Bab 13 - Pulang Kampung

"Siapa wanita itu, Dek? Apa Mbak mengenalnya?" tanya Aisha seraya melihat Faizan dengan sorot mata serius.

"Nanti juga Mbak tahu. Emang kenapa, Mbak?" tanya Faizan seraya melihat gerak-gerik Aisha dengan seksama.

"Eh, enggak Dek. Mbak gak mau karena wasiat Mas Handika, kamu jadi terbebani. Kamu enggak perlu sampai menikah dengan Mbak karena masa depanmu adalah milikmu sendiri bukan milik orang lain. Menikahlah dengan wanita yang kamu cintai," ucap Aisha serius.

"Pasti Mbak. Aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku cintai. Seperti yang aku katakan tadi. Kecuali dia, aku tidak menginginkan yang lainnya."

Akhirnya obrolan keduanya pun selesai dengan pembicaraan pekerjaan Faizan di Batam. Setelah sedikit berdebat kecil, akhirnya Aisha mengalah. Ia akan pulang ke Sleman sesuai anjuran Faizan. Namun menunggu sampai satu minggu dahulu masa berkabung atas meninggalnya Handika.

Faizan pun masih berada di Jakarta selama satu minggu ini. Sebab dirinya tidak akan meninggalkan sang belahan jiwanya sendirian bersama ibu tirinya itu di rumah utama yang bagi Faizan seperti sangkar emas untuk Aishanya.

Dan ia masih bisa menghandle pekerjaan kantor milik Ibu Jihan dari Jakarta untuk sementara. Dirinya pun sudah meminta izin pada bosnya itu dan Ibu Jihan tidak mempermasalahkannya sebab sangat paham bahwa Faizan tengah berduka.

Setiap hari Faizan membantu Aisha melakukan pekerjaan rumah dan Mama Ida hanya memerintah seperlunya saja tidak bisa semaunya seperti yang dahulu sebab ada Faizan.

Pernah Mama Ida menyuruh Aisha memasakkan sup. Namun ibu mertuanya itu sengaja menaruh bangkai kecoa di mangkuk sup miliknya dan menuduh Aisha sengaja berbuat jahat untuk melenyapkannya demi menguasai harta keluarga Atmajaya.

"Enggak Mah. Aisha gak mungkin melakukan hal itu. Tadi aku masak dengan bersih. Dapur juga sudah aku bersihkan sebelum memasak. Jadi enggak mungkin ada kecoa dalam sup Mama," jawab Aisha membela diri.

"Dasar menantu pembawa sial banyak alasan kamu! Mana mungkin di sini ada yang percaya sama bualanmu itu!" pekik Mama Ida dengan berkacak pinggang di depan Aisha.

"Aku percaya Aisha," ucap Faizan yang tiba-tiba muncul di ruang makan yang memang tempatnya bersebelahan dengan dapur.

Sontak kedua orang tersebut menoleh pada Faizan yang menatap serius. Aisha hanya bisa menurunkan pandangannya selain dirinya merasa khawatir sebab setiap bertengkar dengan ibu mertuanya maka akan selalu berujung dengan hukuman yang membuatnya kelelahan dan menyita banyak pikirannya juga.

Terlebih sekarang ada Faizan, ia tidak ingin perselisihan antara Mama Ida dengannya membuat ibu dan anak tersebut jadi ikut bertengkar. Walaupun Faizan bukan anak kandung Mama Ida, tetap mereka adalah ibu dan anak yang masih memiliki ikatan darah.

Sedangkan dirinya, hanya lah orang luar yang lebih baik mengalah saja. Begitu sabar dan tabahnya seorang Aisha menghadapi temperamen buruk ibu mertuanya itu.

Yang dahulu manis berubah menjadi sosok ibu mertua yang kejam. Ia hanya berharap suatu ketika sang ibu mertuanya bisa melihat dirinya adalah sosok menantu yang juga layak dihargai dan disayang dalam keluarga Atmajaya.

Bahkan sosok menantu yang bisa dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga doanya tersebut bisa terwujud di masa depan.

Dikarenakan saat ini ia sudah kehilangan kedua orang tuanya maka ia menganggap Mama Ida sudah seperti orang tua kandungnya sendiri bukan hanya sebagai mertua saja.

Akan tetapi seakan seperti "Air susu dibalas dengan air tuba" sehingga pengorbanan Aisha selama ini sejak awal hanya menjadi butiran debu yang tertiup angin.

Tidak pernah diingat atau dianggap boro-boro dikenang ke dalam hati oleh Mama Ida. Seakan tak berbekas sama sekali. Hal ini begitu menyesakkan seperti pepatah "Habis manis sepah dibuang".

Saat seorang menantu sedang jaya-jayanya memiliki banyak uang ataupun pekerjaan yang mumpuni dan membanggakan maka disayang-sayang bahkan disanjung-sanjung namanya di depan orang lain.

