“Lepasin tangan saya, saya nggak mau satu kamar dengan kamu,” pinta Khay seraya mencoba untuk melepaskan genggaman tangan pemuda ini darinya namun, gagal sebab tenaga Dilan begitu besar hingga membuat tenaga Khay seakan tak berguna sekarang.
“Diam! Mama dan juga Papa sedang menatap kita sekarang, apakah lo mau membuat Mama sedih ketika ia tahu jika menantunya malah menolak permintaan darinya,” jelas Dilan pada Khay. Khay pun tak berontak lagi setelah ia bisa mencerna apa yang barusan Dilan katakan padanya.
“Tapi saya nggak bisa satu kamar dengan lelaki lain,” ujar Khay setelah ia masuk ke dalam ruangan kamar suaminya. Walaupun baru beberapa jam menikah, tapi mereka sudah bisa disebut pasangan suami-istri kan?
Khay mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan kamar ini. Ruangan kamar ini bercat putih dengan perabotan berwarna hitam serta ada dua meja belajar di salah satu sudut kamar. Khay beralih melihat ke arah dua lemari baju yang bertengger di pojokan dan entah mengapa ia merasa tidak asing dengan lemari baju ini, ya ini adalah lemari baju yang sebelumnya ada di dalam ruangan kamarnya dan Khay hafal betul akan hal itu.
“Sejak kapan lemari itu pindak ke sini?” tanya Khay pada suaminya.
“Sejak kamu turun,” jawab Dilan santai sembari membuka kemeja yang baru saja ia kenakan untuk akat nikah.
Khay mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian mulai melihat ke arah Dilan. Kedua bola mata Khay seakan hendak keluar dari kodratnya ketika ia melihat jika suaminya hendak membuka kemeja yang ia kenakan sekarang. Khay langsung menjerit dan hal itu membuat Dilan kaget sekali hingga langsung berlari menghampiri Khay kemudian langsung menutup mulut perempuan itu mengunakan tangannya.
“Ngapain lo berteriak seperti itu! Nanti jika ada yang dengar mereka akan mengira kalau gue itu mukul lo,” ketus Dilan seraya mengamati wajah Khay yang nampak pucat seakan istrinya ini sedang ketakutan sekarang. “Gue lepasin nih tangan, jangan teriak,” ujar Dilan dan langsung di jawab anggukkan kepala oleh Khay.
“Ngapain kamu lepas baju?” tanya Khay seraya membuang pandangannya ke arah lain. Demi apapun sekarang berguru banyak pemikiran kotor yang berterbangan di kepala Khay.
“Ini kamar gue, jadi suka-suka gue lah,” jawab Dilan santai. Dilan melihat ke arah Khay yang seakan enggan untuk menatapnya sekarang.
“Tapi di dalam ruangan kamar ini, itu ada saya,” ujar Khay protes dengan apa yang baru saja Dilan lakukan di hadapannya. Ini bisa menodai mata suci Khay.
“Lo itu istri gue, jadi wajar lah gue ganti baju depan lo, lah mau ngapa-ngapain juga dah halal sebab sudah sah secara hukum dan juga agama seperti apa yang Mama katakan tadi,” ujar Dilan mengulangi apa yang tadi Mamanya itu katakan.
“Awas aja kalau berani nyentuh saya,” ancam Khay sembari menatap ke arah Dilan mengunakan ekor matanya.
“Jangan kepedean deh, gue itu mau nikah sama loh hanya untuk menyenangkan hati Mama dan juga Papa saja, nggak lebih dari itu,” jelas Dilan pada Khay kemudian lelaki itu hendak melangkah menuju ke kamar mandi namun, ucapan Khay menghentikannya.
“Mau kemana kamu?” tanya Khay.
“Mau ganti baju di kamar mandi, kenapa mau ikut?” tanya Dilan dengan begitu santainya.
“Dasar mesum,” umpat Khay sembari menggedikkan kedua bahunya. Khay hendak melangkah keluar dari ruangan kamar ini tapi tiba-tiba Dilan menggenggam tangannya.
“Jangan coba-coba berpikir untuk kembali ke dalam ruangan kamar lo lagi! Mulai sekarang ruangan kamar lo itu di sini,” jelas Dilan pada Khay.
“Gue mau ambil baju,” ujar Khay berbohong.
“Semua baju-baju lo sudah ada di sana.” Dilan bicara seraya menunjuk ke lemari yang ada di sudut ruangan ini.
Sebenarnya Khay ingat betul jika semua bajunya sudah pindah ke dalam ruangan ini, tapi ia hanya ingin keluar saja dari ruangan kamar ini sebab merasa tidak nyaman karena hanya berdua saja di dalam ruangan yang tertutup hanya dengan seorang pemuda meskipun pemuda itu adalah suaminya.
“Kalau begitu gue ganti baju duluan,” ujar Khay kemudian melangkah cepat menuju ke lemari baju dan setelah mengambil satu set piyama tidurnya perempuan itu pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
***
Khay melihat jika kini Dilan sedang sibuk berkutat dengan buku pelajarannya. Khay tak berminat sedikitpun untuk membuka buku pelajarannya yang sudah ada di atas meja belajarnya, Khay kembali teringat jika malam harinya biasanya sang Papa akan datang ke kamarnya kemudian dengan penuh perhatian lelaki itu menanyakan tentang keseharian Khay di sekolah, tapi sekarang kehangatan dan juga kasih sayang itu seakan tidak nampak lagi hingga membuat Khay merasa begitu sedih dan juga semakin merasa kehilangan tanpa sadar air mata Khay mulai jatuh membasahi kedua pipinya sesaat setelah perempuan malang itu mendaratkan tubuhnya di sofa.
Dilan menutup buku pelajarannya setelah selesai mengerjakan tugas dari gurunya, pemuda itu baru menyadari jika terdengar suara isak-tangis di ruangan ini, Dilan tahu penyebabnya adalah sang istri.
“Astaga, ruangan kamar yang biasanya terlihat damai dan juga tentang kini mulai terlihat ramai dengan suara tawa,” ujar Dilan sembari menghempaskan tubuhnya di sofa yang sama dengan Khay.
Khay langsung mengusap bening yang tadi sudah membasahi kedua pipinya. “Apakah kamu itu tidak bisa mendengar jika aku sedang menangis sekarang dan bukan tertawa,” tutur Khay disela-sela isak tangisannya. Entah mengapa Khay merasa jika Dilan mencoba menghiburnya, tetapi ketika Khay melihat sorot mata tajam itu pemikiran Khay pun langsung melebur seketika. Khay sabar, ya.
“Ini sudah malam tidurlah!” perintah Dilan pada Khay tanpa beranjak berdiri dari posisi duduknya.
“Aku akan tidur, cepatlah beranjak berdiri sekarang,” sambung Khay yang tak ingin berdebat dengan pemuda tak berhati yang ada di sampingnya sekarang.
“Tidur di ranjang bersama denganku!” perintah Dilan dengan mata elangnya. Dilan benar-benar tak bisa berbicara dengan nada suara yang terdengar lembut dan tatapannya itu selalu membuat Khay seakan sedang terintimidasi sekarang.
“Kenapa saya harus tidur satu ranjang dengan kamu?” tanya Khay. Duduk satu sofa yang sama dengan lelaki bermata dingin ini saja sudah membuat Khay merasa sesak nafas apalagi harus tidur satu ranjang! Oh ... tidak.
Dilan mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Khay hingga membuat jarak diantara keduanya kini mulai terkikis sekarang.
“Lo itu adalah istri gue, jadi wajar lah jika kita tidur satu ranjang bersama apalagi ini malam pertama.” Dilan bicara dengan begitu santai sekali seakan itu bukanlah suatu hal yang besar baginya.
“Ap-apa yang kamu katakan?” tanya Khay dengan wajah nampak cengo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Hilman damara
lanjutkan thoorr seru nih dan tetap semangat oke
2023-04-11
1