Khay merasa kurang nyaman sekali sekarang karena ia tidur di satu ranjang yang sama dengan Dilan, ya meskipun sekarang pemuda ini adalah suaminya namun, tetap saja Khay merasa kurang nyaman. Khay merasakan jika ada lengan tangan yang menempel pada punggungnya dan hal itu sontak saja membuat Khay langsung membalikkan tubuhnya dan kini kedua netranya melihat ke arah Dilan yang sekarang sedang tidur dengan posisi menghadapnya.
Khay melihat ke arah wajah Dilan yang nampak begitu tampan sekali ketika ia menutup kedua matanya, tetapi detik berikutnya pemuda itu mulai membuka kedua kelopak matanya. Khay yang tadinya sedang mengagumi wajah tampan Dilan pun langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan kedua pipi yang sudah merona merah, entah mengapa berada di dekat Dilan itu membuat kesedihan Khay seakan berkurang dengan sendirinya. Padahal lelaki ini selalu saja bersikap dingin padanya namun, entah mengapa Khay merasakan kesedihannya mulai terkikis sedikit demi sedikit.
“Kenapa lo pandangi gue seperti itu?” tanya Dilan sembari mengunakan sikunya untuk menopang kepalanya sekarang. Dilan ingin melihat ekspresi Khay sekarang.
“Bisa nggak sih, kamu itu kalau tidur jangan dekat-dekat aku, nggak nyaman tahu,” ujar Khay jujur tanpa berani melihat ke arah Dilan sedikitpun.
“Gue itu kalau tidur nggak bisa di pinggir, nanti takut jatuh. Jadi gue itu kalau tidur suka di tengah,” ujar Dilan. “Kenapa kedua pipi lo merona merah seperti kepiting rebus saja! Apakah ac di dalam ruangan ini kurang dingin hingga kamu merasa gerah dan membuat kedua pipi kamu semakin merah begini.” Dilan dengan sengaja mengusap perlahan pipi Khay, hanya ingin mengecek saja berapa lembut pipi istrinya.
“Sudah cukup dingin ac nya. Dilan aku mau tidur sekarang dan aku harap kamu tidak menyingkirkan guling ini dari kita,” ujar Khay kemudian menaruh gulingnya diantara mereka berdua dan itu ia gunakan sebagai penghalang. Menurut Khay tapi menurut Dilan itu hanya guling yang bisa ia singkirkan kapan saja.
“Terserah, tapi nanti jika lo sendiri yang menyingkirkan guling itu maka jangan salahkan gue,” ujar Dilan santai.
“Gue nggak bakal ngelakuin hal bodoh seperti itu, karena kodrat buaya darat itu sudah melekat pada cowok sejak lama,” ujar Khay pada Dilan sembari membalikkan tubuhnya.
Di lantai bawah rumah ini.
“Pa, apakah menurut kamu Khay akan baik-baik saja jika tinggal satu kamar dengan Dilan?” tanya Aulia pada suaminya.
“Tentu saja Khay akan baik-baik saja sebab Dilan akan menjaganya,” jawab Jiro yang seakan begitu percaya penuh dengan sang putra semata wayang.
“Bagaimana jika Dilan malah memaksa Khay untuk ....” ucapan Aulia terhenti ketika Jiro menyela kata-katanya barusan.
“Ma, jangan pikirkan hal konyol seperti itu. Dilan nggak bakal memaksa Khay melakukan semuanya sebab Papa telah menasehati Dilan. Dan putra kita itu juga tahu jika Khay baru saja melalui masa-masa yang begitu sulit,” tegas Jiro pada sang istri. Jiro memang begitu percaya pada Dilan sebab sang putra telah berjanji padanya jika ia tak akan menyentuh Khay tanpa seizin dari perempuan itu sendiri. Jiro telah membuat Dilan berjanji padanya sesaat sebelum pernikahan di mulai.
Selang beberapa waktu kemudian.