Akan tetapi jika menantu sudah tidak loyal pada mertua karena menurun kondisi ekonominya maka dibuang seperti barang tak berguna seakan seperti hama atau parasit. Dan melupakan jasa-jasa baik di masa lalu yang telah dilakukan menantu tersebut padanya.

Mama Ida geram melihat anak tirinya itu selalu membela Aisha. Akhirnya ia sengaja memecahkan mangkuk supnya yang berisi kecoa tadi hingga pecah dan pergi meninggalkan ruang makan tanpa bicara apapun. Hanya tatapan tidak suka yang ia tampakkan pada Faizan dan Aisha.

Faizan telah hidup puluhan tahun bersama ibu tirinya sehingga hal seperti ini sudah bukan sesuatu yang baru untuknya. Faizan pun berjongkok di lantai ikut membantu membersihkan pecahan mangkuk tersebut bersama Aisha.

Satu minggu berlalu,

Pagi ini Faizan mengantar Aisha pulang kampung ke Sleman dengan mengendarai mobil Honda CRV berwarna putih miliknya sendiri yang ia beli dengan hasil tabungannya sejak masih duduk di bangku kuliah.

Faizan dan Aisha pun berpamitan pada Mama Ida namun sang empunya hanya melihat dengan tatapan tidak suka tanpa berbicara sepatah kata pun.

Sembilan jam lebih perjalanan dari Jakarta ke Sleman dengan berhenti satu kali di rest area untuk makan siang. Akhirnya keduanya tiba di kota tempat asal Aisha dengan selamat.

Setelah satu jam beristirahat sejenak di bale-bale depan rumah Aisha, Faizan berpamitan untuk pulang.

"Aku balik dulu ya Mbak. Telepon aku jika ada apa-apa. Jangan suka menyembunyikan kesedihan sendiri. Jadikan aku temanmu yang bisa diajak bicara apapun baik itu suka dan duka," tutur Faizan lembut namun serius.

"Makasih banyak Dek. Hati-hati di jalan," ucap Aisha dan Faizan hanya mengangguk seraya berlalu pergi meninggalkan kediaman Aisha untuk kembali ke Jakarta dan langsung bertolak ke Batam.

"Kutitipkan dia di sini ya Tuhan. Jagakan dia untukku hingga dirinya menjadi halal bagiku," batin Faizan seraya berdoa.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Tuti Tyastuti

Tuti Tyastuti

Amiin..🤲

2024-07-15

0

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

aamiiin

2024-03-23

2

Ray Aza

Ray Aza

kok ikatan darah thor? 😁

2023-12-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kecelakaan Dahsyat
2 Bab 2 - Duka yang Mendalam
3 Bab 3 - Suratan Takdir
4 Bab 4 - Wasiat Handika
5 Bab 5 - Kedatangan Pengacara Keluarga
6 Bab 6 - Hal Penting
7 Bab 7 - Awal Mula
8 Bab 8 - Patah Hati
9 Bab 9 - Calon Menantu Idaman
10 Bab 10 - Firasat Buruk
11 Bab 11 - Satu Tahun Pernikahan
12 Bab 12 - Bicara Berdua
13 Bab 13 - Pulang Kampung
14 Bab 14 - Cinta Tulus Faizan
15 Bab 15 - Menuju Pernikahan
16 Bab 16 - Mimpi Indah
17 Bab 17 - Sah
18 Bab 18 - Malam Pengantin
19 Bab 19 - Pelukan Hangat
20 Bab 20 - Cinta atau Kewajiban?
21 Bab 21 - Siapa Perempuan Itu?
22 Bab 22 - Cemburu
23 Bab 23 - Nasehat Bik Imah
24 Bab 24 - Trauma
25 Bab 25 - Aku Mencintaimu
26 Bab 26 - Pergi ke Bandung
27 Bab 27 - Menuju Berbuka
28 Bab 28 - Masih Suci ?
29 Bab 29 - Anugerah Terindah
30 Bab 30 - Penjelasan
31 Bab 31 - Urusan Bisnis
32 Bab 32 - Rencana Licik
33 Bab 33 - Honeymoon
34 Bab 34 - Terusik
35 Bab 35 - Pukulan Telak
36 Bab 36 - Mama Ida Jatuh Sakit
37 Bab 37 - Rencana Busuk
38 SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
39 Bab 38 - Hamil
40 Bab 39 - Tangisan Pilu Aisha
41 Bab 40 - Gelisah dan Curiga
42 Bab 41 - Wejangan dari Sahabat
43 Bab 42 - Paket Misterius
44 Bab 43 - Terusir
45 Bab 44 - Mendadak Mual
46 Bab 45 - Couvade Syndrome
47 Bab 46 - Diterima Bekerja
48 Bab 47 - Kepulangan Faizan
49 Bab 48 - Alibi Mama Ida
50 Bab 49 - Sebuah Amplop Tanpa Nama
51 Bab 50 - Tiga Lembar Foto
52 Bab 51 - Tikus Kecil
53 Bab 52 - Kedatangan Tamu
54 Bab 53 - Duka di Masa Lalu
55 Bab 54 - Keyakinan Bu Jihan
56 Bab 55 - Ngidam
57 Bab 56 - Kabar Mengejutkan
58 Bab 57 - Wajah yang Familiar
59 Bab 58 - Menguak Tabir
60 Bab 59 - Tabir Terbuka part 1
61 Bab 60 - Tabir Terbuka part 2
62 Bab 61 - Tabir Terbuka part 3
63 Bab 62 - Hukum Tabur Tuai
64 Bab 63 - Go to Bali
65 Bab 64 - Tes DNA
66 Bab 65 - Drama Perjalanan ke Bali
67 Bab 66 - Hasil Tes DNA
68 Bab 67 - Haru Biru
69 Bab 68 - Calon Papa Ngambek
70 Bab 69 - Setelah Sekian Purnama
71 Bab 70 - Akhir Kisah Ibu Mertua Kejam
72 Bab 71 - Permintaan Maaf
73 Bab 72 - Kelahiran Buah Hati
74 PROMO KARYA BARU
75 PROMO KARYA BARU
76 PROMO KARYA BARU
77 PROMO KARYA BARU
78 PROMO KARYA BARU
79 PROMO KARYA BARU
80 PROMO KARYA BARU
81 PROMO KARYA BARU
82 Launching Novel Baru
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 - Kecelakaan Dahsyat
2
Bab 2 - Duka yang Mendalam
3
Bab 3 - Suratan Takdir
4
Bab 4 - Wasiat Handika
5
Bab 5 - Kedatangan Pengacara Keluarga
6
Bab 6 - Hal Penting
7
Bab 7 - Awal Mula
8
Bab 8 - Patah Hati
9
Bab 9 - Calon Menantu Idaman
10
Bab 10 - Firasat Buruk
11
Bab 11 - Satu Tahun Pernikahan
12
Bab 12 - Bicara Berdua
13
Bab 13 - Pulang Kampung
14
Bab 14 - Cinta Tulus Faizan
15
Bab 15 - Menuju Pernikahan
16
Bab 16 - Mimpi Indah
17
Bab 17 - Sah
18
Bab 18 - Malam Pengantin
19
Bab 19 - Pelukan Hangat
20
Bab 20 - Cinta atau Kewajiban?
21
Bab 21 - Siapa Perempuan Itu?
22
Bab 22 - Cemburu
23
Bab 23 - Nasehat Bik Imah
24
Bab 24 - Trauma
25
Bab 25 - Aku Mencintaimu
26
Bab 26 - Pergi ke Bandung
27
Bab 27 - Menuju Berbuka
28
Bab 28 - Masih Suci ?
29
Bab 29 - Anugerah Terindah
30
Bab 30 - Penjelasan
31
Bab 31 - Urusan Bisnis
32
Bab 32 - Rencana Licik
33
Bab 33 - Honeymoon
34
Bab 34 - Terusik
35
Bab 35 - Pukulan Telak
36
Bab 36 - Mama Ida Jatuh Sakit
37
Bab 37 - Rencana Busuk
38
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
39
Bab 38 - Hamil
40
Bab 39 - Tangisan Pilu Aisha
41
Bab 40 - Gelisah dan Curiga
42
Bab 41 - Wejangan dari Sahabat
43
Bab 42 - Paket Misterius
44
Bab 43 - Terusir
45
Bab 44 - Mendadak Mual
46
Bab 45 - Couvade Syndrome
47
Bab 46 - Diterima Bekerja
48
Bab 47 - Kepulangan Faizan
49
Bab 48 - Alibi Mama Ida
50
Bab 49 - Sebuah Amplop Tanpa Nama
51
Bab 50 - Tiga Lembar Foto
52
Bab 51 - Tikus Kecil
53
Bab 52 - Kedatangan Tamu
54
Bab 53 - Duka di Masa Lalu
55
Bab 54 - Keyakinan Bu Jihan
56
Bab 55 - Ngidam
57
Bab 56 - Kabar Mengejutkan
58
Bab 57 - Wajah yang Familiar
59
Bab 58 - Menguak Tabir
60
Bab 59 - Tabir Terbuka part 1
61
Bab 60 - Tabir Terbuka part 2
62
Bab 61 - Tabir Terbuka part 3
63
Bab 62 - Hukum Tabur Tuai
64
Bab 63 - Go to Bali
65
Bab 64 - Tes DNA
66
Bab 65 - Drama Perjalanan ke Bali
67
Bab 66 - Hasil Tes DNA
68
Bab 67 - Haru Biru
69
Bab 68 - Calon Papa Ngambek
70
Bab 69 - Setelah Sekian Purnama
71
Bab 70 - Akhir Kisah Ibu Mertua Kejam
72
Bab 71 - Permintaan Maaf
73
Bab 72 - Kelahiran Buah Hati
74
PROMO KARYA BARU
75
PROMO KARYA BARU
76
PROMO KARYA BARU
77
PROMO KARYA BARU
78
PROMO KARYA BARU
79
PROMO KARYA BARU
80
PROMO KARYA BARU
81
PROMO KARYA BARU
82
Launching Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!