Musik sendiri sangatlah penting, ketika setiap karakter menunjukan ekspresi secara intens maka aku perlu memasukkan musik yang tepat.
Seperti saat hati karakter target menjadi senang aku mengambil musik ceria, sedih, gembira, tegang juga termasuk.
Aku juga perlu memikirkan musik untuk Flag-nya juga. Ada beberapa BGM yang sebelumnya kumiliki kurasa itu bisa dimasukan juga.
Setiap hari kami melakukan rutinitas secara berulang-ulang, seperti kami sekolah, pulang sekolah untuk bekerja dan kemudian tidur tepat waktu.
Untuk Rin ia hanya bekerja beberapa menit saja sisanya ia juga menulis serial light novelnya di tempatku.
Jika dia tidak tepat waktu mengerjakannya maka secara otomatis editornya akan langsung memarahiku. Aku juga terikat dengan itu.
Setelah pengerjaan yang cukup lama, Aden menanyakan pendapatku dengan menunjukkan bagian awal game tersebut.
Pertama game dimasukkan sebuah cuplikan video singkat seorang gadis SMA yang berlari di koridor ruangan sembari menggigit roti, kemudian berlari di jalan pinggiran sungai, berdiri di atas bangunan hendak melompat dari sana, berdiri di podium OSIS, dan juga berenang. Semua itu ditampilkan dengan HD yang memukau.
Selanjutnya semua karakter ditampilkan di layar halaman depan dengan opsi seperti biasanya.
New Game.
Load.
Galery.
Settings.
Quit.
Di bawahnya nama perusahaan kami bernama 'Perkumpulan SMA'
"Bagaimana?"
"Luar biasa, yang pertama jelas seperti sebuah anime."
"Kau pasti akan mengatakan itu.. aku telah membuatnya dengan baik, ketika pemain memilih banyak rute mereka akan menyimpan CG di Galery yang bahkan bisa dijadikan wallpaper ponsel. Beberapa orang mungkin akan menyukainya jika diberikan fitur seperti itu."
"Aku bisa mengerti hal itu, aku juga menggunakan screen server dari heroin game."
Atas jawabanku Aden tersenyum puas.
"Dari sini ujian terbesarnya adalah saat menyelesaikan gamenya, akan banyak bug yang harus diatasi itu akan membuatku lelah."
"Meski kau seorang jenius apa bug akan muncul?"
"Tentu, hal itu masih menjadi sebuah misteri, perusahaan game besar juga terkadang masih memiliki masalah yang sama, mereka harus melakukan uji coba secara berkala untuk memastikan bahwa gamenya bisa dimainkan secara normal, jika itu game online akan mudah melakukannya setiap saat dari sini, namun game yang kita buat adalah game offline satu saja terdapat bug, game kita akan tidak laku dan bahkan memperburuk nama perusahaan."
Aku mengangguk mengiyakan, kini giliran para pengisi suara yang melakukan tugasnya.
Adikku dan Albert melakukannya dengan baik, ini mungkin karena pengaruh sofa yang empuk, begitulah yang mereka katakan.
Walau menggunakan alat seadanya aku bisa menyelesaikan bagian suara.
Semua orang telah berkumpul di ruang pertemuan termasuk Bu Nanase yang duduk selagi meminum cola, Aden yang mengambil diskusi saat ini selagi menunjukan ponselnya.
"Game yang kita buat telah aku buat agar bisa dimainkan di ponsel kalian, aku ingin kalian memainkannya dengan rute berbeda lalu mencatat bagian mana bug-nya dan akan aku segera perbaiki."
Albert mengangkat tangannya.
"Berapa lama game ini dimainkan."
"Kurasa tiga hari tiga malam secara nonstop," jawabnya demikian.
"Selama itu."
"Kita perlu memuaskan setiap pemain bukan."
"Tamat sudah."
Semua orang mengangguk dan secara bergantian kami mempekerjakan Aden begitu keras.
"Rute xxx, chapter xxx terjadi crush."
"Akan kuperbaiki."
"Rute xxx gambarnya hitam."
"Dimengerti."
"Aku tidak bisa memilih opsi percakapan."
"Oke."
"Kaki gadis yang kubuat sangat mulus, aah, aah."
"Menjauhlah dariku dasar yuri"
"Aku omnivora."
Walau terasa sulit entah kenapa kami sangat menikmatinya. Diam-diam Bu Nanase memberikan jempol ke arahku dan aku membalasnya demikian.
Aku yakin soal menikah itu hanya candaan saja, jadi sampai sekarang aku tidak memikirkannya terlalu dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments