Menikah Untuk Melunasi Hutang

Vania sontak mengepalkan kedua tangannya. Apa yang baru saja diucapkan oleh Dion sukses membuatnya merasa kesal. Jadi selama ini putra sulung dari suaminya itu tahu, kenapa dia menikah dengan ayahnya? Hati seorang Vania benar-benar merasa terusik.

Setelah puas mengatakan hal itu, Dion pergi begitu saja dengan perasaan penuh kemenangan. Sementara Vania segera masuk ke dalam kamar. Wanita itu menyandarkan tubuhnya di belakang pintu. Dadanya seketika terasa sesak. Ya ... Semua yang di ucapkan oleh anak tirinya itu memanglah benar adanya. Dia menikahi Arion hanya untuk melunasi hutang-hutang sang ayah yang tidak sanggup dia bayar.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu yang diketuk seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Vania. Dia pun membuka pintu kamar dengan wajah masam. Hal itu pun tentu saja di sadari oleh Arion suaminya.

"Kamu kenapa, honey? Kamu menangis?" tanya Arion membingkai kedua pipi sang istri dengan telapak tangannya.

"Mas ..." Rengek Vania dengan nada suara manja.

"Iya, honey. Ada apa? Apa kamu masih terusik dengan apa yang dilakukan Sultan tadi? Mas minta maaf, sayang."

"Tidak, bukan itu," jawab Vania berjalan ke arah ranjang lalu duduk kemudian.

"Lalu apa? Tadi kamu terlihat baik-baik saja. Kamu bahkan bisa menaklukan hati Sultan dengan mudah lho, Mas bangga sama kamu, honey."

"Aku menikah dengan Mas untuk melunasi hutang ayah. Betul?"

"Betul. Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?"

Vania hanya mengusap wajahnya kasar. Benar yang tadi diucapkan oleh Dion, bahwa dirinya hanyalah wanita yang telah di jual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi hutang. Rasa rendah diri seketika memenuhi relung hatinya kini.

"Mas lupa memberitahukan kamu satu hal, honey. Sebenarnya Mas sudah mengikhlaskan semua hutang-hutang ayah kamu. Mas dan ayah kamu itu bersahabat, Mas tahu bahwa ayahmu tidak bisa membayar hutang bekas pengobatan ibumu yang telah tiada itu, tapi ayahmu bersikeras menjodohkan kamu dengan Mas, dia kata anggap saja itu untuk melunasi hutang-hutang beliau."

"Meskipun Mas telah mengikhlaskan semua uang yang telah di pinjam oleh ayahmu, Mas tak bisa menolak tawaran dia untuk menikah dengan kamu, honey. Karena apa? Karena sudah lama Mas mengangumi kamu, seperti yang pernah Mas katakan sama kamu. Mas ini adalah pengagum rahasia kamu sebenarnya, sejak lama. Itu sebabnya Mas senang sekali ketika ayahmu menawarkan untuk menikahi kamu," jelas Arion panjang lebar.

"Ayah jahat, ternyata ayahku yang jahat. Hiks!" lirih Vania seketika berlinang air mata.

"Tidak, bukan ayahmu yang jahat, tapi Mas yang jahat. Mas tahu kamu tidak mencintai Mas, tapi Mas tetap menikahi kamu, maafkan Mas, honey. Mas cinta sama kamu."

Vania seketika memalingkan wajahnya. Masa depannya benar-benar hancur, begitupun dengan kebebasannya sebagai wanita muda yang senang berpetualangan. Dia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi istri dari laki-laki tua dan juga mengurus ketiga putra sambungnya.

"Honey, Mas tahu Kamu tidak mencintai Mas. Mas sadar betul akan hal itu, tapi sayang. Mas janji akan membuat kamu mencintai Mas. Mas Arion mu ini akan menjadikan kamu ratu di rumah ini, oke?"

Vania diam seribu bahasa. Buliran air mata semakin deras membasahi wajah cantiknya kini. Arion sang suami seketika memeluk tubuh istrinya erat, meskipun Vania sama sekali tidak membalas pelukan hangat darinya.

* * *

Satu minggu kemudian.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu kamar yang diketuk membuat Vania sontak menyudahi rebahan santainya. Ya ... Seharian ini dia hanya berbaring santai tanpa melakukan apa pun. Rasa bosan dan jenuh memenuhi hati seorang Vania sebenarnya.

"Siapa?" teriaknya kemudian.

"Ini aku, Mom. Sultan, boleh aku masuk?"

Vania menarik napas malas. Dia pun duduk tegak di atas ranjang sebelum akhirnya mempersilahkan putra bungsunya itu untuk masuk ke dalam kamar. Vania Clarisa akan menjalankan perannya sebagai ibu tiri yang baik.

Ceklek!

Pintu kamar pun di buka lebar. Sultan yang saat ini masih memakai pakaian putih biru masuk ke dalam kamar. Dia berjalan menghampiri lalu duduk di tepi ranjang. Wajah polos seorang Sultan menatap wajah sang ibu tiri dengan tatapan mata sayu.

"Apa aku menganggu waktu istirahatnya Mommy?" tanya Sultan kemudian.

"Tidak, ada perlu apa kamu ke kamar Mommy, tumben?" jawab Vania tersenyum ramah.

"Sebenarnya besok ada rapat orang tua murid di sekolah. Apa Mommy mau datang menggantikan kak Dion?" tanya Sultan membuat Vania seketika mengerutkan kening.

"Menggantikan kak Dion? Memangnya Daddy kamu gak pernah datang ke rapat orang tua?"

Sultan menggelengkan kepalanya.

"Lho, kenapa?"

"Daddy selalu sibuk. Beliau gak mungkin ada waktu buat datang ke sekolah aku. Biasanya kak Dion yang selalu mewakili Daddy."

Vania seketika terdiam seraya berpikir keras. Sesibuk apa suaminya itu sampai-sampai mengabaikan putranya sendiri? Dia memejamkan kedua matanya, apa iya dirinya akan menghadiri rapat orang tua murid di Sekolah Menengah Pertama tempat Sultan menimba ilmu selama ini? Sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.

"Gimana, apa Mommy mau melakukannya? Jika boleh berkata jujur, aku iri sama teman-teman aku yang lain, mereka selalu didampingi ibunya saat ada acara di sekolah. Sedangkan aku, sekalipun aku gak pernah merasakan hal itu," tanya Sultan menunduk sedih.

"Hmm ... Kalau boleh Mommy tahu, dimana ibu kandung kamu?"

"Aku gak tahu, sudah lama sekali aku gak pernah ketemu sama Mommy. Yang aku ingat, Daddy mengusir Mommy dari rumah ini. Aku juga gak tahu karena apa, tapi aku kangen banget sama Mommy aku itu sebenarnya."

Hati seorang Vania seketika merasa tersentuh. Dia tahu betul bagaimana rasanya merindukan sosok seorang ibu, karena dirinya pun belum lama kehilangan ibu kandungnya untuk selamanya. Vania Clarisa seketika memeluk tubuh Sultan seraya mengusap kepalanya lembut dan penuh kasih sayang.

"Baiklah, besok Mommy bakalan datang ke sekolah kamu. Kamu gak usah sedih lagi ya."

Sultan sontak tersenyum senang. Dia pun melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu penuh kasih sayang. Remaja berusia 12 tahun itu merasa nyaman berada di dalam dekapan hangat sang ibu tiri.

Tiba-tiba saja, Arion masuk ke dalam kamar. Menyaksikan istrinya memeluk tubuh sang putra benar-benar membuat hati seorang Arion merasa senang. Dia pun tersenyum lebar karena tidak salah dalam memilih seorang istri.

'Terima kasih, honey. Terima kasih karena telah menjadi ibu yang baik untuk putra-putranya Mas,' (batin Arion).

BERSAMBUNG

...****************...

Terpopuler

Comments

Puja Kesuma

Puja Kesuma

mmg kamu gk salah memilih istri orion...cantik..msh muda..dan baik hati

2023-04-25

1

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

༄༅⃟𝐐𝗧𝗶𝘁𝗶𝗻 Arianto🇵🇸

smg dion jg bisa menerima ibu sambungnya sprt sultan

2023-04-12

1

Diana Susanti

Diana Susanti

lanjut kak mantab

2023-04-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!