Pada akhirnya aku mengajak Alexia pergi ke pusat game di mall, dia memasang wajah tidak senang.
"Apa maksudmu dengan semua ini?"
"Dari kita bertiga tidak ada orang yang ahli dalam perkelahian, terlebih kami jelas tidak akan bisa mengalahkanmu, biar adil mari kita bertarung dalam permainan game."
"Itu artinya aku dirugikan."
Aku menggelengkan kepalaku.
"Rin masih pemula karena itulah jika kamu dan dirinya bertarung, itu adalah hal adil."
Albert dan Rin menyetujui keputusanku, dibandingkan dengan yang ditawarkan gadis ini apa yang kulakukan jauh lebih baik.
Kami semua tidak ingin ada yang bonyok.
Pada akhirnya Alexia menyetujuinya, dan Albert mulai menjelaskan semua fungsi tombol pada keduanya.
Game yang kami pilih adalah game pertarungan dengan karakter merupakan pelayan maid, siapapun yang bisa menang dua kali ia akan dinyatakan pemenangnya.
Pertama aku memasukan koin untuk keduanya, walau di zaman sekarang game-game terbilang canggih dan bisa dimainkan di ponsel, mesin din-dong tetap saja masih eksis dan digandrungi beberapa orang.
Alexia memilih seorang pelayan berkulit gelap dengan sarung tinju di kedua tangannya sementara Rin memilih maid dengan pedang di pinggangnya.
"Mereka pemula tapi memilih karakter dengan status serangan tinggi."
"Mereka mungkin tidak tahu game tapi masih mengetahui angka-angka," kataku pada Albert sebelum kembali pada layar yang telah memulai permainan.
Ada dua bar yang ditampilkan pada setiap player, pertama bar darah dan kedua bar energi, energi di dapat saat karakter berhasil memukul musuh ataupun menerima damage.
Ketika bar energi penuh pemain harus menekan tiga tombol secara bersamaan untuk melakukan serangan kuat, paling tidak memberikan 30 persen damage jika kena.
Kedua karakter mulai menggunakan kemampuannya.
"Job impact," suara untuk karakter Alexia.
"Soul Blade," untuk karakter Rin.
Keduanya belajar lebih cepat dari yang aku pikirkan. Critical damage didapat Rin hingga dia terlempar.
Karakter pemenang menunjukkan pose imut selagi berkata, moe-moe attack.
"Aku suka bagian itu."
Aku bisa mengerti dengan sikap Albert, tapi kuharap dia mau sedikit menjauh dari layar, ia tipe laki-laki yang akan mengintip rok action figur.
Aku yakin.
"Maaf Tora, aku kalah."
"Jangan khawatir masih ada satu pertandingan lagi. Cobalah untuk sedikit rileks, jangan pikirkan kemenangan tapi cobalah untuk menikmatinya."
"Dimengerti."
"Sepertinya aku terlahir untuk bertarung di dunia nyata ataupun game."
Aku hanya membalas Alexia dengan menghembuskan nafas lelah.
Permainan dimulai kembali dengan karakter yang sama, karakter Alexia terlempar dan itu menjadikannya kekalahan yang cukup dramatis.
Perbedaan darah mereka sama sekali tidak jauh beda.
Alexia terlihat kesal dan pertandingan masuk ke babak terakhir.
"Kamu bisa melakukannya Rin."
"Aku akan berjuang."
Aku mengangguk ke arahnya.
Pertandingan terakhir menjadi pertandingan yang cukup lama dan itu ditentukan oleh waktu yang membuat Rin keluar jadi pemenangnya, Alexia menundukkan kepalanya dengan wajah kesal.
"Apa kau mau mencoba untuk melarikan diri sekarang?" tanya Albert.
"Tentu saja tidak, aku selalu menempati janji serta menerima kekalahanku... aku akan bergabung dengan kalian."
Dia berdiri sebelum mengambil tasnya.
"Berikan ponselmu."
Aku mendengarkannya dan saat dia mengembalikannya ada nomor baru yang tertera di sana.
"Hubungi saja nanti jika kalian menemukan orang yang lainnya."
"Kita hanya perlu seorang programmer saja."
"Aku mengerti."
Alexia melambaikan tangan dan keluar begitu saja.
"Apa dia membenciku karena aku berhasil mengalahkannya?"
"Aku pikir ia malah terlihat bersenang-senang, nanti kalian bisa melakukan hal barusan sesering mungkin."
"Aku tidak keberatan."
Aku mengalihkan pandangan pada Albert yang baru memasukan koin ke dalam mesin.
"Albert kita pergi sekarang."
"Tapi aku ingin mencoba dulu gamenya, Tora kau ingin bertarung denganku?"
"Apa boleh buat."
Sepuluh kosong untuk kemenanganku.
"Kau ini juara game apa?"
"Aku sering memainkan game ini dengan adikku."
"Eh, Tora punya adik?"
Rin terlihat bersemangat.
"Aku tidak keberatan jika kalian ingin mampir."
"Masakan adiknya sangat enak."
"Aku ingin segera mencobanya."
Begitulah tempat kedua pertemuan kami diputuskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments