Vania benar-benar berbeda dari biasanya. Dia lebih aktif dan lebih lincah dalam bermain di atas ranjang. Arion sang suami sampai merasa kewalahan. Istrinya itu benar-benar di luar dugaan.
Akan tetapi, dia begitu suka dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Jiwanya benar-benar terasa melayang ke awang-awang. Pikirannya yang sempat kalut seketika merasa tenang.
Keduanya bahkan tidak sungkan mencoba berbagai gaya baru. Jiwa mereka menyatu, memburu sesuatu yang akan membawa mereka ke puncak kenikmatan di mana rasanya banyak di buru oleh manusia di luaran sana.
Suara de*ahan dan rintihan terdengar saling bersahutan. Peluh dan keringat nampak membasahi raga polos keduanya. Pendakian kali ini benar-benar luar biasa. Pelepasan demi pelepasan pun mereka dapatkan. Sampai akhirnya, puncak dari puncaknya kenikmatan pun keduanya dapatkan secara bersamaan.
Tubuh keduanya bergetar dengan jantung yang berdetak kencang. Baik Arion maupun istrinya sama memejamkan kedua matanya lengkap dengan suara lenguhan panjang sebagai pertanda bahwa sepasang suami-istri itu benar-benar puas dengan apa yang baru saja mereka capai.
Bruk!
Tubuh Arion terkulai lemas di atas raga istrinya. Napas laki-laki itu nampak berhembus tidak beraturan. Keringat membasahi pelipis wajahnya, senyuman bahagia pun terukir dari kedua sisi bibirnya kini.
"I love you, honey," bisik Arion.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di bibir istrinya.
"I love you too, Mas," jawab Vania tersenyum lebar. Napasnya masih berhembus tidak beraturan. Senyuman manis pun terukir dari kedua sisi bibir wanita itu.
"Kamu benar-benar luar biasa, honey. Goyangan kamu membuat Mas kewalahan," celetuk Arion, membuat wajah Vania seketika memerah merasa malu tentu saja.
"Mas apaan sih? Sekarang turun, berat!"
"Sebentar lagi, honey. Di dalam sana rasanya hangat banget."
"Dih, dasar. Tubuh Mas ini berat tau. Lagian kita harus segera kembali ke Rumah Sakit. Kasian Ryan."
"Hmm ... Kamu perhatian banget. Putra-putranya sungguh beruntung punya ibu seperti kamu, honey."
Vania melingkarkan tangannya di punggung sang suami. Dia yang semula meminta suaminya untuk turun dengan alasan berat, kini balik memeluk tubuh Arion erat dengan bagian inti mereka yang masih menyatu di bawah sana. Rasanya begitu damai berada di dalam dekapan Arion suaminya tercinta.
Ternyata benar, obat yang paling mujarab untuk menghilangkan rasa lelah adalah dengan melakukan kegiatan yang begitu memabukkan ini. Kegiatan yang menguras tenaga tapi begitu melenakan.
Keduanya pun seketika memejamkan kedua matanya dengan tubuh yang masih menyatu. Pendakian panjang yang baru saja mereka lakukan membuat rasa kantuk itu tiba-tiba saja mendera tanpa bisa di tahan.
* * *
3 jam kemudian.
Arion merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Pelupuk mata laki-laki itu pun masih terpejam sempurna. Tubuhnya yang dalam keadaan polos seketika menggeliat saat hawa dingin itu terasa dingin membasuh permukaan kulitnya kini.
Kedua matanya seketika di kedipkan pelan. Dia menarik pelupuknya lembut sampai akhirnya terbuka sempurna, dengan kedua mata yang di sipitkan Arion Delana menatap sekeliling mencari keberadaan sang istri. Vania Clarisa yang semula tertidur lelap di sampingnya kini sudah tidak terlihat lagi.
"Honey? Kamu di mana?" Arion berteriak memanggil nama sang istri.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka lebar, Vania masuk ke dalam kamar sudah berpakaian rapi. Wajahnya pun sudah di poles dengan make up natural. Wanita itu duduk di tepi ranjang.
"Kamu mau ke mana, honey?" tanya Arion duduk di atas ranjang.
"Aku mau ke Rumah Sakit, Mas. Kasian Dion sama Ryan kalau dia harus di tinggal selama ini," jawab Vania.
"Hmm ... Kamu perhatian sekali sama mereka. Tunggu, Mas. Biar Mas mandi dulu, kita ke sana bersama-sama," ujar Arion.
Dia pun seketika turun dari atas ranjang lalu hendak berjalan menuju kamar mandi. Arion hanya menggunakan selimut untuk menutupi bagian inti tubuhnya yang masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
"Mas?"
Arion sontak menghentikan langkah kakinya.
"Iya, sayang?"
"Eu ... Nggak apa-apa, aku tunggu di sini."
"Baiklah, Mas gak akan lama ko."
Arion Delana melanjutkan langkah kakinya. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan kembali 20 menit kemudian. Wajah laki-laki berusia 43 tahun itu terlihat segar. Rambutnya yang sedikit berantakan juga basah membuat wajahnya terlihat semakin tampan di mata Vania Clarisa.
Entah sadar atau tidak, Vania menatap tanpa berkedip wajah suaminya. Ada rasa kagum yang terselip di dalam hati seorang Vania. Tubuh atletis sang suami begitu mengagumkan menurutnya, kenapa tidak dari dulu dia menyadari hal itu.
Arion akhirnya menyadari bahwa tubuhnya di tatap sedemikan rupa oleh sang istri. Senyuman kecil pun mengembang dari kedua sisi bibirnya kini. Jika boleh berbagai jujur, Arion merasa salah tinggal saat di tatap kian intens oleh istrinya tercinta.
"Jangan liatin Mas kayak gitu? Nanti pusaka Mas tegang lagi lho diliatin kayak gitu," pinta Arion menahan senyuman di bibirnya.
"Hah? Eu ... Nggak ko, Mas," jawab Vania merasa gugup.
Jantung wanita itu seketika berdetak kencang. Perasaannya campur aduk sulit untuk diungkapkan. Apakah dia telah benar-benar telah jatuh cinta kepada suaminya? Perasaan yang kehadirannya tidak pernah dia sangka dan di duga tentu saja.
"Sayang?" sapa Arion lagi seraya memakai pakaian miliknya tanpa sungkan, tepat di depan Vania Clarisa, hal itu tentu saja membuat perasaan Vania semakin tidak karuan.
"Iya, Mas. Ada apa?" jawab Vania merasa gugup.
"Kamu pasti lagi mengagumi tubuh Mas yang atletis ini, iya 'kan?"
"Hah? Hahahaha! Mas apaan sih? Narsis banget," decak Vania tertawa di paksakan.
"Udah ngaku aja. Kamu udah mulai bucin 'kan sama Mas?"
"Dih, percaya diri banget kamu, Mas."
"Gak apa-apa, honey. Akui saja Mas suka ko. Mas sangat bahagia karena akhirnya kamu bisa mencintai Mas."
Wajah Vania seketika memerah. Apa dirinya terlalu menunjukkan rasa bucinnya kepada Arion Delana? Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta kepada suaminya sendiri. Rasanya?
'Sulit di ungkapkan dengan kata-kata,' (batin Vania).
* * *
Vania dan suaminya akhirnya tiba di Rumah Sakit. Keduanya berjalan di koridor Rumah Sakit dan hampir sampai di kamar di mana Ryan sang putra di rawat saat ini. Tangan mereka pun saling di tautkan erat. Sampai akhirnya, mereka pun sampai di depan kamar.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka lebar. Arion dan istrinya masuk ke dalam kamar. Senyuman yang semula mengembang dari kedua sisi bibir keduanya pun seketika hilang saat melihat Veronika sudah berada di dalam kamar.
"Veronika? Sedang apa kamu di sini?" tanya Arion, pertanyaan yang refleks keluar dari bibirnya.
"Kalian sudah datang? Pertanyaan macam apa itu? Apa pantas kamu menanyakan hal seperti itu kepadaku ibu kandungnya anak-anak?" jawab Veronika tersenyum ramah. Tentu saja hanya berpura-pura ramah sebenarnya.
Vania meremas telapak tangan suaminya sebagai isyarat agar Arion bisa lebih menahan emosinya. Tentu saja Arion Delana segera menyadari arti dari isyarat istrinya tersebut.
"O iya, Mas. Aku sudah bicara dengan Ryan, katanya dia bersedia untuk tinggal denganku," ujar Veronika penuh percaya diri.
BERSAMBUNG
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Diana Susanti
lanjut kak mantab 👍👍👍
2023-04-24
1