"Mas Handika! Bangun Mas... kamu pasti bercanda kan. Kamu cuma ngeprank aku kan Mas, huhu..."
"Kamu janji akan bawa aku pergi umroh ke Tanah Suci bulan depan. Supaya kita bisa berdoa lebih dekat pada Allah. Siapa tahu sepulang dari umroh, kamu diberi kesembuhan jadi kita bisa segera mendapatkan momongan seperti yang kita tunggu selama ini. Mana janjimu, Mas. Kamu pembohong!" teriak Aisha dengan derai air mata dan tubuhnya memeluk jenasah suaminya, Handika.
Cobaan bertubi-tubi menimpa seorang Aisha Permata Jingga hari ini. Dalam satu hari, ia ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh kedua orang tuanya dan juga suaminya.
Hatinya pun tengah gusar berbalut kesedihan perih menyayat hati. Sebab ia tak sanggup rasanya untuk menghadapi kemurkaan sang ibu mertuanya. Selain kondisi fisik dan hatinya tengah lemah tak berdaya, terlebih pencetus ide liburan ke Yogyakarta adalah dirinya.
Apalagi suaminya itu adalah putra kandung semata wayang ibu mertuanya. Tentu sangat disayang bak porselen berharga yang tidak akan dibiarkan tergores sedikitpun.
Dikarenakan keinginan dirinya yang menggebu berbalut rindu ingin berkunjung ke rumah kedua orang tuanya di Sleman sekaligus berlibur ke kota Yogyakarta, kini rindu itu hanya meninggalkan duka lara dan nestapa padanya.
Namun tak lama tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang dari belakang dan sontak Aisha berdiri. Saat menoleh, matanya membelakak sempurna sebuah tatapan tajam menghunus padanya.
"Plakk..."
Sebuah tamparan panas melesat di pipinya sebelah kiri oleh tangan dingin ibu mertuanya yang bernama Ida Sagita Atmajaya, 55 tahun.
"Dasar menantu pembawa sial!"
"Putra semata wayang yang aku sayang setengah mati, dengan teganya kamu mengirim dia ke akhirat lebih dahulu daripada aku! Sekarang belum juga jenasah putraku di makamkan, apa kamu bilang tadi? Kesembuhan untuk mendapatkan momongan?"
"Dasar wanita mandul! Berani-beraninya kamu menuduh putraku yang mandul. Dasar menantu tidak tahu terima kasih. Bukan orang kaya tapi belagu!" hardik Ida Sagita Atmajaya.
Jika waktu bisa diputar kembali, tentu Aisha akan membatalkan niat kepergiannya ke Sleman, Yogyakarta. Ataupun jika memang sudah digariskan oleh takdir dan Tuhan memberikan pilihan padanya, lebih baik dirinya yang pergi bersama kedua orang tuanya kembali pada Sang Pencipta asalkan suaminya tetap hidup.
Supaya sang suami tetap bisa berkumpul dan bahagia bersama sang ibu mertua. Dikarenakan Ayah mertuanya, Budi Atmajaya, 60 tahun, telah meninggal dunia sejak lama. Jauh sebelum dirinya menikah dengan Handika Atmajaya.
Derap langkah sol sepatu seorang pria muda menggema di selasar ruangan IGD RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Yogyakarta. Dirinya begitu syok ketika dikabarkan bahwa sang kakak, Handika Atmajaya, mengalami kecelakaan bersama istri dan kedua orang tua Aisha.
Walaupun Handika adalah kakak tirinya, tetapi ia sangat menyayangi lelaki itu seperti kakak kandungnya sendiri. Terlahir dari satu Ayah yang sama tetapi dua ibu yang berbeda.
Tetap tak menyurutkan ikatan batin dan kasih sayang antara keduanya. Handika pun sangat menyayangi adik satu-satunya itu walaupun tidak lahir dari rahim yang sama. Akan tetapi sikap ibu kandung Handika sangat bertolak belakang dengan putranya itu dalam hal menyayangi Faizan, anak tirinya.
Faizan berharap kabar tersebut hanya hoax semata. Namun setelah ia memastikan dengan baik ternyata memang fakta tersebut benar adanya. Alhasil dirinya langsung melesat dengan pesawat komersil yang tersedia hari itu juga dari Batam ke Yogyakarta.
