Ceklek...
Derit pintu kamar tempat Handika Atmajaya terbuka dan sungguh perih hatinya melihat kondisi memilukan ini ada di hadapannya secara nyata bukan mimpi belaka.
Sang kakak yang gagah kini terbujur kaku di ranjang dan di sebelahnya tampak Aisha tengah menundukkan kepalanya. Pipinya basah akan jejak air mata yang diyakini Faizan sebab kehilangan mendalam yang dialami oleh Aisha.
Siapa yang menduga bahwa dalam sehari, gadis berlesung pipinya ini ditinggal pergi oleh ketiga orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Tentu saja pohon yang kokoh tersebut rapuh sebab akarnya dicabut paksa.
Takdir sungguh kejam pada Aisha. Mungkin sebagian manusia yang melihat dari sudut pandangnya akan berpikir sedangkal itu.
Akan tetapi bagi orang yang beriman selalu percaya bahwa setiap cobaan dalam hidup kita tentu akan ada hikmah yang berharga di balik itu semua. Semua sudah suratan takdir dari sang pemilik kehidupan.
Tinggal bagaimana manusia itu ikhlas menjalani takdirnya dan lebih banyak bersyukur bukan mengeluhinya terus menerus tergerus kesedihan dan kekecewaan.
Faizan mulai merasakan sesuatu yang janggal sebab Aisha tengah menunduk dan tangan kirinya memegang pipinya. Sang ibu tirinya tengah berkacak pinggang di depan kakak iparnya ini.
"Ada apa ini, Ma?" tanya Faizan sontak keduanya melihat ke arah sumber suara tersebut termasuk Aisha dan Mama Ida.
"Lihat ini kelakuan kakak iparmu yang sok kecantikan. Sudah ngeyel merengek minta pergi liburan alasan rindu orang tuanya tapi hasilnya begini. Mana sekarang dia dengan lantangnya nuduh kakakmu mandul. Dasar perempuan gak tahu diri," sarkas Mama Ida.
"Ya ampun Mah, ini sudah takdir dari Sang Pencipta. Kita harus ikhlaskan semuanya supaya Mas Handika juga tenang. Kakak di sana bisa menjaga Papa yang lebih dahulu lama berpulang," ucap Faizan lembut untuk meredam emosi ibu tirinya seraya mengelus pundak Mama Ida.
Tanpa basa basi Mama Ida langsung menarik Aisha dan mendorongnya ke sisi lain menjauhi ranjang putra kandungnya.
"Pergi kamu dari sini. Aku haramkan kamu menyentuh jenasah putraku baik itu seujung kukunya sekalipun wanita mandul!" pekik Mama Ida dengan tajam.
"Tapi Mah_" ucapan Faizan teropong.
"Gak ada tapi-tapian. Kamu urus saja itu kakak iparmu yang pembawa sial!" potong Mama Ida dengan nada yang cukup tinggi dengan matanya melotot pada Faizan dan Aisha. Keduanya pun hanya bisa pasrah dan tampak terdiam tanpa bisa membantah.
Di keluarga Atmajaya selepas sang Papa, Budi Atmajaya (60 tahun) meninggal dunia, memang kendali rumah ada di tangan Mama Ida sebagai istri pertamanya. Faizan pun tidak bisa banyak berbuat sebab ia hanya anak dari istri kedua.
Terlebih ibu kandungnya, Resya Damayanti telah lama meninggal dunia sejak melahirkannya. Otomatis dirinya sejak kecil diasuh oleh Mama Ida bersama sang Papa.
Faizan pun mengajak Aisha untuk keluar terlebih dahulu dari kamar Handika sebab situasi sedang tidak kondusif dan penuh emosi jiwa. Tentu dirinya tidak ingin Aisha jadi sasaran empuk kemarahan sang ibu tirinya itu.
Walaupun begitu Faizan paham ibu tirinya sangat terpukul karena kehilangan sang kakak sehingga membutakan logika dan hatinya untuk saat ini. Orang tua mana yang tidak akan bersedih bila kehilangan putra tunggalnya.