Dilan mulai membuka matanya kemudian ia melihat ke arah Khay yang kini sudah tertidur dengan begitu lelap sekali. Dilan mengambil guling yang Khay gunakan sebagai pembatas kemudian membuangnya ke sisi samping Khay, lalu Dilan kembali tidur lagi. Dan selang beberapa waktu kemudian Khay memeluk tubuh Dilan sebab mengganggap pemuda itu adalah gulingnya.
“Astaga, perempuan ini memeluk gue dengan begitu erat sekali, tapi tadi dia sok-sokan berkata jika nggak mau dekat dengan gue,” ujar Dilan yang merasa gemas sendiri ketika melihat tingkah Khay.
Sang rembulan mulai bersembunyi di balik awan ketika sang senja mulai naik ke tahtanya. Khay mengerjapkan kedua matanya kemudian ia merasakan jika gulingnya bertambah kekar mirip seperti dada seorang pemuda. Khay mulai membuka matanya lebar-lebar ketika ia mengetahui jika kini tangannya memeluk dada bidang Dilan dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Dilan sudah lebih dahulu membuka matanya dari pada Khay.
“Enak ya tidur sambil meluk guling hidup,” sindir Dilan dengan wajah tanpa dosanya.
Khay buru-buru mendudukkan tubuhnya kemudian berkata, “Kamu taruh di mana guling aku, Dilan?" tanya Khay dengan wajah yang sudah merah padam antara emosi dan juga malu bercampur menjadi satu. Bagaimana mungkin dirinya bisa terbangun dengan posisi yang memalukan seperti ini.
“Kenapa lo tanya gue, mana gue tahu dimana itu guling lo. Gue malah nggak bisa tidur karena mengetahui ada perempuan naif yang semalam bilang jika kita nggak boleh dekat-dekat dan pagi harinya malah meluk gue dengan begitu erat,” sindir Dilan pada Khay sembari menarik salah satu senyumannya. Entah apa arti dari senyuman itu Khay tidak tahu.
“Pasti kamu kan yang membuang guling aku,” tuduh Khay pada Dilan.
“Lihat saja itu guling ada di sana.” Dilan bicara sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah guling Khay yang sejak semalam memang sudah teronggok tak terpakai di lantai paling tepatnya di sisi samping ranjang Khay berada sekarang.
“Gue suka khilaf jika sedang tidur,” jawab Khay malu. Sungguh Khay mengutuk dirinya sendiri yang malah menyingkirkan guling yang ia buat sebagai pembatas semalam. Khay memang tidak ingat jika ia membuang gulingnya selamam, tapi minta maaf saja biar masalah lekas kelar. Pikirnya.
“Kenapa diam? Walaupun gue terganggu akan sikap lo yang diam-diam meluk gue saat sedan tidur, tapi gue juga ngerasa jika lo itu butuh nafkah batin terlebih dahulu deh,” ujar Dilan santai dengan wajahnya yang tanpa dosa itu.
Sumpah demi apapun Khay ingin mencakar wajah suaminya ini bisa-bisanya ia berpikir seperti itu ketika Khay sedang dalam masa berduka seperti sekarang.
“Dasar mesum! Nanti malam Khay nggak mau tidur satu ranjang lagi dengan Dilan. Khay mau tidur di kamar sebelah saja nanti,” ujar Khay seraya hendak beranjak berdiri dari atas ranjang namun Dilan langsung menarik tangannya hingga Khay kembali terduduk kembali.
Keduanya saling beradu pandang dalam diam hingga Khay menarik tangannya dari genggaman Dilan kemudian perempuan itu menatap galak ke arah sang suami. Tapi sialnya wajah Dilan nampak sangat tampan sekali ketika ia baru bangun tidur seperti ini. Sadar Khay, jangan tertipu dengan wajah tampannya itu.
“Berani lakuin itu, maka gue akan langsung minta jatah malam pertama.” Ancam Dilan pada Khay dan hal itu mampu membuat mulut Khay terkunci rapat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Hilman damara
Hem....key kamu udah mulai nyaman Ama dilan ya .... lanjutkan kak dan tetap semangat oke
2023-04-12
1
@Kevin Ferdianto A.S
masih setia mnunggy nih kak thor
2023-04-12
1