Bab 3 - Suratan Takdir

Ceklek...

Derit pintu kamar tempat Handika Atmajaya terbuka dan sungguh perih hatinya melihat kondisi memilukan ini ada di hadapannya secara nyata bukan mimpi belaka.

Sang kakak yang gagah kini terbujur kaku di ranjang dan di sebelahnya tampak Aisha tengah menundukkan kepalanya. Pipinya basah akan jejak air mata yang diyakini Faizan sebab kehilangan mendalam yang dialami oleh Aisha.

Siapa yang menduga bahwa dalam sehari, gadis berlesung pipinya ini ditinggal pergi oleh ketiga orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Tentu saja pohon yang kokoh tersebut rapuh sebab akarnya dicabut paksa.

Takdir sungguh kejam pada Aisha. Mungkin sebagian manusia yang melihat dari sudut pandangnya akan berpikir sedangkal itu.

Akan tetapi bagi orang yang beriman selalu percaya bahwa setiap cobaan dalam hidup kita tentu akan ada hikmah yang berharga di balik itu semua. Semua sudah suratan takdir dari sang pemilik kehidupan.

Tinggal bagaimana manusia itu ikhlas menjalani takdirnya dan lebih banyak bersyukur bukan mengeluhinya terus menerus tergerus kesedihan dan kekecewaan.

Faizan mulai merasakan sesuatu yang janggal sebab Aisha tengah menunduk dan tangan kirinya memegang pipinya. Sang ibu tirinya tengah berkacak pinggang di depan kakak iparnya ini.

"Ada apa ini, Ma?" tanya Faizan sontak keduanya melihat ke arah sumber suara tersebut termasuk Aisha dan Mama Ida.

"Lihat ini kelakuan kakak iparmu yang sok kecantikan. Sudah ngeyel merengek minta pergi liburan alasan rindu orang tuanya tapi hasilnya begini. Mana sekarang dia dengan lantangnya nuduh kakakmu mandul. Dasar perempuan gak tahu diri," sarkas Mama Ida.

"Ya ampun Mah, ini sudah takdir dari Sang Pencipta. Kita harus ikhlaskan semuanya supaya Mas Handika juga tenang. Kakak di sana bisa menjaga Papa yang lebih dahulu lama berpulang," ucap Faizan lembut untuk meredam emosi ibu tirinya seraya mengelus pundak Mama Ida.

Tanpa basa basi Mama Ida langsung menarik Aisha dan mendorongnya ke sisi lain menjauhi ranjang putra kandungnya.

"Pergi kamu dari sini. Aku haramkan kamu menyentuh jenasah putraku baik itu seujung kukunya sekalipun wanita mandul!" pekik Mama Ida dengan tajam.

"Tapi Mah_" ucapan Faizan teropong.

"Gak ada tapi-tapian. Kamu urus saja itu kakak iparmu yang pembawa sial!" potong Mama Ida dengan nada yang cukup tinggi dengan matanya melotot pada Faizan dan Aisha. Keduanya pun hanya bisa pasrah dan tampak terdiam tanpa bisa membantah.

Di keluarga Atmajaya selepas sang Papa, Budi Atmajaya (60 tahun) meninggal dunia, memang kendali rumah ada di tangan Mama Ida sebagai istri pertamanya. Faizan pun tidak bisa banyak berbuat sebab ia hanya anak dari istri kedua.

Terlebih ibu kandungnya, Resya Damayanti telah lama meninggal dunia sejak melahirkannya. Otomatis dirinya sejak kecil diasuh oleh Mama Ida bersama sang Papa.

Faizan pun mengajak Aisha untuk keluar terlebih dahulu dari kamar Handika sebab situasi sedang tidak kondusif dan penuh emosi jiwa. Tentu dirinya tidak ingin Aisha jadi sasaran empuk kemarahan sang ibu tirinya itu.

Walaupun begitu Faizan paham ibu tirinya sangat terpukul karena kehilangan sang kakak sehingga membutakan logika dan hatinya untuk saat ini. Orang tua mana yang tidak akan bersedih bila kehilangan putra tunggalnya.

Karena seluruh harapan dan kehidupannya ia gantungkan pada sang putra. Kini penopang itu berpulang pada Sang Pencipta dengan cara seperti ini dan mendadak. Pastinya ia sangat syok sebab berangkat sehat namun pulang dalam kondisi tinggal nama.

Sebelum keluar, ia menoleh kembali dan melihat Mama Ida memeluk jenasah sang kakak. Wanita berusia senja itu meraung-raung pilu memanggil nama putranya yang telah meninggal.

Dirinya teringat kesedihannya yang lalu dan merasa de javu. Saat masih berumur lima belas tahun, sang Papa meninggal dunia akibat sakit jantung. Dirinya, sang kakak dan Mama Ida menangis pilu. Bahkan ibu tirinya itu sampai pingsan.

Aisha awalnya tidak bersedia meninggalkan jenasah suaminya. Ia ingin selalu berada di sisi mendiang suaminya hingga dikebumikan. Namun Faizan sedikit memaksa dan memberinya pengertian agar sang kakak ipar memberi ruang dan waktu sejenak untuk ibu tirinya itu.

Akhirnya Aisha dengan tertunduk lesu keluar bersama Faizan. Kini keduanya duduk tak jauh dari kamar Handika. Suasana canggung sedikit melingkupi keduanya. Sebab sejak pernikahan bahkan sebelum pernikahan Handika dengan Aisha, keduanya sangat jarang berinteraksi.

Terlebih dalam kondisi berdua saja seperti ini, hal itu sangat jarang sekali terjadi. Apalagi komunikasi via ponsel. Sejak Faizan pergi ke Batam, keduanya sangat jarang berkomunikasi kecuali hal mendesak seperti ibu mertuanya yang pernah opname karena sakit darah tingginya kambuh ataupun hal lainnya atas perintah Handika.

"Maafkan Mama ya Mbak. Pasti itu pipi Mbak merah akibat cap lima jari dari Mama," ucap Faizan sendu melihat pipi belahan jiwanya tampak memerah akibat tamparan dari sang ibu tirinya.

"Iya enggak apa-apa, Dek. Kamu tenang saja, Mbak paham kok kondisi Mama. Yang pasti sedih kehilangan Mas Handika jadi mudah terbawa emosi," tutur Aisha dengan lembut seraya menunduk.

Dalam keheningan dan kecanggungan itu tiba-tiba ada seorang dokter memanggil Aisha.

"Nyonya Aisha," panggil sang dokter melangkah menuju tempat duduk Faizan dan Aisha.

Sontak keduanya pun berdiri dan menatap sang dokter lelaki tersebut. Aisha ingat dokter ini yang sebelumnya menangani Handika, suaminya.

"Iya Dok," Aisha pun menjawabnya dengan lirih.

"Maaf sebelumnya, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Nyonya Aisha. Tetapi sebelumnya, apakah saudara Tuan Handika yang bernama Tuan Faizan Atmajaya sudah hadir di rumah sakit ini atau masih dalam perjalanan?" tanya sang dokter.

"Saya Faizan, Dok. Ada apa ya, Dok?" tanya Faizan dengan serius.

"Silahkan kalian berdua ikuti saya ke ruangan yang lain. Sebab hal ini sangat penting dan bersifat pribadi," ucap sang dokter.

Deg...

"Ada apa gerangan?" batin Faizan bergemuruh.

