Ibu Yang Baik

Arion masuk ke dalam kamar. Menyaksikan kebersamaan Vania dengan Sultan putra bungsu membuat hatinya merasa senang. Dia pun menatap keduanya dengan tatapan mata berbinar. Mengetahui kedatangan suaminya, Vania pun sontak mengurai pelukannya kemudian.

"Mas? Sejak kapan Mas di situ?" tanya Vania.

"Mas baru saja datang," jawab Arion duduk di tepi ranjang.

"Aku keluar dulu, Mom, Dad," pamit Sultan berdiri dan hendak keluar dari dalam kamar.

"Besok Mommy pasti datang, kamu tidak usah khawatir, oke?"

Sultan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang. Dia pun benar-benar keluar dari dalam kamar dengan hati riang. Senyuman lebar nampak mengembang dari kedua sisi bibir remaja berusia 12 tahun itu.

"Apa besok ada acara di sekolah Sultan?" tanya Arion menatap lekat wajah cantik Vania.

"Besok ada rapat orang tua murid katanya, dia meminta aku untuk datang ke sekolah."

"Oh begitu, tumben dia gak bilang sama Mas?"

"Mas pernah datang ke sekolah Sultan?"

Arion menggelengkan kepalnya.

"Lho, Kenapa? Mas ayahnya, masa iya tak pernah datang ke sekolah anak sendiri?"

"Bukannya Mas gak mau, tapi putra Mas sendiri yang menolak untuk Mas datang ke sana. Katanya teman-temannya selalu didampingi sama ibunya, dia malu kalau Mas yang datang."

"Bukan karena Mas-nya yang sibuk?"

"Hah? Kata siapa?"

"Kata putra Mas 'lah, siapa lagi?"

"Sesibuk-sibuknya Mas, Mas pasti luangkan waktu kalau dia yang minta, tapi ini ... Sultan sama sekali tidak pernah mengatakan apapun."

"Masa?"

Arion mengerutkan kening. Ekspresi wajah istrinya itu terlihat begitu menggemaskan, laki-laki berusia 43 tahun itu pun seketika tertawa nyaring.

"Hahahaha! Kamu benar-benar menggemaskan, honey."

"Dih, menggemaskan apanya?"

"Hmm ... Walau bagaimana pun, terima kasih karena telah menjadi ibu yang baik untuk putra-putranya Mas. Mereka kurang kasih sayang. Mas berpisah dengan ibunya anak-anak 10 tahun yang lalu. Semenjak itu, ibunya mereka tidak pernah sekalipun datang ke sini untuk menemui mereka."

"Kenapa Mas gak menikah lagi?"

"Kan udah sekarang!"

"Kenapa gak dari dulu Mas nikah lagi?"

"Hmm ... Mungkin karena jodoh Mas itu adalah kamu, makannya baru menikah sekarang. Mas berharap kamu bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk mereka."

Vania hanya tersenyum kecil lalu menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu apakah dirinya bisa menjadi ibu yang baik untuk putra sambungnya itu. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana dan seperti apa agar dirinya bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka.

Dia merasa bahwa, dirinya hanyalah wanita yang masih berusia 23 tahun yang di paksa oleh keadaan untuk menikah dan menjadi seorang ibu di tengah hatinya yang sebenarnya belum merasa siap sama sekali.

"O iya, Mas mau memberikan ini. Ini adalah uang bulanan kamu alias uang belanja kamu, honey," ujar Arion menyerahkan amplop coklat berisi uang tunai.

"Uang belanja?" Vania menerima uang tersebut dengan kening yang di kerutkan, dia pun membuka dan mengintip uang yang ada di dalamnya.

"Ini banyak sekali, Mas?" tanyanya kemudian.

"Banyak? Hahahaha! Mas akan memberikan 10 juta setiap bulan. Terserah kamu mau di habiskan atau tidak, kamu bebas belanja apapun, beli apapun kebutuhan kamu."

Vania tentu saja tersenyum lebar. Dia sama sekali tidak pernah memiliki uang sebanyak itu sebelumnya. Apa lagi suaminya ini akan memberikan uang sebanyak ini setiap bulannya. Waaah! Vania benar-benar merasa kegirangan.

"Ko malah senyum-senyum sendiri?" tanya Arion seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Vania Clarisa.

"Hah? Eu ... Nggak ko, aku hanya--" Vania tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak ingin terlalu menunjukkan jiwa matrenya di depan sang suami.

"Hmm! Apa boleh kita anu?" tanya Arion mengusap punggung tangan istirnya lembut penuh kasih sayang.

"Anu apa?"

"Ish, gak peka banget sih, honey. Kita 'kan pengantin baru. Masa kamu gak ngerti apa yang Mas maksud?"

Vania seketika memalingkan wajahnya. Dia mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh suaminya itu, dan dia pun sedang menginginkannya juga sebenarnya. Namun, dirinya terlalu malu untuk mengatakan bahwa dia pun sedang menginginkan di puaskan di atas ranjang.

"Honey?"

"Hah? Eu, iya Mas."

"Ko diam saja? Kalau kamu lagi gak mood juga gak apa-apa, kita bisa melakukannya nanti malam?"

"Hah? Siapa bilang?"

"Jadi kamu mau?"

Vania menganggukkan kepalanya dengan perasaan malu-malu. Seketika itu juga, Arion segera menyambar tubuh istirnya. Laki-laki itu pun hendak mendaratkan ciuman. Namun, gerakannya seketika terhenti saat satu jari Vania menahan bibirnya.

"Kenapa, honey?"

"Pintunya belum di kunci, kalau nanti putra Mas ada yang masuk gimana?" pinta Vania membuat Arion seketika tersenyum kecil.

"O iya Mas lupa, tunggu sebentar, honey." Arion seketika bangkit, dia pun berjalan ke arah pintu lalu menguncinya kemudian.

Setelah memastikan pintu terkunci rapat, Arion kembali berjalan ke arah ranjang. Tanpa basa-basi lagi, laki-laki itu hendak menerkam tubuh sang Istri yang saat ini di tutup seluruhnya dengan selimut tebal. Arion menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuh Vania, kedua matanya seketika membulat sempurna tatkala mendapati tubuh sang istri yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.

"Akh! Honey, kamu benar-benar istri yang pengertian. I love you, honey," decak Arion seketika langsung menerkam tubuh istrinya tanpa ampun.

"Akh! Mas ... Pelan-pelan, sabaaaar Mas!" teriak Vania kemudian.

* * *

Satu minggu kemudian.

Tok! Tok! Tok!

"Ryan, ini Mommy. Boleh Mommy masuk?" pinta Vania, mengetuk pintu kamar Ryan putra kedua dari suaminya.

Akan tetapi, berkali-kali dia melakukan hal itu Vania sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun, padahal dia tahu betul bahwa putra sambungnya itu berada di dalam sana. Merasa khawatir, Vania pun memutuskan untuk membuka pintu kamar dan masuk kedalamnya kemudian.

Ceklek!

Pintu kamar pun di buka lebar, Vania masuk ke dalam kamar seraya menatap sekeliling. Suasana kamar nampak sedikit berantakan, tirai gorden bahkan masih menutupi jendela, menghalau sinar matahari yang masuk membuat kamar tersebut dalam keadaan gelap minim cahaya.

Vania meraih satu-persatu pakaian yang berserakan di atas lantai. Sepertinya putranya itu sedang membersihkan diri di kamar mandi.

"Astaga anak laki. Kenapa pakaian di biarkan berantakan seperti ini," gumam Vania menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba saja, sebuah benda aneh terjatuh dari saku celana jeans yang baru saja dia raih. Sontak, wanita itu segera meraih barang tersebut dan menatapnya dengan seksama.

"Apa ini?" gumam Vania, menatap bungkusan kecil berisi bubuk putih terlihat mencurigakan.

Ceklek!

Pintu kamar mandi pun di buka. Ryan keluar dari dalamnya dengan bertelanjang dada. Remaja itu nampak menatap wajah Vania dengan tatapan heran tentu saja.

"Mommy, sedang apa Mommy di sini?" tanya Ryan mengerutkan kening.

BERSAMBUNG

...****************...

Terpopuler

Comments

Siti Maryam

Siti Maryam

mp nya kurang gigit.. kurang gereget.bikin bucin vania

2023-05-14

2

Puja Kesuma

Puja Kesuma

pantasan sultan gk kenal ibunya krn saatvitu sultan msh balita... 10 tahun menduda untung gk karatan lato latinya orion 😁😁😁

2023-04-25

1

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

barang haram kah itu..

2023-04-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!