan dengan perempuan lain, tetapi sekarang ketika ada di rumah sikapnya berubah menyebalkan begini. Khay nggak ngerti dengan perubahan sikap Dilan yang seakan bertolak belakang dari apa yang ia lihat di sekolah tadi.
“Baiklah kalau lo maksa,” kata Dilan santai sembari meminta Khay duduk di sampingnya dengan isyarat mata.
“Ngapain minta suapi saya, minta suami sama pacar kamu saja besok kalau di sekolah,” jawab Khay santai kemudian hendak melangkah pergi, tapi lagi dan lagi ucapan sang manusia datar membuat langkahnya terhenti.
“Pergi aja nanti lo bakal kena azab karena mengabaikan suami yang sedang kelaparan.” Sumpah demi apapun nih orang bisa bangat membuat orang tunduk pada perintahnya.
“Kenapa bawa-bawa suami sih, lah kasih nafkah istri aja nggak bisa,” celoteh Khay sembari melangkah menghampiri Dilan kemudian mendaratkan kasar tubuhnya di sofa yang sama dengan sang suami.
“Nanti malam gue kasih nafkah batin dulu.” Dilan bicara sembari membuka mulutnya. Khay langsung memasukkan kasar satu sendok nasi yang telah ia campur banyak cabai tanpa sepengetahuan suaminya. Hahah pedes-pedes dah itu mulut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Hilman damara
duh kehy kamu tuh crewet boleh tapi jangan jadi pembangkang dong gimana kamu narik perhatian dilan kalau begini... lanjutkan kak dan tetap semangat oke
2023-04-14
1