Kerinduan

Dion memeluk erat tubuh sang adik. Kedua matanya nampak memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini. Perasannya benar-benar terluka melihat adik kesayangannya dalam keadaan terluka perasaannya.

"Kamu yang sabar, Ryan. Walau bagaimanapun beliau adalah ibu kandung kita. Kaka tahu kamu kecewa sama Mommy Veronika karena kakak pun merasakan hal yang sama. Namun, beliau tetap ibu kandung kita. Wanita yang telah mengandung dan melahirkan kita," lembut Dion mengusap punggung sang adik lembut dan penuh kasih sayang.

"Aku kangen sama Mommy Veronika, aku ingin sekali saja merasakan kasih sayang beliau. Tapi--" Ryan menahan ucapannya.

Rasanya sulit sekali untuk mengungkapkan apa yang saat ini sedang dia rasakan. Antara kerinduan, kecewa dan rasa sakit hati seolah melebur menjadi satu kini. Ryan hanya bisa menangis di dalam dekapan sang kaka.

* * *

Sementara itu, Vania dan suaminya sudah sampai di rumahnya. Vania nampak sedang berbaring di atas ranjang. Dia mencoba untuk melenturkan otot-ototnya yang sempat menegang. Wanita berusia 23 tahun itu pun mencoba untuk menenangkan perasaannya yang sempat kalut juga tertekan.

Ceklek!

Pintu kamar mandi pun di buka lebar. Arion yang baru saja membersihkan diri keluar dari dalamnya kemudian. Laki-laki itu berjalan menghampiri istrinya lalu duduk di tepi ranjang.

"Kamu baik-baik saja, honey? Wajah kamu pucat banget," tanya Arion, mengusap kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang.

"Mas, bolehkan aku mengatakan sesuatu sama Mas?" Vania duduk tegak di atas ranjang.

"Tentu saja boleh. Apa yang ingin kamu katakan?"

"Aku minta Mas jangan terlalu keras sama mantan istri Mas itu. Walau bagaimana pun dia adalah ibu kandungnya anak-anak. Aku memang tidak tahu apa dan kenapa kalian bisa bercerai. Namun, bukankah lebih baik kita fokus akan kesehatan Ryan dulu?"

"Ryan tetap butuh dukungan dan kasih sayang dari ibu kandungnya, meskipun aku pun sanggup memberikan kasih sayang kepadanya karena aku pun menyayangi dia layaknya putraku sendiri, tapi itu 2 hal yang berbeda. Kasih sayang dariku sebagai ibu tirinya dan kasih sayang dari ibu kandungnya sama sekali tidak sama."

"Jadi, aku mohon dengan sangat, tolong kesampingkan dulu masalah pribadi kalian. Kita fokus saja akan kesehatan putra kita. Ini demi Ryan, demi putra kita izinkan Mbak Veronika menemani Ryan di Rumah Sakit," jelas Vania panjang lebar. Entah sejak kapan dirinya memiliki pemikiran yang matang dan dewasa seperti ini.

Arion nampak menarik napas berat lalu menghembuskannya kasar. Apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya memanglah benar. Dia akan mencoba melakukan apa yang dimintakan oleh Vania. Semua ini dia lakukan semata-mata demi kesehatan sang putra.

Grep!

Arion memeluk tubuh Vania erat. Lagi dan lagi rasa syukur itu dia ucapkan di dalam hatinya. Memilik istri yang sempurna seperti Vania Clarisa adalah hal yang paling dia syukuri di dalam hidupnya. Meskipun pernikahan mereka tidak dilandasi atas dasar cinta pada awalnya.

"Baik, honey. Mas akan mengikuti apa yang kamu katakan tadi. Semua ini demi Ryan, demi kesembuhan dia, tapi apa kamu akan baik-baik saja melihat Mas dekat-dekat sama mantan istri Mas itu?" tanya Arion semakin mendekap erat tubuh sang istri.

"Aku? Tentu saja aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?" Vania balik bertanya seraya mengurai perlukan.

"Ya, kamu tidak merasa cemburu gitu?"

"Cemburu? Hahahaha! Buat apa aku cemburu, Mas? Hubungan kalian sudah selesai, dia hanya bagian dari masa lalu kamu, Mas."

Arion nampak sedikit merasa kecewa. Sebenarnya dia ingin sekali melihat istrinya merasa cemburu sebagai pembuktian bahwa Vania benar-benar mencintai dirinya.

"Mas? Ko diam saja?" tanya Vania seketika membuyarkan lamunan seorang Arion Delana.

"Hah? Eu ... Nggak ko, Mas gak apa-apa, honey. Kamu pasti lelah, sekarang kamu istirahat ya."

"Mas gak lelah? Mas istirahat juga di sini bersamaku," rengek Vania dengan nada suara manja. Rengekan yang sukses membuat bulu kuduk Arion seketika merasa merinding disko.

"Honey?"

"Heuh."

"Apa tubuhmu gak merasa pegal-pegal? Eu ... Mau Mas pijitin?"

"Sebenarnya sih tubuh aku pegal-pegal banget ini," jawab Vania merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dia masih belum mengerti bahwa suaminya itu menginginkan sesuatu yang lain.

"Makannya, Mas pijat ya. Mas bakalan pijitin tubuh kamu dari ujung rambut hingga ujung kaki, bagaimana?"

Vania seketika mengerutkan kening. Akhirnya dia bisa menangkap ada maksud terselubung dari tawaran suaminya ini. Wanita itu pun nampak menahan senyuman di bibirnya. Sepertinya obat yang paling mujarab untuk mengobati rasa lelahnya adalah dengan melakukan kegiatan yang memabukkan itu.

Kegiatan yang menguras tenaga, tapi begitu melenakan. Tanpa basa-basi lagi, Vania Clarisa menerima tawaran sang suami dengan hati dan perasaan senang tentu saja.

"Langkah pertama, kamu buka dulu pakaian kamu-nya. Biar Mas leluasa memijat tubuh kamu ini."

Vania mengikuti apa yang dimintakan oleh suaminya tanpa banyak bicara. Dia melucuti pakaiannya sendiri tanpa sungkan hingga hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Arion seketika tersenyum lebar tentu saja. Dia tidak menyangka jika istrinya itu akan mengikuti keinginan dirinya tanpa banyak protes seperti yang selalu dia lakukan selama ini.

"Ko diam saja? Katanya mau mijitin?" tanya Vania, dia sudah dalam keadaan telungkup di atas ranjang dengan tubuh setengah polosnya.

"Hah? Eu ... Oke, honey. Mas datang!" jawab Arion, senyuman lebar nampak mengembang sempurna dari kedua sisi bibirnya kini.

BERSAMBUNG

...************...

Terpopuler

Comments

Diana Susanti

Diana Susanti

kalau aku bilang capek suamiku mijitin,,tapi habis mijitin minta ganti,,,,sama aja boong kan tapi aku selalu sukaaaaaaaaa

2023-04-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!