Pecandu

Plak!

Bruk!

Vania seketika tersungkur di atas lantai. Pikirannya meremang, pandangan matanya pun seketika memudar. Untuk sesaat, otaknya terasa berhenti berpikir saat rasa panas terasa membakar permukaan kulit wajah sebelah kirinya kini.

Dia pun mengepalkan kedua tangannya. Kesabarannya sudah berada di ambang batas. Vania seketika berdiri tegak dengan kepala yang masih terasa pusing sebenarnya.

"Ma-maafkan saya, Mommy Vania. Siapa suruh Anda--"

Plak!

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di rahang Dion dan juga Ryan secara bergantian. Kedua putra sambungnya itu sontak membulatkan bola matanya tidak menyangka akan mendapatkan tamparan dari ibu tirinya tersebut.

"Apa yang Anda laku--" Dion hendak berontak tidak terima.

"Diam kamu! Sudah cukup Mommy bersikap sabar sama kamu ya! Jangan pikir Mommy akan diam saja menghadapi sikap kurang ajar kamu itu. Kamu pikir Mommy suka jadi ibu kalian? Kamu pikir Mommy senang harus mengurus anak-anak nakal seperti kalian, hah?"

Dion dan juga Ryan hanya bisa diam seraya menundukkan kepalanya. Entah mengapa aura ibu tirinya itu berubah menakutkan. Tatapan mata tajam yang di layangkan oleh Vania Clarisa membuat mereka berdua tidak mampu lagi berkata apa-apa.

"Ryan, cepat minta maaf sama kaka kamu," pinta Vania, tapi diabaikan.

Remaja itu nampak menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat pucat pasi, beberapa luka lebam nampak membiru di beberapa bagian wajahnya. Vania tentu saja semakin merasa kesal ketika perintahnya diabaikan begitu saja oleh sang putra.

"Kenapa diam saja? Kalian itu bersaudara, apa pantas kalian berkelahi kayak gini?"

Kedua orang itu masih diam membisu.

"Baiklah, kalau kalian masih seperti ini. Mommy tiri kalian ini akan mengadukan hal ini kepada Daddy kalian. Kalian tahu 'kan hukuman apa yang akan kalian dapatkan? Kamu Dion, kartu kredit kamu akan di sita, begitupun dengan ATM, kunci mobil dan uang saku kamu juga bakalan di pangkas habis, mau?"

"Sedangkan kamu, Ryan. Apa yang akan terjadi jika Daddy kamu itu sampai tahu kalau ternyata kamu mengkonsumi barang haram? Kamu bukan hanya akan dimarahi habis-habisan, tapi kamu juga bisa di usir dari rumah ini, mau?" ancam Vania penuh penekanan.

"Tidak!" jawab keduanya secara bersamaan.

"Sekarang Ryan, minta maaf sama kakak kamu ini. Kamu juga Dion, minta maaf sama adik kamu, CEPAT!" teriak Vania merasa kesal.

"Maafkan aku, kak. Seharusnya aku gak melawan tadi," ucap Ryan, tidak berani untuk sekedar menoleh ke arah kakaknya.

"Maafkan kaka juga, kaka terlalu emosi," jawab Dion singkat.

"Bagus, sekarang kalian duduk."

Baik Dion maupun Ryan hanya diam tidak mengikuti perintah ibu tirinya.

"DUDUK MOMMY BILANG!" Vania sontak menaikan suaranya, membuat Ryan juga Dion seketika merasa terkejut lalu duduk di tepi ranjang seperti yang diperintahkan oleh sang ibu.

Vania berjalan mondar-mandir di depan kedua putra sambungnya. Otaknya nampak berpikir keras tentang apa yang akan dia lakukan kedepannya. Dia bahkan memijit pelipis wajahnya lembut, ternyata menjadi ibu dari anak laki-laki tidaklah semudah yang dibayangkan.

"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?" tanya Vania, otaknya benar-benar tidak dapat berfikir dengan benar.

Dion dan juga Ryan menoleh dan saling menatap satu sama lain. Mereka pun bingung apa yang akan mereka lakukan kedepannya. Apakah mereka akan mengatakan masalah ini kepada sang ayah, atau mengatasinya sendiri?

"Ryan, Mommy mau tanya sama kamu, sejak kapan kamu memakai barang haram itu?" tanya Vania menatap tajam wajah Ryan.

"Eu ... Baru-baru ini, Mom."

"Baru-baru ini apanya? Sudah lama kamu mengkonsumi barang haram ini. Kaka sudah peringatkan sama kamu untuk berhenti menggunakan barang itu, kamu bisa kecanduan," sela Dion, menaikan suaranya.

"Apa betul yang dikatakan oleh kakak kamu ini?" tanya Vania dan hanya di jawab dengan anggukan samar oleh Ryan.

Vania seketika mengusap wajahnya kasar. Dia pun duduk tepat di samping Ryan sang putra. Wanita itu merubah tatapan matanya. Dia yakin betul ada alasan kenapa putra keduanya itu memakai obat-obatan yang sebenarnya haram untuk di konsumsi.

"Tatap mata Mommy, Ryan," tegas Vania penuh penekanan.

Ryan sontak menoleh dan menatap wajah Vania. Tatapan matanya terlihat sayu penuh penyesalan. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya itu. Rahangnya yang tirus membuatnya terlihat jelas bahwa remaja itu adalah seorang pecandu.

"Kenapa kamu nekat mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu? Bukankah Daddy kamu sudah memberikan semua yang kamu inginkan. Uang saku yang cukup, kendaraan yang kamu inginkan bahkan kasih sayang," tanya Vania melembutkan suaranya.

Ryan hanya diam lalu kembali menundukkan kepalanya. Dia memainkan ujung kuku jari jempolnya dengan gelisah. Vania segera meraih pergelangan tangan putranya lalu mengusap punggung tangannya lembut penuh kasih sayang.

"Katanya kamu senang karena akhirnya bisa memiliki seorang ibu?"

Ryan menganggukkan kepalanya samar.

"Jika memang begitu, ceritakan semuanya sama Mommy, kenapa kamu seperti ini? Jangan sungkan, Mommy akan menjadi pendengar yang baik buat kamu."

Ryan mengangkat kepalanya. Dia menatap wajah sang ibu tiri dengan tatapan mata sayu. Remaja 15 tahun itu pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya mengutarakan apa yang selama ini dia pendam.

"Sebenernya sudah lama aku mengkonsumsi barang ini, Mom. Awalnya aku hanya coba-coba karena aku merasa kesepian, Daddy memang memberikan semua yang aku butuhkan. Uang, kendaraan, uang saku yang cukup, tapi tidak dengan kasih sayang."

"Sebelum Daddy menikah dengan Mommy, aku benar-benar kesepian. Aku ingin sekali merasakan kasih sayang seorang ibu. Mommy kandung aku sekali pun tidak pernah datang kemari untuk menemui kami, padahal aku sangat merindukan beliau. Itu sebabnya aku mencari pelampiasan, aku sudah mencoba untuk berhenti, tapi aku tak bisa, Mom."

"Aku selalu saja merasa haus, tidak mengkonsumsinya selama beberapa hari saja rasanya tubuh aku ini remuk. Aku udah kecanduan, tapi aku ingin sembuh. Rasanya sangat menyiksa, bantu aku untuk sembuh, Mom, Kak, aku ingin sembuh, hiks hiks hiks!" jelas Ryan panjang lebar. Tangisnya pun seketika pecah memekikkan telinga.

Vania segera memeluk tubuh sang putra tanpa sungkan. Tanpa sadar rasa iba telah berubah menjadi rasa sayang kini. Wanita itu pun mengusap kepala anak tirinya lembut dan penuh kasih sayang.

"Mommy akan bantu kamu untuk sembuh, tapi Daddy kamu harus tahu masalah ini. Kamu harus segera di rehabilitasi sebelum semuanya terlambat."

"Tapi aku takut, Mom. Daddy pasti bakalan marah sekali sama aku, hiks hiks hiks!"

"Kalau marah itu pasti, tapi Mommy akan berusaha untuk menjelaskan kepada Daddy kamu."

Ryan menganggukkan kepalanya. Sementara Dion hanya bisa menatap wajah Vania dengan tatapan mata kagum. Apakah di telah salah menilai ibu tirinya selama ini? Dari ucapan, tatapan mata bahkan gestur tubuh ibunya itu terlihat tulus.

"Kamu gak usah khawatir, Ryan. Kaka juga akan membantu Mommy Vania untuk berbicara dengan Daddy, pesan kaka sekarang. Kamu jauhi dulu barang-barang haram itu sebelum kamu benar-benar di rehabilitasi."

"APA MAKSUD KAMU? SIAPA YANG AKAN DI REHABILITAS?" tiba-tiba terdengar suara Arion berdiri tepat di depan pintu dengan wajah murka.

BERSAMBUNG

...****************...

Terpopuler

Comments

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

sabar dad..anakmu butuh perhatian...kesampingkn dl amarahmu..

2023-04-15

1

Diana Susanti

Diana Susanti

lanjut kak mantab 👍👍👍👍

2023-04-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!