Beruntung ada penerbangan tercepat satu jam lagi menuju Yogyakarta yang menyisakan satu seat kosong. Walaupun dengan harga yang sangat mahal sebab bertepatan dengan long weekend. Maka tiket itu pun ia beli demi sang kakak dan juga keinginan hati untuk melihat kondisi wanita yang selama ini diam-diam ia cintai.
POV Faizan Atmajaya On
Faizan Atmajaya, 25 tahun, adik tiri Handika Atmajaya sekaligus adik ipar Aisha. Lelaki yang lebih muda usianya lima tahun dari Aisha ini, sesungguhnya telah lama menaruh hati pada sang kakak ipar. Namun cinta itu hanya bisa ia pendam di hati.
Diam-diam mencintai seorang gadis penjaga loket penjualan tiket kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta. Gadis bersurai hitam panjang, berkulit putih dan berlesung pipi. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang dialami Faizan Atmajaya pada sosok Aisha Permata Jingga.
Bukan karena Aisha yang cantik parasnya tetapi juga mulia hatinya. Hal ini terbukti secara sengaja suatu hari Faizan mengikuti gadis yang ia cintai itu untuk mengetahui keseharian Aisha.
Ternyata setelah Aisha bekerja di stasiun Gambir, gadis ini tidak lantas pulang ke kosannya melainkan pergi ke sebuah lapangan kosong nan kumuh yang tidak jauh dari kolong jembatan di Jalan Sukabumi, Menteng, Jakarta Pusat.
Dengan motor maticnya, Aisha setiap hari setelah pulang kerja selalu menyempatkan mengajar anak-anak kolong jembatan. Baik itu membaca, berhitung maupun membuat suatu prakarya.
Jiwa sosial dan kepedulian yang sangat tinggi dimiliki oleh Aisha membuat Faizan terpesona akan daya pikat gadis berlesung pipi ini. Bahkan ia pernah tidak sengaja melihat Aisha memberhentikan motornya lalu menepikan di pinggir jalan, ternyata dia turun hanya untuk membantu menyeberangkan seorang nenek tua renta.
Nenek tersebut membawa sebuah karung besar seperti berisikan kaleng-kaleng bekas yang diambil dari tong sampah dan ia letakkan di punggungnya. Dan tanpa jijik karung tersebut berpindah dari punggung si nenek ke punggung Aisha. Lalu gadis itu menggandeng tangan sang nenek tersebut untuk menyeberang jalan.
"Gadis yang langka," batin Faizan seakan tersihir atas kelembutan hati seorang Aisha.
Namun cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan kala ia mengetahui ternyata Aisha adalah kekasih sang kakak tirinya, Handika Atmajaya. Bahkan keduanya bersiap naik ke pelaminan.
Pupus sudah harapan Faizan untuk menyunting gadis pujaan hatinya itu. Alhasil selepas pernikahan sang kakak dengan Aisha, ia bertolak ke Batam. Meninggalkan cinta dan hatinya di Jakarta.
Faizan memutuskan menerima tawaran pekerjaan dari sahabat dekatnya bernama Benny, 25 tahun, untuk bekerja di perusahaan milik tantenya. Berharap cinta itu hilang dengan sendirinya jika berjauhan dari sang pemilik hatinya.
Namun ternyata satu tahun berselang, tetap cinta tersebut tidak luntur. Bahkan semakin memenuhi relung jiwanya. Walaupun banyak pinangan cinta datang padanya dari wanita yang lebih muda usianya dari Aisha dan berasal dari keluarga berpunya.
Tetapi tetap ia tolak sebab di hatinya hanya ada satu nama bidadari cintanya yaitu Aisha Permata Jingga. Hanya Aisha dan dia tidak menginginkan yang lainnya.
POV Off
"Bagaimana kondisi Aisha sekarang ya Tuhan?" batin Faizan.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Tuti Tyastuti
mampir ka
2024-07-14
0
Evy
kalo Ayahnya sama tapi beda ibu itu bukan saudara tiri tapi saudara kandung beda ibu.kalo saudara tiri anak bawaan dari Ayah atau dari pihak ibu.
2023-12-28
1
LENY
GAK PUNYA OTAK INI MERTUA ITU KAN TAKDIR MEMANG AISHA MAU KEHILANGAN ORANG2 YG DICINTAINYA. DASAR MERTUA CULAS JAHAT😡
2023-10-28
0