Ibu Tiri Yang Jahat

Ryan, putra kedua Arion. Remaja berusia 15 tahun itu baru saja mendapat musibah kecelakaan motor. Untungnya dia tidak mengalami luka serius. Hanya beberapa luka lecet di bagian kaki juga kedua tangannya.

Pemuda itu terlihat lebih cool dari sang kaka, Dion. Dia menatap wajah Vania dengan tatapan mata sayu. Jelas terlihat dari kedua matanya bahwa pemuda itu haus akan kasih sayang dan belaian dari seorang ibu.

"Apa dia ibu sambung aku, Dad? Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ibu," ucap Ryan membuat Vania seketika merasa tertegun.

"Hah? Eu ... Hehehehe! Iya, Tante ibu sambung kamu," jawab Vania tersenyum cengengesan.

"Ibu sambung apaan, mana ada ibu sambung yang umurnya cuma beda beberapa tahun saja dari kaka," celetuk Dion dengan begitu entengnya.

"Dion? Yang sopan kamu ya! Mau Daddy pangkas habis uang saku kamu?" gertak Arion merasa tidak terima tentu saja.

"Ish ... Jangan dong, Dad. Kalau Daddy pangkas habis uang saku aku, aku sekolahnya gimana? Gak bisa traktir teman cewek aku nanti."

"Makannya punya mulut itu di jaga! Mulut kamu itu udah kayak emak-emak kompleks, nyerocos gak guna!"

"Sudah cukup, Mas. Ini Rumah Sakit, gak baik bertengkar dengan anak sendiri di tempat umum kayak gini," timpal Vania mencoba untuk menengahi.

"Lihat, ibu kamu ini gak marah sama sekali meskipun udah di katain seperti itu sama kamu. Mulai sekarang kamu harus hormat sama dia, paham!?"

"Siap, komandan!"

"Dasar anak nakal."

"Ya sudah, aku pulang duluan. Ryan ... Karena sekarang sudah ada Mommy tiri yang baik hati dan cantik ini, maka kakak tak perlu lagi ada di sini, kamu pulang sama mereka, oke?" ujar Dion hendak pergi.

"Kamu mau kemana? Langsung pulang jagain Sultan, kasian dia sendirian di rumah," pinta Arion sang ayah.

'Sultan? Sultan siapa lagi? Sebenarnya aku punya berapa anak tiri? Dion, Ryan dan sekarang Sultan? Ya Tuhan, malang sekali nasibku,' (batin Vania).

"Hmm ... Sultan 'kan udah gede, Dad. Tak perlu di jagain segala. Lagian, sekarang 'kan ada Mommy Vania, tugas dia buat jagain Sultan. Percuma dong punya ibu tiri kalau mesti aku juga yang jagain adik-adik aku!"

"Hah?"

'Memangnya aku baby sister apa jagain anak kecil, ikhhhh ... Si Dion ini nyebelin banget sih. Harus aku apakan mereka semua? Apa aku harus menjelma menjadi ibu tiri yang jahat kayak di film-film jaman dulu itu?' (batin Vania).

"Ish, kamu ini. Mommy kamu ini 'kan lagi ada di sini. Pokoknya, kamu gak boleh kemana-mana, kalau sampai kamu membantah apa yang Daddy katakan ini, Daddy bakalan sita mobil juga kartu kredit kamu, paham?!" tegas Arion penuh penekanan.

"Ngancam terus!" decak Dion, pergi begitu saja meninggalkan sang ayah.

"Dion!"

"Sudah cukup, Mas. Malu di dengar pasien lain," decak Vania mengusap punggung sang suami lembut.

Arion menarik napas berat, dia mencoba menahan emosi yang sebenarnya ingin sekali dia ledakan. Putra pertamanya itu selalu saja membangkang. Mereka memang selalu seperti ini setiap hari, perdebatan saat ini hampir setiap hari terjadi.

"Mommy gak usah heran. Kak Dion memang seperti itu, dia agak nakal dan selalu berdebat dengan Daddy, tapi kaka sayang ko sama adik-adiknya," ujar Ryan mencoba untuk memberi pengertian kepada ibu sambungnya.

"O ya? Hmm ... Syukurlah," jawab Vania singkat.

* * *

Keesokan harinya.

Vania merentangkan kedua tangannya. Dia pun mengedipkan pelupuk matanya secara berkali-kali saat sinar matahari terasa hangat menyentuh permukaan wajahnya kini.

"Huuaaaa! Tidurku nyenyak sekali."

"Good morning, honey!"

"Haaaa! Mas? Mas lagi apa?" Vania sontak berteriak kencang.

Suaminya saat ini sedang menatap wajahnya dengan menopang kepala menggunakan telapak tangannya sendiri. Wajah mereka bahkan berada sangat dekat membuat wanita itu harus sedikit memundurkan kepalanya agar tercipta jarak di antara mereka.

"Tidurmu lelap sekali, sayang. Mas sampai lelah nungguin kamu bangun," ujar Arion tersenyum cengengesan.

"Jadi Mas dari tadi liatin aku tidur kayak gini?"

"Dari pagi, bukan dari tadi lagi. Kamu menggemaskan sekali saat lagi tidur kayak gini, honey."

"Dih, Mas apaan sih? Gak ada kerjaan banget sih!" decak Vania hendak bangkit.

"Mas emang lagi gak ada kerjaan. Mas mau nagih sesuatu sama kamu."

"Hah? Nagih apa?"

"Yang kemarin itu. Semalam sepertinya kamu kelelahan, makannya Mas gak gangguin kamu tidur."

Glegek!

Vania seketika menelan ludahnya kasar. Apa mungkin suaminya itu menagih malam pertama yang sempat tertunda kemarin? Jika iya, harus bagaimana lagi agar dirinya bisa terbebas dari malam pertama yang begitu diidam-idamkan oleh suaminya itu.

"Ini masih pagi, Mas. Mulutku bau naga lho. Aku juga kalau tidur ileran, haaaa ... Bau 'kan?" Vania beralasan, dia bahkan dengan sengaja membuka mulutnya lebar-lebar agar bau tidak sedap bisa tercium oleh suaminya.

"Tak masalah, gak bau sama sekali ko. Justru sebaliknya, bau naga kamu tercium seperti bau kasturi yang begitu menyegarkan."

'Astaga! Mulutku bau gini masa di bilang wangi kasturi. Nih aki-aki benar-benar ya,' (batin Vania).

"Mas ada-ada saja, orang bau kayak gini, di bilang wangi, hahahaha!" Vania seketika tertawa ringan, tentu saja tawa yang sangat di paksakan karena sejatinya dirinya benar-benar merasa gugup sebenarnya.

"Beneran gak bohong, semua yang ada di diri kamu ini spesial. Mas sudah lama memperhatikan kamu setiap kali Mas berkunjung ke rumah ayahmu itu."

"Jadi, diam-diam Mas suka memperhatikan aku, begitu?"

"Bisa di bilang, Mas ini pengagum rahasia kamu."

'Hah? Hahahaha! Dasar tua bangka, udah tua juga masih saja pandai menggombal,' (batin Vania).

"Jadi gimana? Mas sudah bilang kemarin, siap gak siap kamu harus siap. Mas udah benar-benar gak sabar, honey. Mas mulai sekarang aja ya." Arion hendak mendaratkan ciuman, tapi usahanya itu gagal saat sang istri tiba-tiba saja menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.

"Tunggu, Mas," pinta Vania kemudian.

"Apa lagi, sayang? Astaga!"

"Aku mau pipis dulu, sekalian aku mau sikat gigi dulu sebentar."

"Oke, Mas kasih waktu 15 menit. Kalau dalam waktu 15 menit kamu gak keluar juga, Mas bakalan masuk ke dalam kamar mandi dan kita melakukannya di sana, mau?"

"Tidak! Aku janji gak akan lama. Beneran deh."

Arion menganggukkan kepalanya dengan hati yang sedikit kesal sebenarnya.

Vania segera turun dari atas ranjang. Dengan setengah berlari, wanita itu segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan mencari cara agar dirinya bisa membatalkan ritual malam pertama itu.

15 menit kemudian.

"Sayang, waktunya habis!" teriak Arion terdengar tidak sabar.

Ceklek!

Pintu kamar mandi pun di buka lebar. Vania keluar dari dalamnya dengan tubuh yang gemetar.

BERSAMBUNG

...****************...

Terpopuler

Comments

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

sabar y van..😂

2023-04-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!