Chapter 07 : Sebuah Game Selalu Bisa Menyelesaikan Perdebatan

Pada akhirnya aku mengajak Alexia pergi ke pusat game di mall, dia memasang wajah tidak senang.

"Apa maksudmu dengan semua ini?"

"Dari kita bertiga tidak ada orang yang ahli dalam perkelahian, terlebih kami jelas tidak akan bisa mengalahkanmu, biar adil mari kita bertarung dalam permainan game."

"Itu artinya aku dirugikan."

Aku menggelengkan kepalaku.

"Rin masih pemula karena itulah jika kamu dan dirinya bertarung, itu adalah hal adil."

Albert dan Rin menyetujui keputusanku, dibandingkan dengan yang ditawarkan gadis ini apa yang kulakukan jauh lebih baik.

Kami semua tidak ingin ada yang bonyok.

Pada akhirnya Alexia menyetujuinya, dan Albert mulai menjelaskan semua fungsi tombol pada keduanya.

Game yang kami pilih adalah game pertarungan dengan karakter merupakan pelayan maid, siapapun yang bisa menang dua kali ia akan dinyatakan pemenangnya.

Pertama aku memasukan koin untuk keduanya, walau di zaman sekarang game-game terbilang canggih dan bisa dimainkan di ponsel, mesin din-dong tetap saja masih eksis dan digandrungi beberapa orang.

Alexia memilih seorang pelayan berkulit gelap dengan sarung tinju di kedua tangannya sementara Rin memilih maid dengan pedang di pinggangnya.

"Mereka pemula tapi memilih karakter dengan status serangan tinggi."

"Mereka mungkin tidak tahu game tapi masih mengetahui angka-angka," kataku pada Albert sebelum kembali pada layar yang telah memulai permainan.

Ada dua bar yang ditampilkan pada setiap player, pertama bar darah dan kedua bar energi, energi di dapat saat karakter berhasil memukul musuh ataupun menerima damage.

Ketika bar energi penuh pemain harus menekan tiga tombol secara bersamaan untuk melakukan serangan kuat, paling tidak memberikan 30 persen damage jika kena.

Kedua karakter mulai menggunakan kemampuannya.

"Job impact," suara untuk karakter Alexia.

"Soul Blade," untuk karakter Rin.

Keduanya belajar lebih cepat dari yang aku pikirkan. Critical damage didapat Rin hingga dia terlempar.

Karakter pemenang menunjukkan pose imut selagi berkata, moe-moe attack.

"Aku suka bagian itu."

Aku bisa mengerti dengan sikap Albert, tapi kuharap dia mau sedikit menjauh dari layar, ia tipe laki-laki yang akan mengintip rok action figur.

Aku yakin.

"Maaf Tora, aku kalah."

"Jangan khawatir masih ada satu pertandingan lagi. Cobalah untuk sedikit rileks, jangan pikirkan kemenangan tapi cobalah untuk menikmatinya."

"Dimengerti."

"Sepertinya aku terlahir untuk bertarung di dunia nyata ataupun game."

Aku hanya membalas Alexia dengan menghembuskan nafas lelah.

Permainan dimulai kembali dengan karakter yang sama, karakter Alexia terlempar dan itu menjadikannya kekalahan yang cukup dramatis.

Perbedaan darah mereka sama sekali tidak jauh beda.

Alexia terlihat kesal dan pertandingan masuk ke babak terakhir.

"Kamu bisa melakukannya Rin."

"Aku akan berjuang."

Aku mengangguk ke arahnya.

Pertandingan terakhir menjadi pertandingan yang cukup lama dan itu ditentukan oleh waktu yang membuat Rin keluar jadi pemenangnya, Alexia menundukkan kepalanya dengan wajah kesal.

"Apa kau mau mencoba untuk melarikan diri sekarang?" tanya Albert.

"Tentu saja tidak, aku selalu menempati janji serta menerima kekalahanku... aku akan bergabung dengan kalian."

Dia berdiri sebelum mengambil tasnya.

"Berikan ponselmu."

Aku mendengarkannya dan saat dia mengembalikannya ada nomor baru yang tertera di sana.

"Hubungi saja nanti jika kalian menemukan orang yang lainnya."

"Kita hanya perlu seorang programmer saja."

"Aku mengerti."

Alexia melambaikan tangan dan keluar begitu saja.

"Apa dia membenciku karena aku berhasil mengalahkannya?"

"Aku pikir ia malah terlihat bersenang-senang, nanti kalian bisa melakukan hal barusan sesering mungkin."

"Aku tidak keberatan."

Aku mengalihkan pandangan pada Albert yang baru memasukan koin ke dalam mesin.

"Albert kita pergi sekarang."

"Tapi aku ingin mencoba dulu gamenya, Tora kau ingin bertarung denganku?"

"Apa boleh buat."

Sepuluh kosong untuk kemenanganku.

"Kau ini juara game apa?"

"Aku sering memainkan game ini dengan adikku."

"Eh, Tora punya adik?"

Rin terlihat bersemangat.

"Aku tidak keberatan jika kalian ingin mampir."

"Masakan adiknya sangat enak."

"Aku ingin segera mencobanya."

Begitulah tempat kedua pertemuan kami diputuskan.

Episodes
1 Prolog : Pertemuan Dari Sebuah Takdir
2 Chapter 01 : Seorang Guru Ceria Sebagai Wali Kelas
3 Chapter 02 : Seorang Penulis Dan Seorang Pemimpi
4 Chapter 03 : Sebuah Permintaan
5 Chapter 04 : Mencari Rekan Yang Lain
6 Chapter 05 : Adik Perempuan
7 Chapter 06 : Gadis Petarung Adalah Seorang Ilustrator Terbaik
8 Chapter 07 : Sebuah Game Selalu Bisa Menyelesaikan Perdebatan
9 Chapter 08 : Perkumpulan SMA
10 Chapter 09 : Pergi Ke Toko Buku
11 Chapter 10 : Pelajaran Olahraga
12 Chapter 11 : Pesona Dewasa Dari Guru Ini
13 Chapter 12 : Obrolan Di Meja Makan
14 Chapter 13 : Sebuah Even
15 Chapter 14 : Seorang Siswa Kelas 3
16 Chapter 15 : Sebuah Game Galge
17 Chapter 16 : Ruangan Kerja
18 Chapter 17 : Bug Selalu Muncul Dalam Sebuah Game
19 Chapter 18 : Hasil Dari Semuanya
20 Chapter 19 : Liburan Setelah Bekerja Keras Adalah Hal Yang Dibutuhkan
21 Chapter 20 : Pondok Di Tengah Hutan
22 Chapter 21 : Fakta Tersembunyi
23 Chapter 22 : Akhir Liburan
24 Chapter 23 : Alexia Pindah Rumah
25 Chapter 24 : Pekerjaan Berikutnya
26 Chapter 25 : Surat Tantangan
27 Chapter 26 : Diskusi Game Kedua
28 Chapter 27 : Pengisi Suara Tambahan
29 Chapter 28 : Even Romantis Dari Seorang Guru
30 Chapter 29 : Undangan Dari Televisi
31 Chapter 30 : Wawancara
32 Chapter 31 : Pertemuan Di Perpustakaan
33 Chapter 32 : Kesepakatan
34 Chapter 33 : Jajanan Pinggir Jalan
35 Chapter 34 : Murid Jenius Sesungguhnya
36 Chapter 35 : Terlalu Manis Mungkin Membuatmu Diabetes
37 Chapter 36 : Sebuah Ancaman
38 Chapter 37 : Sebuah Bakat
39 Chapter 38 : Yang Terjadi Setelahnya
40 Chapter 39 : Festival Olahraga Telah Dimulai
41 Chapter 40 : Sebuah Undangan Ke Taman Hiburan
42 Chapter 41 : Satu Pekerjaan Lainnya Telah Selesai
43 Chapter 42 : Bertemu Orang Tua Erna
44 Chapter 43 : Alasan
45 Chapter 44 : Pria Yang Dibenci
46 Chapter 45 : Makan Malam
47 Chapter 46 : Tamu Tak Diundang
48 Chapter 47 : Lambaian Tangan
49 Chapter 48 : Berkunjung Ke Rumah Rin
50 Chapter 49 : Bermain Game Bersama
51 Chapter 50 : Piknik Perusahaan
52 Chapter 51 : Perjalanan
53 Chapter 52 : Berjalan Kaki
54 Chapter 53 : Semester Baru
55 Chapter 54 : Siswi Pindahan
56 Chapter 55 : Seorang Kakak
57 Chapter 56 : Kunjungan Kecil
58 Chapter 57 : Sepulang Sekolah
59 Chapter 58 : Pekerjaan Untuk Festival Budaya
60 Chapter 59 : Musuh Terbesar
61 Chapter 60 : Rumah Hantu
62 Chapter 61 : Persaingan
63 Chapter 62 : Hasil Dari Kerja Keras
64 Chapter 63 : Kembali Ke Sekolah
65 Chapter 64 : Penculikan
