Mantan Istri

Arion seketika tersenyum senang. Rasa gundah di hatinya seperti terobati. Ucapan istrinya itu bagai sebuah kekuatan yang luar biasa baginya.

Dia tiba-tiba saja memeluk tubuh Vania erat. Di depan putra sulungnya juga di hadapan putra bungsunya, dia memperlihatkan rasa cintanya kepada ibu sambung mereka.

Dion yang menyaksikan hal itu tentu saja merasa senang melihatnya. Dia pun sadar, bahwa kebahagiaan ayahnya adalah kebahagiannya juga, dan hanya wanita bernama Vania yang dapat membahagiakan ayahnya itu.

"Terima kasih, honey. Akhirnya Mas bisa mendengar kamu mengucapkan kata-kata itu. Sudah lama sekali Mas ingin mendengarnya dari mulut kamu. Love you, honey," bisik Arion, tapi masih dapat di dengar dengan jelas oleh kedua putranya.

"Cukup, Mas. Malu dilihatin anak-anak," ucap Vania menahan senyuman di bibirnya.

"O iya, Mas lupa kalau ada anak-anak juga di sini." Arion seketika mengurai pelukan, wajahnya pun nampak memerah merasa malu tentu saja.

"Eu ... Gak apa-apa, anggap saja kami ini obat nyamuk. Hehehehe!" ledek Dion tertawa cengengesan.

Baik Arion maupun Vania seketika merasa gugup. Wajah mereka pun memerah. Jantung Vania bahkan terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Perasaan wanita itu seketika merasa bahagia di tengah keadaan Ryan yang sebenarnya belum ada kepastian.

Dion menghampiri adik bungsunya. Dia duduk di samping sang adik lalu melingkarkan tangannya di pundak Sultan. Putra sulung dari Arion itu tersenyum ramah kepadanya.

"Sultan, apa tidak sebaiknya kamu pulang saja? Besok kamu harus sekolah lho," pinta Dion kemudian.

"Iya, Nak. Lebih baik kamu pulang saja. Kasian kalau kamu harus berlama-lama si Rumah Sakit," timpal Vania.

"Tapi Kak Ryan gimana? Aku takut dia kenapa-napa," jawab Sultan menundukkan kepalanya.

"Kakakmu baik-baik saja, sayang. Kami hanya tinggal menunggu dia siuman saja. Kamu boleh kembali ke sini lagi ko."

Sultan nampak kecewa, tapi dia pun menganggukkan kepala juga pada akhirnya. Putranya itu benar-benar patuh dengan apa yang yang diperintahkan oleh Vania sang ibu tiri. Lagi-lagi Arion tersenyum merasa bangga, istrinya itu benar-benar telah berhasil menaklukan ketiga putranya.

"Baiklah, aku pulang dulu, Dad, Mom," Pamit Sultan, menyalami ayah serta ibunya secara bergantian.

"Aku akan mengantarkan Sultan pulang dulu, Dad, Mom." Dion pun melakukan hal yang sama.

"Hati-hati di jalan, jaga adik kamu baik-baik, Dion," pesan Vania.

"Baik, Mom."

Keduanya pun berjalan meninggalkan Rumah Sakit. Tinggalah Arion dan istrinya di sana kini. Laki-laki itu menggenggam kuat pergelangan tangan Vania, seraya menatap wajah cantiknya yang terlihat natural tanpa balutan make up sedikit pun.

"Kamu pasti lelah, honey. Apa tidak sebaiknya kamu pulang dan istirahat juga?" tanya Arion.

"Nggak, Mas. Mana mungkin aku bisa pulang dan istirahat sementara Ryan sama sekali belum siuman? Aku gak bisa beristirahat dengan tenang sebelum memastikan putra kita baik-baik saja."

"Hmm .. Ya sudah, sandarkan kepala kamu di bahunya, Mas. Kamu bisa beristirahat di sini saja kalau begitu."

Vania mengangguk kecil. Dia pun mengikuti apa yang dipintakan oleh suaminya. Perlahan dirinya mulai menyandarkan kepala di bahu lebar sang suami. Rasanya sangat menenangkan, bahu lebar itu seolah mampu membuat kepalanya yang semula terasa berat akibat masalah yang sedang di hadapannya saat ini seketika terasa tenang.

"Mudah-mudahan Ryan segera siuman, aku benar-benar khawatir, Mas," lemah Vania kemudian. Dia yang semula terlihat tegar seketika nampak rapuh.

"Mas juga berharap begitu. Katamu Ryan pasti akan baik-baik saja? Mari kita bicara dan berharap yang baik-baik. Ingat, ucapan adalah doa."

Vania menganggukkan kepalannya, dia pun melingkarkan tangannya di pinggang sang suami mesra. Perlahan, wanita itu mulai memejamkan kedua matanya.

* * *

Setelah menunggu selama 2 jam. Akhirnya Dokter memperbolehkan pasien bernama Ryan untuk di pindahkan ke ruangan rawat inap. Organ vitalnya sudah berfungsi dengan normal, konsisi Ryan pun sudah membaik, tapi remaja itu masih belum siuman entah mengapa. Putra dari Arion Delana itu seolah sedang tertidur dengan begitu lelapnya.

Arion tidak akan berhenti berharap, begitu pun dengan Vania yang dengan setia menemani suaminya. Mereka sudah berada di ruangan VVIP, menatap Ryan yang saat ini tergolek lemah di atas ranjang.

"Ryan, putranya Daddy. Maafkan atas kemarahan Daddy tadi, seharunya Daddy tidak bersikap seperti itu. Daddy benar-benar menyesal. Bangunlah, Nak," bisik Arion, mengusap punggung tangan putranya lembut dan penuh kasih sayang.

Ryan masih bergeming di tempatnya. Kedua matanya masih tertutup rapat, jarum infus menempel sempurna di pergelangan tangan kirinya. Menurut Dokter, Ryan sama sekali tidak dalam keadaan koma, hanya saja alam bawah sadar remaja itu seolah menolak untuk bangun. Separah itulah kondisi jiwa Ryan sebenarnya, dan tidak ada yang tahu tentang hal itu selama ini.

"Ryan pasti bangun, Mas. Mungkin dia hanya ingin beristirahat sejenak," lirih Vania mencoba untuk menenangkan.

"Sepertinya begitu. Mas juga yakin dia pasti bangun, kita tunggu saja."

Ceklek!

Pintu ruangan tiba-tiba saja di buka tanpa di ketuk. Seorang wanita masuk ke dalam kamar dengan wajah memerah. Arion yang saat ini berdiri bersama sang istri tentu saja merasa terkejut dengan kedatangan wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah, ibu dari anak-anaknya.

"Veronika?" gumam Arion membulatkan bola matanya.

"Kamu apakan putra aku, Mas? Kenapa dia bisa jadi seperti ini? Kamu benar-benar tidak becus dalam merawat putra-putra kita!" teriak Veronika murka, menghampiri sang putra.

"Apa-apaan kamu? Setelah menghilang sekian lama, tiba-tiba saja kamu datang dan bilang bahwa saya tidak becus dalam merawat anak-anak? Ibu macam apa kamu?" teriak Arion, wajahnya seketika memerah.

"Cukup, Mas. Tahan emosi kamu, ini Rumah Sakit," lirih Vania mencoba untuk menenangkan suaminya.

"Jadi ini istri baru kamu? Pantas saja putraku jadi seperti ini, ternyata kamu sibuk dengan istrimu yang masih muda ini. Benar-benar keterlaluan kamu, Mas Arion."

"Saya sedang tidak ingin berdebat sama kamu, Veronika. Lebih baik kamu keluar dari sini sebelum saya menyeret kamu keluar dari sini!"

"Seperti yang kamu lakukan kepadaku 10 tahun yang lalu?"

"Ya, seperti itu. Kamu mau saya melakukannya lagi sekarang?"

Veronika mendengus kesal. Dia pun menatap Vania dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan tajam. Bagaimana bisa wanita muda itu bersedia menikahi mantan suaminya yang sudah berusia 43 tahun itu?

"Tunggu apa lagi? Cepat keluar dari sini!" teriak Arion, rahangnya mengeras menahan rasa kesal.

"Dengarkan aku, Mas Arion. Setelah Ryan pulih, aku akan membawanya bersamaku. Kalau perlu, aku akan mengajukan hak asuk ke pengadilan atas ketiga putraku."

"Tidak, saya ti--" Arion tidak meneruskan ucapannya, saat melihat Ryan sang putra tiba-tiba saja membuka kedua matanya.

"Mommy," lemah Ryan kemudian.

"Iya, sayang," jawab Vania dan juga Veronika secara bersamaan.

BERSAMBUNG

...****************...

Terpopuler

Comments

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

nah ryan sadar...mau milih siapa tuh dia..

2023-04-17

0

Diana Susanti

Diana Susanti

hayokam

2023-04-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!