"Ya Tuhan ada masalah apa lagi ini? Kuatkan hamba ya Tuhan," batin Aisha sendu bercampur cemas.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Tuti Tyastuti

Tuti Tyastuti

handika minggalakan amanah kah🤔

2024-07-14

0

Windarti08

Windarti08

mungkin sebelum meninggal, Handika ada titip pesan sama dokter semacam wasiat untuk Aisha turun ranjang dengan Faizan

2023-06-25

2

❤️⃟Wᵃfនӈᷭɜͧiͤււͤaᷠᶫᵌᵌ✨

❤️⃟Wᵃfនӈᷭɜͧiͤււͤaᷠᶫᵌᵌ✨

bener banget dan semua tergantung sama manusia nya gimana menjalani dan menerima semua cobaan yang udah di berikan

2023-05-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kecelakaan Dahsyat
2 Bab 2 - Duka yang Mendalam
3 Bab 3 - Suratan Takdir
4 Bab 4 - Wasiat Handika
5 Bab 5 - Kedatangan Pengacara Keluarga
6 Bab 6 - Hal Penting
7 Bab 7 - Awal Mula
8 Bab 8 - Patah Hati
9 Bab 9 - Calon Menantu Idaman
10 Bab 10 - Firasat Buruk
11 Bab 11 - Satu Tahun Pernikahan
12 Bab 12 - Bicara Berdua
13 Bab 13 - Pulang Kampung
14 Bab 14 - Cinta Tulus Faizan
15 Bab 15 - Menuju Pernikahan
16 Bab 16 - Mimpi Indah
17 Bab 17 - Sah
18 Bab 18 - Malam Pengantin
19 Bab 19 - Pelukan Hangat
20 Bab 20 - Cinta atau Kewajiban?
21 Bab 21 - Siapa Perempuan Itu?
22 Bab 22 - Cemburu
23 Bab 23 - Nasehat Bik Imah
24 Bab 24 - Trauma
25 Bab 25 - Aku Mencintaimu
26 Bab 26 - Pergi ke Bandung
27 Bab 27 - Menuju Berbuka
28 Bab 28 - Masih Suci ?
29 Bab 29 - Anugerah Terindah
30 Bab 30 - Penjelasan
31 Bab 31 - Urusan Bisnis
32 Bab 32 - Rencana Licik
33 Bab 33 - Honeymoon
34 Bab 34 - Terusik
35 Bab 35 - Pukulan Telak
36 Bab 36 - Mama Ida Jatuh Sakit
37 Bab 37 - Rencana Busuk
38 SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
39 Bab 38 - Hamil
40 Bab 39 - Tangisan Pilu Aisha
41 Bab 40 - Gelisah dan Curiga
42 Bab 41 - Wejangan dari Sahabat
43 Bab 42 - Paket Misterius
44 Bab 43 - Terusir
45 Bab 44 - Mendadak Mual
46 Bab 45 - Couvade Syndrome
47 Bab 46 - Diterima Bekerja
48 Bab 47 - Kepulangan Faizan
49 Bab 48 - Alibi Mama Ida
50 Bab 49 - Sebuah Amplop Tanpa Nama
51 Bab 50 - Tiga Lembar Foto
52 Bab 51 - Tikus Kecil
53 Bab 52 - Kedatangan Tamu
54 Bab 53 - Duka di Masa Lalu
55 Bab 54 - Keyakinan Bu Jihan
56 Bab 55 - Ngidam
57 Bab 56 - Kabar Mengejutkan
58 Bab 57 - Wajah yang Familiar
59 Bab 58 - Menguak Tabir
60 Bab 59 - Tabir Terbuka part 1
61 Bab 60 - Tabir Terbuka part 2
62 Bab 61 - Tabir Terbuka part 3
63 Bab 62 - Hukum Tabur Tuai
64 Bab 63 - Go to Bali
65 Bab 64 - Tes DNA
66 Bab 65 - Drama Perjalanan ke Bali
67 Bab 66 - Hasil Tes DNA
68 Bab 67 - Haru Biru
69 Bab 68 - Calon Papa Ngambek
70 Bab 69 - Setelah Sekian Purnama
71 Bab 70 - Akhir Kisah Ibu Mertua Kejam