66 Chapter 65 : Perkelahian Para Gadis
67 Chapter 66 : Kunjungan Tamu
68 Chapter 67 : Kerja Sama
69 Chapter 68 : Sebuah Kenyataan
70 Chapter 69 : Kenangan Masa Lalu
71 Chapter 70 : Kelas Baru
72 Epilog : Bagian Akhir (End)
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Prolog : Pertemuan Dari Sebuah Takdir
2
Chapter 01 : Seorang Guru Ceria Sebagai Wali Kelas
3
Chapter 02 : Seorang Penulis Dan Seorang Pemimpi
4
Chapter 03 : Sebuah Permintaan
5
Chapter 04 : Mencari Rekan Yang Lain
6
Chapter 05 : Adik Perempuan
7
Chapter 06 : Gadis Petarung Adalah Seorang Ilustrator Terbaik
8
Chapter 07 : Sebuah Game Selalu Bisa Menyelesaikan Perdebatan
9
Chapter 08 : Perkumpulan SMA
10
Chapter 09 : Pergi Ke Toko Buku
11
Chapter 10 : Pelajaran Olahraga
12
Chapter 11 : Pesona Dewasa Dari Guru Ini
13
Chapter 12 : Obrolan Di Meja Makan
14
Chapter 13 : Sebuah Even
15
Chapter 14 : Seorang Siswa Kelas 3
16
Chapter 15 : Sebuah Game Galge
17
Chapter 16 : Ruangan Kerja
18
Chapter 17 : Bug Selalu Muncul Dalam Sebuah Game
19
Chapter 18 : Hasil Dari Semuanya
20
Chapter 19 : Liburan Setelah Bekerja Keras Adalah Hal Yang Dibutuhkan
21
Chapter 20 : Pondok Di Tengah Hutan
22
Chapter 21 : Fakta Tersembunyi
23
Chapter 22 : Akhir Liburan
24
Chapter 23 : Alexia Pindah Rumah
25
Chapter 24 : Pekerjaan Berikutnya
26
Chapter 25 : Surat Tantangan
27
Chapter 26 : Diskusi Game Kedua
28
Chapter 27 : Pengisi Suara Tambahan
29
Chapter 28 : Even Romantis Dari Seorang Guru
30
Chapter 29 : Undangan Dari Televisi
31
Chapter 30 : Wawancara
32
Chapter 31 : Pertemuan Di Perpustakaan
33
Chapter 32 : Kesepakatan
34
Chapter 33 : Jajanan Pinggir Jalan
35
Chapter 34 : Murid Jenius Sesungguhnya
36
Chapter 35 : Terlalu Manis Mungkin Membuatmu Diabetes
37
Chapter 36 : Sebuah Ancaman
38
Chapter 37 : Sebuah Bakat
39
Chapter 38 : Yang Terjadi Setelahnya
40
Chapter 39 : Festival Olahraga Telah Dimulai
41
Chapter 40 : Sebuah Undangan Ke Taman Hiburan
42
Chapter 41 : Satu Pekerjaan Lainnya Telah Selesai
43
Chapter 42 : Bertemu Orang Tua Erna
44
Chapter 43 : Alasan
45
Chapter 44 : Pria Yang Dibenci
46
Chapter 45 : Makan Malam
47
Chapter 46 : Tamu Tak Diundang
48
Chapter 47 : Lambaian Tangan
49
Chapter 48 : Berkunjung Ke Rumah Rin
50
Chapter 49 : Bermain Game Bersama
51
Chapter 50 : Piknik Perusahaan
52
Chapter 51 : Perjalanan
53
Chapter 52 : Berjalan Kaki
54
Chapter 53 : Semester Baru
55
Chapter 54 : Siswi Pindahan
56
Chapter 55 : Seorang Kakak
57
Chapter 56 : Kunjungan Kecil
58
Chapter 57 : Sepulang Sekolah
59
Chapter 58 : Pekerjaan Untuk Festival Budaya
60
Chapter 59 : Musuh Terbesar
61
Chapter 60 : Rumah Hantu
62
Chapter 61 : Persaingan
63
Chapter 62 : Hasil Dari Kerja Keras
64
Chapter 63 : Kembali Ke Sekolah
65
Chapter 64 : Penculikan
66
Chapter 65 : Perkelahian Para Gadis
67
Chapter 66 : Kunjungan Tamu
68
Chapter 67 : Kerja Sama
69
Chapter 68 : Sebuah Kenyataan
70
Chapter 69 : Kenangan Masa Lalu
71
Chapter 70 : Kelas Baru
72
Epilog : Bagian Akhir (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!