Byur!
Vania seketika memejamkan kedua matanya. Dia pun menyeka wajahnya yang saat ini basah kuyup dengan air putih. Sial, putra bungsu dari suaminya itu lebih kurang ajar dari Dion sang putra sulung. Lancang sekali dia menyiram wajahnya dengan segelas air putih. Andai saja tidak ada suaminya di sana, mungkin sudah dia seret dan dia kurung di kamar mandi.
"SULTAN?" Arion sontak berteriak kencang. Dia pun berdiri dan hendak memuntahkan kemarahannya kepada Sultan, anak laki-laki berusia 12 tahun yang masih duduk di kelas 7 Sekolah Menengah Pertama.
"Cukup, Dad. Jangan marahi Sultan, dia hanya anak kecil," cegah Dion mencoba untuk melindungi adiknya.
"Diam kamu, Dion. Adik kamu ini harus di beri pelajaran!"
"Dia hanya anak kecil. Wajar kalau dia melakukan hal yang di luar dugaan. Kami tiba-tiba memiliki ibu tiri, mana mungkin kami langsung menerimanya begitu saja, kami butuh waktu Dad."
"Daddy bilang diam! Jangan-jangan kamu yang nyuruh dia buat ngelakuin ini?"
"Apa? Hahahaha! Mana mungkin aku menyuruh adikku berbuat hal yang kurang ajar seperti ini," elak Dion terlihat gugup.
Vania yang semula hanya diam tiba-tiba saja berdiri. Dia mencoba untuk menekan emosi yang sebenarnya ingin sekali dia ledakkan. Wanita itu berjalan menghampiri Sultan lalu berjongkok tepat di hadapannya.
"Siapa nama kamu anak tampan?" tanya Vania kemudian.
"Sultan, Tante," jawab Sultan polos.
"Panggil saya dengan sebutan Mommy mulai sekarang, paham?"
Sultan menganggukkan kepalanya, menatap wajah Vania penuh ketakutan.
"Mommy mau tanya sama kamu. Kenapa kamu menyiramkan air ke wajahnya Mommy?"
"Kata orang, ibu tiri itu jahat. Makannya kita harus jahatin dia duluan, lagian aku juga gak mau punya ibu tiri."
Vania tersenyum menyeringai, dia mengusap kepala anak tirinya penuh arti. Tatapan mata wanita itu bahkan semakin tajam menatap wajah Sultan. Remaja berusia 12 tahun itu sontak semakin terlihat gemetar.
"Cukup, Mommy Vania. Mau kamu apakan adik aku ini?" lagi-lagi Dion mencoba untuk melindungi.
"Diam kamu, Mommy tidak sedang bicara sama kamu! Kamu mau Mommy meminta Daddy kamu untuk menyita semua pasilitas yang selama ini kamu pakai?"
Dion sontak merapatkan bibirnya. Sementara Arion tersenyum bangga. Dia berharap istrinya itu bisa menaklukkan ketiga putranya. Vania kembali mengalihkan pandangannya kepada Sultan yang saat ini semakin terlihat gemetar. Anak itu nampak menunduk ketakutan.
"Dari mana kamu tahu kalau Mommy jahat? Apa kamu kenal sama Mommy?"
Sultan menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu pernah melihat Mommy menyakiti seseorang?"
Sultan kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak bukan? Kita belum saling kenal satu sama lain, mana boleh kamu menilai Mommy jahat seperti itu, bukankah itu tidak adil?"
Sultan yang semula menunduk, sontak mengangkat kepala lalu menatap wajah sang ibu tiri dengan tatapan mata sayu penuh penyesalan.
"Nama Mommy, Vania. Mulai sekarang mari kita saling mengenal satu sama lain. Kamu boleh menilai nanti, seperti apa Mommy tiri kamu ini. Asal kamu tahu saja, sayang. Tidak semua ibu tiri itu jahat, seorang ibu bisa berubah jahat jika putranya nakal, tapi dia bisa berubah baik dan lembut jika memiliki putra yang baik dan juga sholeh."
"Gimana, kamu mau mengenal lebih dekat Mommy tiri kamu ini? Mommy janji akan jadi ibu tiri yang baik, asalkan kamu jadi anak yang penurut. Deal?" jelas Vania panjang lebar, dia mengulurkan jari kelingkingnya. Tidak lama kemudian, Sultan menautkan kelingking mungilnya seraya tersenyum kecil.
"Deal ya."
Sultan menganggukkan kepalanya.