72 Bab 71 - Permintaan Maaf
73 Bab 72 - Kelahiran Buah Hati
74 PROMO KARYA BARU
75 PROMO KARYA BARU
76 PROMO KARYA BARU
77 PROMO KARYA BARU
78 PROMO KARYA BARU
79 PROMO KARYA BARU
80 PROMO KARYA BARU
81 PROMO KARYA BARU
82 Launching Novel Baru
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 - Kecelakaan Dahsyat
2
Bab 2 - Duka yang Mendalam
3
Bab 3 - Suratan Takdir
4
Bab 4 - Wasiat Handika
5
Bab 5 - Kedatangan Pengacara Keluarga
6
Bab 6 - Hal Penting
7
Bab 7 - Awal Mula
8
Bab 8 - Patah Hati
9
Bab 9 - Calon Menantu Idaman
10
Bab 10 - Firasat Buruk
11
Bab 11 - Satu Tahun Pernikahan
12
Bab 12 - Bicara Berdua
13
Bab 13 - Pulang Kampung
14
Bab 14 - Cinta Tulus Faizan
15
Bab 15 - Menuju Pernikahan
16
Bab 16 - Mimpi Indah
17
Bab 17 - Sah
18
Bab 18 - Malam Pengantin
19
Bab 19 - Pelukan Hangat
20
Bab 20 - Cinta atau Kewajiban?
21
Bab 21 - Siapa Perempuan Itu?
22
Bab 22 - Cemburu
23
Bab 23 - Nasehat Bik Imah
24
Bab 24 - Trauma
25
Bab 25 - Aku Mencintaimu
26
Bab 26 - Pergi ke Bandung
27
Bab 27 - Menuju Berbuka
28
Bab 28 - Masih Suci ?
29
Bab 29 - Anugerah Terindah
30
Bab 30 - Penjelasan
31
Bab 31 - Urusan Bisnis
32
Bab 32 - Rencana Licik
33
Bab 33 - Honeymoon
34
Bab 34 - Terusik
35
Bab 35 - Pukulan Telak
36
Bab 36 - Mama Ida Jatuh Sakit
37
Bab 37 - Rencana Busuk
38
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
39
Bab 38 - Hamil
40
Bab 39 - Tangisan Pilu Aisha
41
Bab 40 - Gelisah dan Curiga
42
Bab 41 - Wejangan dari Sahabat
43
Bab 42 - Paket Misterius
44
Bab 43 - Terusir
45
Bab 44 - Mendadak Mual
46
Bab 45 - Couvade Syndrome
47
Bab 46 - Diterima Bekerja
48
Bab 47 - Kepulangan Faizan
49
Bab 48 - Alibi Mama Ida
50
Bab 49 - Sebuah Amplop Tanpa Nama
51
Bab 50 - Tiga Lembar Foto
52
Bab 51 - Tikus Kecil
53
Bab 52 - Kedatangan Tamu
54
Bab 53 - Duka di Masa Lalu
55
Bab 54 - Keyakinan Bu Jihan
56
Bab 55 - Ngidam
57
Bab 56 - Kabar Mengejutkan
58
Bab 57 - Wajah yang Familiar
59
Bab 58 - Menguak Tabir
60
Bab 59 - Tabir Terbuka part 1
61
Bab 60 - Tabir Terbuka part 2
62
Bab 61 - Tabir Terbuka part 3
63
Bab 62 - Hukum Tabur Tuai
64
Bab 63 - Go to Bali
65
Bab 64 - Tes DNA
66
Bab 65 - Drama Perjalanan ke Bali
67
Bab 66 - Hasil Tes DNA
68
Bab 67 - Haru Biru
69
Bab 68 - Calon Papa Ngambek
70
Bab 69 - Setelah Sekian Purnama
71
Bab 70 - Akhir Kisah Ibu Mertua Kejam
72
Bab 71 - Permintaan Maaf
73
Bab 72 - Kelahiran Buah Hati
74
PROMO KARYA BARU
75
PROMO KARYA BARU
76
PROMO KARYA BARU
77
PROMO KARYA BARU
78
PROMO KARYA BARU
79
PROMO KARYA BARU
80
PROMO KARYA BARU
81
PROMO KARYA BARU
82
Launching Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!