Perjanjian

Ceklek!

Pintu kamar mandi di buka lebar. Vania keluar dari dalamnya dengan tubuh yang gemetar. Sepertinya memang tidak ada cara lagi untuk menghindar. Suaminya sangatlah gigih. Mau tidak mau dia akan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.

Sebagai wanita dewasa, dia paham betul bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya. Dia pun sadar betul bahwa tak ada gunanya menghindar, toh dia akan tetap melakukannya juga suatu saat. Dengan langkah kaki gontai Vania Clarisa pun berjalan mendekati ranjang.

Arion tentu saja tersenyum lebar merasa senang bukan kepalang. Akhirnya hari ini tiba. Hari dimana dia akan memuntahkan hasrat yang selama ini telah dia pendam. Memuntahkan gairah yang selama ini dia tahan. Dia akan memanjakan istrinya di atas ranjang dan akan membuat sang istri meminta dan memintanya lagi setelah merasakan nikmatnya surga dunia yang akan dia suguhkan.

"Are you ready, honey?" Tanya Arion, tatapan matanya nampak sayu menatap wajah Vania penuh nafsu.

"Aku siap, Mas. Tapi pelan-pelan. Jujur saja aku takut," jawab Vania dengan nada suara bergetar.

"Rasanya memang akan sakit, tapi Mas janji akan sepelan dan sehalus mungkin. Rasa sakitnya juga gak akan lama ko, di jamin deh."

Vania menganggukkan kepalanya. Dia pun perlahan naik ke atas ranjang. Tubuhnya benar-benar gemetar, keringat dingin nampak membasahi pelipis wajahnya kini.

"Kamu keringatan, honey. Bagaimana kalau kita pemanasan dulu."

Vania hanya menganggukkan kepalanya samar.

Arion mulai melancarkan aksinya, sentuhan demi sentuhan pun dia layangkan. Tubuh Vania yang semula terasa tegang mulai rileks seiringan dengan gairah yang mulai naik kepermukaan. Tubuhnya mulai terbiasa dengan permainan suaminya yang kian memabukkan dan menuntunnya untuk menginginkan sesuatu yang lain.

* * *

"Sakit, Mas!" ringis Vania merapatkan kedua kakinya.

"Kalau pertama kali memang seperti itu. Tapi, nanti kamu juga bakalan terbiasa ko," jawab Arion, jiwanya benar-benar terasa ringan setelah memuntahkan apa yang selama ini sudah dia tahan.

"Tapi kenapa rasanya sakit sekali, hiks hiks hiks!" tangis Vania seketika pecah dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

Arion yang sebenarnya tidak tega melihat istrinya menangis sampai seperti itu hanya bisa memeluknya erat. Salahnya karena terlalu terburu-buru. Salahnya juga karena mengabaikan teriakan istrinya yang memintanya untuk berhenti. Sebagai seorang duda yang sudah lama sendiri, tentu saja tidak akan mudah untuk menghentikan hasratnya begitu saja. Apalagi, istrinya itu benar-benar perawan. Rasa bangga terselip di dalam relung hati seorang Arion, begitu pun dengan rasa cintanya kepada sang istri yang telah mempersembahkan kesuciannya meskipun tidak dilandasi dengan cinta.

"Mas minta maaf, honey. Mas janji lain kali akan lebih hati-hati dan lebih lembut lagi," lirih Arion mengecup pucuk kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang.

"Gak ada lain kali, aku takut."

"Hah? Hahahaha! Sakit itu cuma pertama kalinya aja, honey. Kedua, ketiga dan seterusnya, rasanya akan nikmat."

"Gak, aku gak percaya!"

"Mau coba lagi."

"Nggak."

"Ayolah, Mas jamin rasanya gak akan sesakit tadi. Kalau Mas bohong kamu boleh minta apapun yang kamu mau."

"Beneran? Aku boleh minta apapun?" Vania mendongakkan kepalanya, menatap wajah Arion sang suami yang entah mengapa terlihat lebih tampan jika di lihat dari jarak dekat seperti ini.

"Tentu saja. Mas bukan seorang pembohong, tapi kalau ternyata rasanya enak seperti yang Mas katakan tadi, kamu harus selalu siap saat Mas minta kapan pun dimanapun, deal?"

"Minta apa?"

"Minta untuk dilayani 'lah, apa lagi?"

