"Mas... " ucap Aisha seraya sesenggukan kecil.
"Sstt... jangan dijawab jika saat ini hatimu masih belum bisa mencintaiku. Tak apa-apa, Sha. Aku tidak akan memaksamu untuk membalas rasa cintaku padamu. Sebab hatimu adalah milikmu sendiri," tutur Faizan seraya menghapus air mata sang istri dengan kedua ibu jarinya.
"A_ku... " ucap Aisha terpotong.
"Ayo tidur, Sha. Sudah jam sebelas malam. Pasti kamu lelah seharian acara di rumah Mama tadi. Yuk tidur," ajak Faizan lembut.
Aisha cukup terkejut saat suaminya mengajak tidur bukan meminta haknya padahal dirinya sudah sangat siap jika memang Faizan memintanya saat ini juga. Walaupun cinta itu belum bersemi di hatinya atau sebenarnya sudah tumbuh namun belum ia sadari.
Hanya saja sebagai seorang istri, dirinya memiliki kewajiban memberikan hak tersebut untuk suaminya. Sempat terselip bisikan keraguan bahwa Faizan tidak meminta haknya karena dirinya seorang janda, bekas kakaknya.
Tetapi ia coba enyahkan pikiran buruk tersebut. Sebab tadi ia yakin bahwa suaminya mengucapkan cinta yang begitu tulus padanya bukan sekedar main-main.
Akhirnya ia mencoba memberanikan diri bertanya hal krusial tersebut pada sang suami. Sebab ia ingat pesan Faizan bahwa tanyakan apapun jangan pernah berspekulasi dengan hal-hal yang belum tentu benar.
Sebab pada dasarnya prasangka dalam diri belum tentu fakta yang sebenarnya. Bisa jadi hal tersebut hanya pikiran negatif yang bisa merusak keharmonisan rumah tangganya sendiri. Ia tidak ingin hal itu sampai terjadi sehingga memutuskan lebih baik bertanya langsung pada sang suami daripada tenggelam dengan praduganya.
"Kenapa Mas tidak meminta hak sebagai suami padaku malam ini?" tanya Aisha lirih.
"Saat ini jika aku meminta hakku tersebut, apakah kamu akan memberikannya padaku karena kewajiban atau kamu mencintaiku?" tanya Faizan menatap Aisha dengan sorot mata yang tak terbaca.
Aisha hening tak bisa segera menjawab pertanyaan sang suami. Dirinya menelan salivanya dalam-dalam mencoba menelaah. Cinta atau kewajiban? Sungguh ia belum menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut dari hatinya.
Yang pasti dalam logikanya saat ini tentu kewajiban lebih dominan.
"Tidurlah, Sha. Jangan terlalu dijadikan beban. Aku tidak akan meminta hakku malam ini karena aku ingin kamu memberikan itu padaku bukan karena kewajiban semata tetapi kamu memang mencintaiku sebagai pria yang ada di hatimu yang berstatus suamimu," ucap Faizan seraya memeluk Aisha kembali seraya mengelus dengan gerakan naik turun di punggung sang istri seperti meninabobokkan.
"Mas, maafin aku. Aku sayang sama Mas Faizan," cicit Aisha.
"Iya aku tahu. Tidur lah sebelum kamu membangunkan apa yang seharusnya bangun sejak tadi," ucap Faizan seraya terkekeh sendiri membuat Aisha tertawa kecil karena ia paham apa yang dimaksud suaminya itu.
Aisha pun membalas pelukan suaminya. Kedua insan yang malam ini berstatus suami istri saling berpelukan hangat di bawah temaram cahaya lampu tidur.
Bermimpi indah berharap esok akan ada cinta yang diharapkan hadir mengisi kehidupan rumah tangga mereka yang baru saja dibina.
Di Jepang,
Selepas urusan meeting proyek yang cukup penting telah dilakukan dengan baik oleh Jihan dan sekretarisnya. Jihan melihat segala laporan dan pelaksanaan proyek di salah satu rumah sakit ternama di Tokyo, Jepang cukup meningkat progressnya. Sehingga lusa, ia bisa kembali ke Indonesia.
Setibanya di hotel, ia menghubungi seseorang yang cukup lama tidak ia kontak.
"Halo," ucap Jihan.
"Iya Bu Jihan," jawab seorang pria di seberang sana yang berprofesi sebagai detektif.
"Bagaimana hasil penyelidikan kalian? Apa sudah menunjukkan di mana putriku berada dan bagaimana kondisinya?" tanya Bu Jihan.
"Maaf Bu, kami masih butuh waktu kembali. Kemarin kami baru saja mendapat informasi terbaru bahwa ada saksi yang melihat seorang wanita membawa bayi perempuan berpakaian pink seperti ciri-ciri pakaian terakhir yang dikenakan putri ibu. Tapi_" ucap detektif terpotong.
"Tapi kenapa?" tanya Bu Jihan dengan nada cemas.
"Wanita itu sudah lama pergi dari kampungnya di sini bersama suaminya merantau ke Jawa. Namun tetangga sekitar tidak tahu di Jawa mereka tinggal di kota apa maupun alamat detailnya," ucap detektif tersebut.
Sebuah helaan nafas berat meluncur dari seberang sana. Jihan menyandarkan tubuhnya sejenak di sofa yang ada di dalam kamar hotel tempatnya menginap.
"Terima kasih informasinya. Kalian tetap cari kemanapun jejak putriku berada. Aku akan selalu setia menunggu kabarnya. Semoga sebelum ajal menjemputku, aku bisa menatapnya secara langsung baik dia masih hidup atau hanya sekedar batu nisannya," tutur Bu Jihan pasrah.
"Baik, Bu. Semoga kami segera menyelesaikan misi ini dengan baik sesuai harapan," ucap detektif seraya berpamitan menutup teleponnya.
"Ya Tuhan, pertemukan aku dengan putriku apapun kondisinya. Apakah dia masih hidup atau sudah tiada?" batin Bu Jihan sendu.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Tuti Tyastuti
aisha putri bu jihan
2024-07-15
0
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aamiiin..
2024-03-27
2
Ety Nadhif
mampir thor
2024-01-13
1