Vania keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai kimono handuk berwarna putih. Dia nampak menundukkan kepalanya dengan tubuh yang gemetar. Arion menatap tubuh istrinya dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan kening yang di kerut'kan.
"Sayang, kamu--" Arion tidak meneruskan ucapannya, saat istrinya itu perlahan mulai membuka kimono handuk tersebut, dan memperlihatkan tubuhnya yang kini hanya di balut lingerie yang diberikan olehnya.
"Waaaaw ... Amazing, honey. Mas kira kamu gak mau memakai itu. Tubuh kamu luar biasa indah sayang," decak Arion membulatkan bola matanya. Mulut laki-laki itu bahkan di buka lebar, layaknya kucing lapar yang sedang melihat ikan segar.
"Mas, aku--"
"Tak usah malu, sayang. Mas tahu kamu terpaksa melakukan hal ini, tapi apa kamu tahu, pahala yang kamu dapatkan sangat besar. Melayani suami di atas ranjang, itu adalah adalah sebuah kewajiban. Terpaksa atau pun tidak, Mas senang kamu akhirnya mau memakai ini. Mulai sekarang, kamu harus memakainya setiap malam."
"Hah? Setiap malam?"
'Dasar tua bangka, di kasih hati minta jantung. Masa tiap malam aku harus memakai pakaian yang kayak gini? Bisa masuk angin nanti, ya Tuhan tolonglah hambamu ini,' (batin Vania).
Dengan mata yang berbinar. Arion berjalan menghampiri istrinya, dia membaui tubuh istrinya yang tercium bau wangi yang begitu menyegarkan. Laki-laki itu bahkan meraih beberapa helai rambut sang istri lalu menciuminya seraya memejamkan kedua matanya kemudian.
"Hmm ... Rasanya akan sakit sedikit, tapi Mas jamin rasa sakitnya hanya sebentar. Mas akan membuat kamu melayang ke angkasa lepas nantinya, kita akan berada di surga dunia."
Deg!
Jantung Vania semakin berdetak kencang saja. Bulu kuduknya bahkan seketika berdiri serempak. Antara rasa takut, canggung dan penasaran seperti apa yang namanya surga dunia itu seolah melebur menjadi satu kini. Vania sontak memejamkan kedua matanya.
Arion Delana, menggendong tubuh sang istri dan menjatuhkannya di atas ranjang. Kucing lapar itu pun sudah siap untuk menerkam, tapi sang kucing terpaksa menghentikan gerakan, juga menahan has*atnya saat pintu kamar tiba-tiba saja di ketuk kasar.
Tok! Tok! Tok!
"Dad, maaf menganggu. Ada masalah besar, Dad," terdengar suara Dion dari arah luar. Sontak saja hal itu membuat Arion merasa murka bukan kepalang.
"Dasar anak kurang ajar, ganggu aja sih. Awas aja ya," gerutu Arion, dia pun menutup tubuh istrinya dengan selimut tebal sebelum akhirnya membuka pintu kamar.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka, Arion berdiri di belakang pintu dengan perasaan kesal. Dia menatap tajam wajah Dion sang putra sulung seolah hendak menelannya bulat-bulat.
"Ada apa? Ganggu orang tua saja. Uang saku kamu Daddy potong 70%," ketus Arion.
"Ryan, Dad. Ryan kecelakaan. Sekarang dia ada di Rumah Sakit."
"Apa? Jangan bercanda kamu!"
"Kita harus segera ke Rumah Sakit, Dad."
"Kamu bercanda 'kan?"
"Astaga, Dad. Mana mungkin aku bercanda, kita ke sana sama-sama, kasian dia."
Arion nampak termenung sejenak. Dia menatap wajah Dion sang putra. Jika di lihat dari raut wajahnya, putranya itu sama sekali tidak terlihat sedang bercanda. Rasa khawatir pun seketika memenuhi relung hatinya kini.
"Kamu tunggu di bawah. Daddy turun sebentar lagi," ucapnya kemudian.
Blug!
Pintu pun kembali di tutup kasar.
"Ada apa, Mas?" tanya Vania duduk di atas ranjang.
"Putra kedua Mas kecelakaan."
'Syukurlah,' (batin Vania).
"O ya? Sekarang dia dimana? Kita harus ke sana sekarang juga. Maksud aku, Mas harus ke sana sekarang juga," ujar Vania. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dirinya benar-benar merasa lega, karena akhirnya bisa terbebas dari yang namanya malam pertama.
"Pakai pakaian kamu, kita ke sana sekarang juga."
"Kita? Bukannya Mas saja yang ke sana?"
'Ya Tuhan,' (batin Vania).
"Tentu saja kita, kamu istri Mas. Mas ingin kamu ikut kemana pun Mas pergi. Lagi pula, ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukan bahwa kamu adalah ibu sambung yang baik untuk anak-anaknya Mas."
'Hah? Ibu sambung? Aku masih muda, masa iya udah jadi ibu? Ibu tiri gitu?' (batin Vania).
"Sayang! Ko bengong? Cepat ganti pakaian kamu."
"Hmm! Baiklah," singkat Vania dengan perasaan malas.
"Mas tunggu di bawah ya."
Vania hanya menganggukkan kepalanya samar.
Arion segera keluar dari dalam kamar. Sedangkan Vania turun dari atas ranjang dengan perasaan kesal. Dia memang terbebas dari yang namanya malam pertama, tapi dirinya merasa sangat keberatan dengan pernyataan suaminya yang mengatakan bahwa dia harus ikut kemanapun Arion pergi.
"Haaaa! Kenapa aku harus ikut kemanapun aki-aki itu pergi? Malu 'kan kalau sampai orang-orang tau bahwa laki-laki tua itu adalah suamiku?" teriak Vania merasa kesal.
* * *
Di Rumah Sakit.
"Syukurlah, kamu hanya luka ringan. Kata Dokter, kamu sudah bisa pulang sekarang juga," ucap Arion. Dia duduk di tepi ranjang di ruangan Unit Gawat Darurat bersama Vania yang saat ini memasang wajah datar.
"Dia Mommy baru aku, Dad? Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa merasakan memiliki seorang ibu," ucap Ryan, membuat Vania seketika merasa tertegun.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸
kasihan anak rion ..pasti ryan akan menyayangi km vania
2023-04-10
1
༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸
sabar van..enak2...🤣🤣🤣
2023-04-10
1