'Waaa! Bagaimana ini? Kalau ternyata rasanya enak seperti yang dikatakan oleh aki-aki ini gimana? Bisa gempor aku kalau harus melayani dia kapanpun dimanapun,' (batin Vania).

"Gimana? Ko malah bengong? Mau coba lagi?"

"Tapi, Mas--"

Belum sempat Vania meneruskan ucapannya, Arion tiba-tiba saja melancarkan aksinya. Tanpa basa-basi lagi, jemari tangannya bermain dengan begitu lincahnya. Alhasil, Vania benar-benar terbuai. Rasa sakit yang semula dia rasakan perlahan mulai menghilang. Suara ******* demi ******* pun lolos begitu saja dari bibirnya.

Vania Clarisa kalah telak. Dia benar-benar jatuh ke dalam permainan suaminya. Rasa sakit yang semula dia rasakan pun perlahan mulai tergantikan dengan sesuatu yang menggelitik sukmanya. Gelombang kenikmatan dia dapatkan secara bertubi-tubi hingga pelepasan demi pelepasan pun dia dapatkan secara berkali-kali. Begitupun dengan Arion sang suami, dia benar-benar merasa puas dengan malam pertamanya bersama sang istri.

Bruk!

Tubuh Arion terkulai lemas di samping raga Vania sang istri. Deruan napasnya nampak berhembus tidak beraturan. Jiwanya benar-benar terasa ringan. Pagi ini adalah pagi yang sangat luar biasa bagi seorang Arion.

"Bagaimana, enak bukan?" tanya Arion, membuat wajah Vania seketika memerah tentu saja.

"Hah? Eu ... Nggak ko, biasa aja," jawab Vania tentu saja dia berbohong.

"Hahahaha! Dasar pembohong, jelas-jelas kamu tadi mendesah, honey. Kamu bahkan berkali-kali melakukan pelepasan tadi. Masa iya rasanya biasa saja?"

"O ya? Ko aku lupa ya? Mas ... Aku mandi dulu ya." Vania hendak bangkit.

"Tunggu, honey. Bagaimana dengan perjanjian kita?"

"Perjanjian yang mana?" tanya Vania mendadak amnesia.

"Pokoknya, kamu harus siap melayani Mas, kapan pun dimana pun, oke?"

Glegek!

Vania seketika menelan ludahnya kasar. Melayani kapan pun di manapun? Gila, ini benar-benar gila. Apakah dia sanggup melakukan hal itu? Vania menganggukkan kepalanya meskipun bertentangan dengan isi hatinya yang paling dalam.

"Deal! Sekarang kamu boleh mandi. Apa perlu kita mandi bareng?"

"Hah? Gak udah, Mas. Aku mandi sendiri saja, hehehehe!" jawab Vania tersenyum cengengesan.

"Ya sudah, Mas turun duluan. Anak-anak mau sekolah, Mas tunggu di bawah ya."

Vania hanya tersenyum kecil.

* * *

30 menit kemudian.

Setelah selesai membersihkan diri. Vania Clarisa turun ke lantai dasar. Dia pun berjalan menuju ruang makan di mana suaminya menunggu dirinya saat ini. Rasanya canggung sekali harus berada di tengah-tengah ketiga anak tiri yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Terutama dia paling malas berhadapan dengan Dion yang merupakan putra sulung dari suaminya tersebut.

"Good morning, Mommy tiri," ujar Dion, meyambut kedatangan Vania dengan senyuman menyeringai tersungging dari kedua sisi bibirnya, terlihat begitu menyebalkan.

Vania hanya tersenyum datar. Dia pun menarik kursi dan hendak duduk di untuk menyantap makanan bersama keluarga barunya. Namun, hal mengejutkan pun tiba-tiba saja terjadi.

Byur!

Sultan, putra bungsu Arion tiba-tiba saja menyiramkan segelas air putih tepat di wajah Vania. Tentu saja, hal tersebut membuat Vania seketika merasa terkejut, begitu pun dengan Arion sang suami.

"SULTAN?!" teriak Arion murka.

BERSAMBUNG

...***************...

Terpopuler

Comments

Siti Maryam

Siti Maryam

kok gitu

2023-05-14

1

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

kasihan vania

2023-04-11

1

Diana Susanti

Diana Susanti

astaghfirullah 😭😭😭😭 kasian Vania

2023-04-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!