"Siapa wanita itu, Dek? Apa Mbak mengenalnya?" tanya Aisha seraya melihat Faizan dengan sorot mata serius.
"Nanti juga Mbak tahu. Emang kenapa, Mbak?" tanya Faizan seraya melihat gerak-gerik Aisha dengan seksama.
"Eh, enggak Dek. Mbak gak mau karena wasiat Mas Handika, kamu jadi terbebani. Kamu enggak perlu sampai menikah dengan Mbak karena masa depanmu adalah milikmu sendiri bukan milik orang lain. Menikahlah dengan wanita yang kamu cintai," ucap Aisha serius.
"Pasti Mbak. Aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku cintai. Seperti yang aku katakan tadi. Kecuali dia, aku tidak menginginkan yang lainnya."
Akhirnya obrolan keduanya pun selesai dengan pembicaraan pekerjaan Faizan di Batam. Setelah sedikit berdebat kecil, akhirnya Aisha mengalah. Ia akan pulang ke Sleman sesuai anjuran Faizan. Namun menunggu sampai satu minggu dahulu masa berkabung atas meninggalnya Handika.
Faizan pun masih berada di Jakarta selama satu minggu ini. Sebab dirinya tidak akan meninggalkan sang belahan jiwanya sendirian bersama ibu tirinya itu di rumah utama yang bagi Faizan seperti sangkar emas untuk Aishanya.
Dan ia masih bisa menghandle pekerjaan kantor milik Ibu Jihan dari Jakarta untuk sementara. Dirinya pun sudah meminta izin pada bosnya itu dan Ibu Jihan tidak mempermasalahkannya sebab sangat paham bahwa Faizan tengah berduka.
Setiap hari Faizan membantu Aisha melakukan pekerjaan rumah dan Mama Ida hanya memerintah seperlunya saja tidak bisa semaunya seperti yang dahulu sebab ada Faizan.
Pernah Mama Ida menyuruh Aisha memasakkan sup. Namun ibu mertuanya itu sengaja menaruh bangkai kecoa di mangkuk sup miliknya dan menuduh Aisha sengaja berbuat jahat untuk melenyapkannya demi menguasai harta keluarga Atmajaya.
"Enggak Mah. Aisha gak mungkin melakukan hal itu. Tadi aku masak dengan bersih. Dapur juga sudah aku bersihkan sebelum memasak. Jadi enggak mungkin ada kecoa dalam sup Mama," jawab Aisha membela diri.
"Dasar menantu pembawa sial banyak alasan kamu! Mana mungkin di sini ada yang percaya sama bualanmu itu!" pekik Mama Ida dengan berkacak pinggang di depan Aisha.
"Aku percaya Aisha," ucap Faizan yang tiba-tiba muncul di ruang makan yang memang tempatnya bersebelahan dengan dapur.
Sontak kedua orang tersebut menoleh pada Faizan yang menatap serius. Aisha hanya bisa menurunkan pandangannya selain dirinya merasa khawatir sebab setiap bertengkar dengan ibu mertuanya maka akan selalu berujung dengan hukuman yang membuatnya kelelahan dan menyita banyak pikirannya juga.
Terlebih sekarang ada Faizan, ia tidak ingin perselisihan antara Mama Ida dengannya membuat ibu dan anak tersebut jadi ikut bertengkar. Walaupun Faizan bukan anak kandung Mama Ida, tetap mereka adalah ibu dan anak yang masih memiliki ikatan darah.
Sedangkan dirinya, hanya lah orang luar yang lebih baik mengalah saja. Begitu sabar dan tabahnya seorang Aisha menghadapi temperamen buruk ibu mertuanya itu.
Yang dahulu manis berubah menjadi sosok ibu mertua yang kejam. Ia hanya berharap suatu ketika sang ibu mertuanya bisa melihat dirinya adalah sosok menantu yang juga layak dihargai dan disayang dalam keluarga Atmajaya.
Bahkan sosok menantu yang bisa dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga doanya tersebut bisa terwujud di masa depan.
Dikarenakan saat ini ia sudah kehilangan kedua orang tuanya maka ia menganggap Mama Ida sudah seperti orang tua kandungnya sendiri bukan hanya sebagai mertua saja.
Akan tetapi seakan seperti "Air susu dibalas dengan air tuba" sehingga pengorbanan Aisha selama ini sejak awal hanya menjadi butiran debu yang tertiup angin.
Tidak pernah diingat atau dianggap boro-boro dikenang ke dalam hati oleh Mama Ida. Seakan tak berbekas sama sekali. Hal ini begitu menyesakkan seperti pepatah "Habis manis sepah dibuang".
Saat seorang menantu sedang jaya-jayanya memiliki banyak uang ataupun pekerjaan yang mumpuni dan membanggakan maka disayang-sayang bahkan disanjung-sanjung namanya di depan orang lain.
Akan tetapi jika menantu sudah tidak loyal pada mertua karena menurun kondisi ekonominya maka dibuang seperti barang tak berguna seakan seperti hama atau parasit. Dan melupakan jasa-jasa baik di masa lalu yang telah dilakukan menantu tersebut padanya.
Mama Ida geram melihat anak tirinya itu selalu membela Aisha. Akhirnya ia sengaja memecahkan mangkuk supnya yang berisi kecoa tadi hingga pecah dan pergi meninggalkan ruang makan tanpa bicara apapun. Hanya tatapan tidak suka yang ia tampakkan pada Faizan dan Aisha.
Faizan telah hidup puluhan tahun bersama ibu tirinya sehingga hal seperti ini sudah bukan sesuatu yang baru untuknya. Faizan pun berjongkok di lantai ikut membantu membersihkan pecahan mangkuk tersebut bersama Aisha.
Satu minggu berlalu,
Pagi ini Faizan mengantar Aisha pulang kampung ke Sleman dengan mengendarai mobil Honda CRV berwarna putih miliknya sendiri yang ia beli dengan hasil tabungannya sejak masih duduk di bangku kuliah.
Faizan dan Aisha pun berpamitan pada Mama Ida namun sang empunya hanya melihat dengan tatapan tidak suka tanpa berbicara sepatah kata pun.
Sembilan jam lebih perjalanan dari Jakarta ke Sleman dengan berhenti satu kali di rest area untuk makan siang. Akhirnya keduanya tiba di kota tempat asal Aisha dengan selamat.
Setelah satu jam beristirahat sejenak di bale-bale depan rumah Aisha, Faizan berpamitan untuk pulang.
"Aku balik dulu ya Mbak. Telepon aku jika ada apa-apa. Jangan suka menyembunyikan kesedihan sendiri. Jadikan aku temanmu yang bisa diajak bicara apapun baik itu suka dan duka," tutur Faizan lembut namun serius.
"Makasih banyak Dek. Hati-hati di jalan," ucap Aisha dan Faizan hanya mengangguk seraya berlalu pergi meninggalkan kediaman Aisha untuk kembali ke Jakarta dan langsung bertolak ke Batam.
"Kutitipkan dia di sini ya Tuhan. Jagakan dia untukku hingga dirinya menjadi halal bagiku," batin Faizan seraya berdoa.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Tuti Tyastuti
Amiin..🤲
2024-07-15
0
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
aamiiin
2024-03-23
2
Ray Aza
kok ikatan darah thor? 😁
2023-12-20
1