"Sekarang katakan sama Mommy, siapa yang mengajarkan kamu untuk melakukan hal yang kurang ajar seperti tadi?"
Sultan perlahan menoleh dan menatap ke arah Dion sang kaka. Seketika itu juga, dia pun menunjuk dengan jari telunjuknya wajah Dion yang saat ini terlihat memerah penuh dengan amarah.
"Sial!" Umpatnya kesal.
Vania seketika berdiri, dia pun menatap wajah Arion sang suami penuh arti. Seolah mengerti dengan tatapan mata sang istri, Arion segera mengambil tindakan. Lagi-lagi Arion merasa bangga dengan keberanian juga dengan cara istrinya itu mendekati putra bungsunya yang dikenal keras kepala.
"Mana kunci mobil kamu, kartu kredit kamu juga berikan kepada Daddy sekarang juga," tegas Arion penuh penekanan.
"Daddy apa-apaan? Untuk apa Daddy meminta itu semua dariku? Salah aku dimana?" tanya Dion berlagak polos.
"Kamu masih tanya salah kamu dimana? Kamu mengajarkan adik kamu perbuatan yang kurang ajar, masih nanya salah kamu dimana?!"
Dion seketika memutar bola matanya kesal. Dia pun mendelik ke arah Vania penuh dendam. Wanita itu hanya membalas dengan senyuman menyeringai, membuat Dion semakin merasa kesal.
"Sudah gak usah, Mas. Aku sudah maafin dia ko. Tapi, kalau anak sulung kamu ini berani melakukannya lagi, Mas bebas menghukum dia seperti yang Mas inginkan," sela Vania tersenyum ramah, lebih tepatnya hanya pura-pura ramah. Dia hanya ingin menunjukan seberapa berpengaruhnya dirinya di hadapan ketiga anak tirinya itu.
"Kamu lihat, ibu tiri kamu ini masih saja memaafkan kamu setelah apa yang sudah kamu lakukan tadi. Dasar anak nakal. Kapan kamu mau berubah, hah? Pokoknya, kalau sampai kamu berulah lagi, Daddy gak akan segan untuk mengusir kamu dari rumah ini, paham?"
'Sial, semuanya gara-gara wanita gak guna ini. Daddy sampai seperti itu kepadaku. Awas saja, ibu tiri. Aku pastikan karirmu sebagai ibu tiri gak akan bertahan lama,' (batin Dion).
"Aku ganti baju dulu, Mas. Pakaian aku basah," rengek Vania dengan nada suara manja.
"Maafkan anak-anak Mas, sayang. Mas janji kejadian seperti ini gak akan terulang lagi."
Vania hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Dia pun berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan.
"Aku juga pamit, Dad. Aku berangkat dulu. Sultan, ayo berangkat bareng kaka."
Sultan menganggukkan kepalanya. Dia pun menyalami sang ayah lalu berjalan beriringan bersama Dion sang sang kaka. Sedangkan Ryan, karena kondisinya yang masih belum pulih pasca kecelakaan motor, dia pun harus beristirahat di rumah untuk beberapa hari ke depan.
"Sultan, kamu tunggu di mobil. Kaka masih ada satu buku yang ketinggalan," pinta Dion, dan hanya di jawab dengan anggukan patuh oleh sang adik.
Pemuda itu pun berbalik dan mencari seseorang di dalam rumah. Sampai akhirnya, dia menemukan orang yang dia cari. Ya ... Dia adalah Vania sang ibu tiri. Vania yang hendak masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba saja di tarik kasar, tubuhnya di hempaskan begitu saja di tembok.
"Dion? Apa-apaan kamu?!" teriak Vania murka.
"Dengar ya ibu tiri bermuka dua. Jangan kamu pikir kamu sudah menang ya. Kamu pikir aku tidak tahu kamu menikahi Daddy karena apa? Kamu menikah dengan Daddy hanya untuk melunasi hutang-hutang ayah kamu yang setumpuk itu. Jadi, jangan so berkuasa. Kamu itu tidak lebih dari sekedar wanita yang telah di jual sama keluarga kamu sendiri."
Vania sontak mengepalkan kedua tangannya.
BERSAMBUNG
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Puja Kesuma
klo ibu tirimu jahat trus apa kabarnya ibu kamdungbkamu dion... apa dia gk lbh jahat dr ibu tiri kamu...mknya kenal lbh dkt lg sama ibu tiri kamu biar ada perbandingan ibu kandung dan ibu tiri
2023-04-25
1
༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸
sabar...sabar vania..km pasti bisa tahlukkn mereka
2023-04-12
0