Hak Asuh

Wanita bernama Veronika seketika merasa lemas. Apakah yang dikatakan oleh istri baru mantan suaminya itu adalah sebuah kebenaran? Atau, dia hanya mengarang cerita hanya untuk menutupi keteledoran suaminya saja? Apapun alasannya, wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya selama ini. Mengabaikan putra-putranya adalah sebuah kesalahan terbesar di dalam hidupnya.

"Aku mengerti apa yang Mbak rasakan, pasti rasanya sakit sekali saat kita di tolak oleh putra kita sendiri. Aku akan mencoba berbicara dan memberi pengertian kepada putra Mbak itu, walau bagaimanapun Ryan membutuhkan dukungan dari Mbak sebagai ibu kandungnya, agar dia bisa sembuh."

"Kami berencana akan memasukan dia ke Rumah Sakit rehabilitasi, agar dia bisa diobati dengan benar. Sepertinya putra Mbak benar-benar telah menjadi seorang pecandu berat, mengingat bahwa Ryan telah lama mengkonsumi obat-obatan terlarang itu," jelas Vania panjang lebar.

"Gak usah so perhatian kamu. Saya tidak butuh bantuan dari kamu, yang jelas saya akan tetap mengajukan surat ke pengadilan agar hak asuh bisa saya ambil alih secepatnya," ketus Veronika.

"Mbak, Ryan itu bukan anak kecil. Dia sudah remaja, usianya saja sudah 15 tahun, dia berhak untuk memilih dengan siapa dia akan tinggal. Kecuali kalau Ryan masih berusia di bawah 12 tahun, maka pengadilan berhak memutuskan dengan siapa si anak harus tinggal."

"Meksipun begitu, si anak sendiri yang berhak memutuskan, karena dia bukan bayi lagi yang akan menurut begitu saja di asuh oleh siapapun. Maaf bukannya aku so pintar, tapi untuk saat ini bukankah lebih baik kita fokus dulu akan kesembuhan putra Mbak itu?"

"Jika dia sudah benar-benar sembuh, barulah Mbak tanya sama dia dengan siapa Ryan akan tinggal," jelas Vania panjang lebar.

"Berapa usia kamu? Sepertinya kamu masih muda?"

"Usia aku masih 23 tahun, Mbak."

"Ko kamu mau menikah dengan Mas Arion? Dia itu sudah berumur lho, usia kamu sama Dion aja cuma beda beberapa tahun aja lho."

Vania tersenyum kecil. Dia menundukkan kepalanya, akhirnya Vania Clarisa pun menyadari bahwa Arion dan ketiga putranya itu adalah orang-orang yang paling berharga di dalam hidupnya. Sipat keibuannya itu seolah mengalir begitu saja di dalam dirinya meskipun usianya masih sangat muda.

"Entahlah, mungkin karena kami berjodoh. Awalnya aku memang tidak mencintai suamiku, tapi Mas Arion selalu memperlakukan aku bak seorang ratu. Dia baik sekali kepadaku, Mbak," jawab Vania kemudian.

"O ya? Hahahaha! Kamu belum tahu aja sipat suami kamu yang sebenarnya itu seperti apa, Mas Arion itu--"

"Honey, sedang apa kamu di sini? Ryan nyariin kamu di dalam," sela Arion, membuat Veronika seketika mendengus kesal juga menahan ucapannya.

"O ya? Baiklah, aku masuk sekarang juga," jawab Vania, dia pun segera masuk ke dalam kamar.

Tinggallah Arion dan Veronika di sana, wanita itu menatap wajah mantan suaminya dengan tatapan tajam. Hal yang sama pun diperlihatkan oleh Arion, rasa bencinya kepada mantan istrinya itu tidak berkurang sedikitpun meskipun waktu telah lama berlalu.

"Jangan pernah kembali lagi ke sini. Kehadiran kamu hanya akan membuat kondisi Ryan semakin memburuk saja, Veronika!" tegas Arion dengan nada suara dingin.

"Mana boleh kamu melarang aku untuk bertemu dengan putraku sendiri. Terlebih keadaan Ryan sedang sakit seperti ini."

"Kamu tidak dengar apa yang dia katakan tadi? Ryan hanya punya satu ibu, yaitu istriku yang sekarang."

"Dengarkan aku, Mas Arion yang terhormat. Kamu sama sekali tidak becus dalam merawat putraku. Bagaimana bisa dia menjadi seorang pecandu? Apa kamu tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang sama dia? Kamu sibuk dengan istri kamu yang masih muda itu?"

Arion seketika tertawa sinis.

"Lalu kemana saja kamu selama 10 tahun ini? Sekalipun kamu tidak pernah menanyakan kabar putra-putra kamu itu. Enak saja, sekarang malah menyalahkan saya."

"Apa Mas akan mengizinkan aku untuk menemui anak-anakku jika aku datang ke rumah kamu, Mas? Tidak bukan?"

"Kenapa tidak? Kamu ibunya, mana mungkin saya tidak mengizinkan kamu untuk menemui mereka? Walau bagaimana pun mereka butuh kasih sayang ibu kandungnya, tapi apa, sekalipun kamu tidak pernah datang untuk menemui mereka? Ibu macam apa kamu? Bahkan, Sultan mungkin sudah benar-benar melupakan kamu, Veronika!"

"Sultan?"

Veronika seketika mengusap wajahnya kasar. Dia pun mencoba untuk mengingat wajah putra bungsunya yang telah dia tinggalkan saat sang putra masih berusia 2 tahun. Ternyata waktu begitu cepat berlalu, tanpa sadar dia telah meninggalkan putra-putranya selama itu.

"Kenapa diam saja? Apa kamu lupa kalau kamu meninggalkan balita berusia 2 tahun saat kita bercerai dulu? Apa kamu tau sekolah dia kelas berapa sekarang? Apa kamu tahu wajah dia seperti apa sekarang? Tidak bukan? Jadi, jangan so jadi ibu yang baik dan akan mengajukan hak asuh ke pengadilan segala. Mereka bukan anak kecil lagi, mereka berhak memilih dengan siapa mereka akan tinggal."

"Stop, Mas. Kamu sudah gagal jadi ayah mereka. Jika kamu ayah yang baik untuk mereka, Ryan tidak akan menjadi seorang pencandu. Kamu ayah yang gagal Arion Delana! Walau bagaimana pun aku akan tetap memperjuangkan hak asuh anak-anak, mereka harus ikut dengan aku. Aku akan membawa ketiga putraku, paham?"

"Silahkan lakukan apa yang kamu inginkan jika mereka mau, saya ikhlas melepaskan mereka bertiga jika memang mereka sendiri yang memintanya!"

"Stop! Sedang apa kalian, hah? Apa kalian berdua tidak malu bertengkar di Rumah Sakit?" tiba-tiba terdengar suara Dion, menggelegar dan memantul di udara.

Veronika sontak menoleh dan menatap putra sulungnya. Dia pun berjalan menghampiri seraya menatap dengan tatapan mata sayu penuh kerinduan. Kelopak matanya mulai di penuhi dengan buliran air mata. Betapa dirinya sangat merindukan sang putra. Wanita itu pun meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi rahang Dion, air mata itu tumpah juga pada akhirnya.

"Dion? Dion putranya Mommy? Kamu sudah besar, Nak," lirih Veronika dengan nada suara lemah.

"Maaf, Anda siapa?" tanya Dion menahan rasa getir. Pikirannya pun seketika melayang ke masa lalu, mengingat kembali perpisahan yang begitu menyakitkan dengan ibu kandungnya sendiri.

Flash back.

10 tahun yang lalu.

BERSAMBUNG

...****************...

Terpopuler

Comments

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

bener2 nih vero gk ada malunya..

2023-04-18

1

Diana Susanti

Diana Susanti

sedih

2023-04-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!