Karena seluruh harapan dan kehidupannya ia gantungkan pada sang putra. Kini penopang itu berpulang pada Sang Pencipta dengan cara seperti ini dan mendadak. Pastinya ia sangat syok sebab berangkat sehat namun pulang dalam kondisi tinggal nama.
Sebelum keluar, ia menoleh kembali dan melihat Mama Ida memeluk jenasah sang kakak. Wanita berusia senja itu meraung-raung pilu memanggil nama putranya yang telah meninggal.
Dirinya teringat kesedihannya yang lalu dan merasa de javu. Saat masih berumur lima belas tahun, sang Papa meninggal dunia akibat sakit jantung. Dirinya, sang kakak dan Mama Ida menangis pilu. Bahkan ibu tirinya itu sampai pingsan.
Aisha awalnya tidak bersedia meninggalkan jenasah suaminya. Ia ingin selalu berada di sisi mendiang suaminya hingga dikebumikan. Namun Faizan sedikit memaksa dan memberinya pengertian agar sang kakak ipar memberi ruang dan waktu sejenak untuk ibu tirinya itu.
Akhirnya Aisha dengan tertunduk lesu keluar bersama Faizan. Kini keduanya duduk tak jauh dari kamar Handika. Suasana canggung sedikit melingkupi keduanya. Sebab sejak pernikahan bahkan sebelum pernikahan Handika dengan Aisha, keduanya sangat jarang berinteraksi.
Terlebih dalam kondisi berdua saja seperti ini, hal itu sangat jarang sekali terjadi. Apalagi komunikasi via ponsel. Sejak Faizan pergi ke Batam, keduanya sangat jarang berkomunikasi kecuali hal mendesak seperti ibu mertuanya yang pernah opname karena sakit darah tingginya kambuh ataupun hal lainnya atas perintah Handika.
"Maafkan Mama ya Mbak. Pasti itu pipi Mbak merah akibat cap lima jari dari Mama," ucap Faizan sendu melihat pipi belahan jiwanya tampak memerah akibat tamparan dari sang ibu tirinya.
"Iya enggak apa-apa, Dek. Kamu tenang saja, Mbak paham kok kondisi Mama. Yang pasti sedih kehilangan Mas Handika jadi mudah terbawa emosi," tutur Aisha dengan lembut seraya menunduk.
Dalam keheningan dan kecanggungan itu tiba-tiba ada seorang dokter memanggil Aisha.
"Nyonya Aisha," panggil sang dokter melangkah menuju tempat duduk Faizan dan Aisha.
Sontak keduanya pun berdiri dan menatap sang dokter lelaki tersebut. Aisha ingat dokter ini yang sebelumnya menangani Handika, suaminya.
"Iya Dok," Aisha pun menjawabnya dengan lirih.
"Maaf sebelumnya, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Nyonya Aisha. Tetapi sebelumnya, apakah saudara Tuan Handika yang bernama Tuan Faizan Atmajaya sudah hadir di rumah sakit ini atau masih dalam perjalanan?" tanya sang dokter.
"Saya Faizan, Dok. Ada apa ya, Dok?" tanya Faizan dengan serius.
"Silahkan kalian berdua ikuti saya ke ruangan yang lain. Sebab hal ini sangat penting dan bersifat pribadi," ucap sang dokter.
Deg...
"Ada apa gerangan?" batin Faizan bergemuruh.
"Ya Tuhan ada masalah apa lagi ini? Kuatkan hamba ya Tuhan," batin Aisha sendu bercampur cemas.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Tuti Tyastuti
handika minggalakan amanah kah🤔
2024-07-14
0
Windarti08
mungkin sebelum meninggal, Handika ada titip pesan sama dokter semacam wasiat untuk Aisha turun ranjang dengan Faizan
2023-06-25
2
❤️⃟Wᵃfនӈᷭɜͧiͤււͤaᷠᶫᵌᵌ✨
bener banget dan semua tergantung sama manusia nya gimana menjalani dan menerima semua cobaan yang udah di berikan
2023-05-02
1