Flash Back

Dion seketika merasa terkejut saat mendengar suara keributan yang berasal dari kamar orang tuanya. Dia yang masih berusia 7 tahun berjalan mendekati kamar terebut dengan langkah kaki gontai. Kedua matanya nampak memerah, hatinya begitu terluka mendengar mereka bertengkar hebat hingga suaranya terdengar dari luar kamar dimana dirinya berada saat ini.

Prang!

Suara sesuatu yang pecah pun terdengar begitu nyaring. Dion terperanjat di buatnya. Dia pun berdiri tepat di depan pintu kamar dan mendengarkan dengan seksama apa yang mereka pertengkarkan di dalam sana.

"Pukul aku, Mas. Pukuuuul! Jika itu bisa membuat kamu puas!" teriak Veronika di dalam sana, suara isakan sang ibu pun membuat hati Dion semakin merasa kalut.

Plak!

Suara pukulan itu terdengar juga pada akhirnya. Apakah ayahnya benar-benar memukul sang ibu? Hati Dion semakin merasa terluka. Anak itu seketika berlinang air mata merasakan sesak di dada.

"Bagaimana bisa kamu tidur dengan laki-laki lain? Bagaimana bisa kamu mengkhianati kepercayaan Mas? Kurang apa Mas selama ini? Mas selalu memberikan apapun yang kamu inginkan, uang belanja yang besar, kendaraan yang kamu inginkan!" teriakan sang ayah, seketika membuat kedua kaki Dion terasa lemas. Apa maksud dari ucapan ayahnya tersebut? Anak berusia 7 tahun itu benar-benar tidak bisa mencerna topik pertengkaran mereka.

"Itu karena kamu selalu sibuk dengan urusan kamu sendiri. Kamu gak pernah memberi aku kepuasan. Kamu pikir dengan memberikan uang belanja yang besar, kemewahan juga kendaraan yang yang mahal bisa membuat aku bahagia? Tidak, Mas. Aku butuh perhatian dan kasih sayang. Aku juga butuh dipuaskan!"

"Jadi begitu? Silahkan pergi dari rumah ini kalau begitu, mari kita bercerai. Silahkan cari kepuasan kamu sama laki-laki lain!"

Dion semakin menjauhi pintu kamar. Tangisnya semakin lirih terdengar. Kedua orang tuanya akan bercerai? Apakah dia tidak salah dengar?

"Kak Dion? Sedang apa kakak di situ?" tiba-tiba saja terdengar suara Ryan sang adik.

Dion sontak menghampiri adiknya yang masih berusia 5 tahun itu. Dia pun menutup kedua telinga sang adik dengan kedua tangannya agar Ryan tidak mendengar pertengkaran yang semakin memanas di dalam kamar.

"Kamu sudah bangun? Kita ke depan yu," ajak Dion.

"Suara apa itu, kak?" Ryan sontak menurunkan kedua telapak tangan sang kakak.

"Bukan apa-apa, kita main di depan, Ryan," jawab Dion menarik kasar pergelangan tangan Ryan, anak itu berusaha menahan tangisannya.

Ceklek!

Bruk!

Suara pintu yang di buka kasar seketika mengejutkan mereka berdua. Arion nampak sedang menarik paksa pergelangan tangan ibu mereka kasar. Tentu saja hal tersebut membuat Ryan seketika menangis sesenggukan dan segera menghampiri ibundanya.

"Pergi kamu dari sini, dasar wanita tidak tahu diri," teriak Arion murka.

Plak!

Veronika menepis pergelangan tangan suaminya kasar. Dia pun mendaratkan tamparan di rahang suaminya keras. Arion semakin murka saja dan hendak membalas tamparan sang istri.

"Berani kamu, hah? Dasar--" Arion melayangkan tangannya di udara, tapi gerakan tangannya seketika terhenti saat Ryan tiba-tiba saja memeluk tubuh Veronika erat.

"Jangan, Dad. Jangan sakiti Mommy, aku mohon. Kalian kenapa sebenarnya? Hiks hiks hiks!" tangis Ryan seketika pecah.

Arion mengusap wajahnya kasar. Kenapa kedua putranya bisa menyaksikan pertengkaran hebat mereka. Dirinya pun menyesalkan hal itu sebenarnya, kenapa mereka bisa hilang kendali di depan sang putra.

Dia pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Arion mencoba menekan emosinya dalam-dalam tidak ingin hilang kendali yang akan menyakiti perasaan putra-putranya nanti.

"Lebih baik kamu pergi sekarang juga sebelum saya hilang kesabaran," pinta Arion menahan rasa sesak.

"Aku emang mau pergi dari sini, Mas. Makan tuh harta, setiap hari kamu hanya kerja, kerja dan kerja demi harta yang tidak akan bisa di bawa mati!" jawab Veronika.

Dia hendak pergi, tapi kepergiannya di tahan oleh kedua putranya tentu saja. Baik Dion maupun Ryan memeluk tubuh sang ibu erat tidak ingin di tinggalkan. Tangis keduanya pecah memekikkan telinga.

"Tidak, Mom. Jangan pergi, kalau Mommy mau pergi kami juga ikut, aku gak mau berpisah dengan Mommy!" rengek Dion memelas.

"Kamu apaan sih? Kamu di sini saja, jaga adik-adik kamu, Dion!" teriak Veronika tanpa perasaan.

"Tidak, aku gak mau. Pokoknya aku mau ikut, hiks hiks hiks!" tangis Dion semakin terdengar nyaring.

"Aku juga, Mom. Aku mau ikut sama Mommy, bawa aku Mom!" Ryan melakukan hal yang sama.

Veronika seketika berjongkok, dia mengusap kepala kedua putranya lembut dan penuh kasih sayang. Di tatapannya kedua putranya itu secara bergantian. Buliran air mata pun mengalir dengan begitu derasnya kini.

"Dion, Ryan. Dengarkan Mommy! Kalian tunggu Mommy di sini, Mommy janji akan segera menjemput kalian berdua. Mommy janji. Dion, jaga adik kamu dengan baik, paham?" tegas Veronika penuh penekanan.

"Tidak, Mom. Aku mau ikut! Dad, aku mohon jangan usir Mommy dari sini. Aku gak mau kalian bercerai, hiks hiks hiks!" Dion mengalihkan pandangan matanya kepada sang ayah, memohon dengan sangat.

Arion hanya bisa memalingkan wajahnya. Hatinya merasa pilu menyaksikan kedua putranya merengek dan menahan kepergian ibu mereka. Namun, dirinya tidak ada pilihan lain, istrinya itu telah berkhianat dan menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang suami.

Sementara itu, Veronika seketika bangkit. Dia pun benar-benar pergi meninggalkan kedua putranya tanpa perasaan. Suara tangisan kedua putranya itu bahkan dia abaikan.

Ryan dan Dion segera berlari mengejar untuk menahan kepergian sang ibu, tapi hal itu hanya membuat Veronika semakin mempercepat langkah kakinya.

"Mommy jangan pergi, aku mohon! Hiks hiks hiks!" teriak Ryan berlari sekuat yang dia bisa.

Hal yang sama pun dilakukan oleh Dion. Dia berlari di belakang Ryan sang adik, tangisnya terdengar menggelegar. Arion yang menyaksikan hal itu segera melakukan hal yang sama. Rasa kecewanya kepada sang istri semakin menjadi-jadi.

Bagaimana bisa Veronika mengabaikan teriakan kedua putra mereka? Benar-benar tidak punya perasaan. Rasa bencinya kepada wanita bernama Veronika itu pun semakin menjadi-jadi.

Bruk!

Tubuh Ryan tiba-tiba saja terjatuh tepat dihalaman rumahnya. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Veronika menghentikan langkah kakinya. Dion sang kakak segera berlari menghampiri lalu berjongkok memeriksa keadaan sang adik.

Tatapan mata anak berusia 7 tahun itu menatap tubuh sang ibu yang kini masuk ke dalam mobil, tanpa menoleh dan menghiraukan teriakan Ryan juga tangisan adiknya yang merasa kesakitan akibat luka di lututnya. Bukan hanya lututnya saja yang terluka, hati Ryan merasakan sakit yang tiada terkira pastinya.

"Kamu baik-baik saja, Ryan? Lutut kamu terluka," tanya Dion menahan tangisan di bibirnya.

"Mommy, kak! Mommy udah pergi! Aku ingin Mommy, aku ingin ikut sama Mommy, hiks hiks hiks!" teriak Ryan diiringi suara tangisan yang terdengar pilu.

Dion tidak mampu mengatakan apapun lagi. Dia memeluk tubuh Ryan erat. Tangis kakak beradik itu pun pecah tidak terbendung tatkala melihat mobil sang ibu benar-benar meninggalkan mereka tanpa perasaan.

Sampai akhirnya, Arion tiba di depan mereka berdua. Kedua tangannya nampak di rentangkan lebar memeluk kedua putranya mencoba untuk menenangkan. Buliran air mata pun membanjiri wajah seorang Arion Delana.

"Kalian jangan khawatir, masih ada Daddy. Daddy akan menjadi ayah sekaligus ibu kalian," lembut Arion hatinya benar-benar merasa hancur.

Flash back and.

BERSAMBUNG

...****************...

Terpopuler

Comments

Diana Susanti

Diana Susanti

ternyata sebabnya perselingkuhan,,,gara gara papa Arion kerja cari uang mommy Veronika selingkuh,,,,serba salah

2023-04-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!