Berkat Mamat rumah Vita sudah selesai di renovasi dan bisa ditempati, berkat Mamat pula Vita mulai menjalankan usahanya membuka kafe kecil yang menyajikan sajian pasta.
Entah bagaimana Vita bisa membalas budi kepada Mamat karena kebaikan hatinya menolong Vita selama di kota ini.
Vita memulai usahanya yang diberi nama 'Omah Pasta' di sebuah ruko kecil dengan luas tak lebih dari lima puluh meter, dibantu oleh Retno ponakan bulek Sri dan juga Mamat ketika cowok itu sedang tak ada orderan ojeknya.
Retno yang aslinya pendiam itu, entah gimana ceritanya bisa klop aja dengan Vita, sedikit demi sedikit bisa membuka diri kepada Vita.
"Lumayan ya mbak, baru di buka beberapa hari tapi sudah laku terjual." kata Retno ketika mereka beristirahat saat belum ada pembeli yang datang.
"Iya aku jadi seneng Ret, hobby ku memasak pasta jadi bermanfaat juga sekarang."
"Iya enak banget lho pasta bikinan mbak Vita ini, aku yang awalnya nggak doyan makanan benyek kayak gini sekarang jadi doyan." Retno terkekeh mengingat kembali reaksinya ketika Vita menyodorkan lasagna bikinannya waktu itu.
"Mamat tumbenan nggak nongol-nongol Ret?"
"Mas Mamat emang gitu mbak, kadang tahu-tahu ngilang, ntar lamaaaa baru nongol lagi." terang Retno sambil menusuk lasagna nya dengan garpu.
"Lho bukannya dia tetangga kita?" tanya Vita kepo terus terang penasaran dengan sosok Mamat yang yah kelihatan charming dibalik casing yang jadul.
"Dia tuh cuman sesekali nongkrong di warung nya bude Ning yang di deket perempatan situ tuh mbak, nggak jauh dari rumah kita kok, kapan-kapan kita kesana cicipin masakan bude Ning, dijamin ketagihan." cerocos Retno membuat Vita terheran, karena selama ini kan Retno terkenal pendiam bahkan dengan bulek Sri yang merupakan budenya itu.
Vita mencibir." Emang kamu ada waktu buat ngajakin aku kesana Ret?"
"Eh iya, lupa aku, kita kan sibuk ya mbak, nggak pernah bisa libur." Retno garuk-garuk kepala yang sambil nyengir kuda.
"Sabar ya Ret, namanya juga merintis, nanti kalo sudah rame dan kita perlu nyari karyawan lagi baru kita bisa atur jadwal liburnya."
"Coba aja mas Mamat mau full bantuin kita ya mbak?" Retno membayangkan Mamat ada diantara mereka, pasti bikin semangat dan betah berlama-lama disana.
"Kamu naksir Mamat Ret?" tanya Vita kepo.
"Emang mbak Vita enggak?" Retno bertanya kepada Vita yang langsung dijawab gelengan kepala.
"Padahal mas Mamat tuh jadi primadona si kampung lho mbak." Retno memuji Mamat dengan mata berbinar.
"Itu kan pendapat kamu dan teman-teman kamu, aku sih nggak tertarik!" sahut Vita cepat.
"Awas lho mbak, nanti ucapannya berbalik, bilang benci ternyata jadi cinta." ledek Retno.
"Kamu sotoy, umur baru delapan belas tahun aja sok jadi pakar cinta-cintaan." Vita mencebik mendengar ucapan Retno barusan.
Masih asyik bercerita, tiba-tiba pintu kafe terbuka dan seorang wanita mungil masuk ke meja buat pesen makanan.
Vita berdiri menyambut tamu, karena memang itu tugas Vita.
"Selamat datang mbak, mau pesan apa?" sapa Vita ramah.
"Kamu Vita kan?" tanya customer di depannya dengan wajah terkejut.
Vita memindai wajah cantik di depannya dan sejauh mengingat dia bukanlah salah satu temannya.
"Maaf mbak, apakah mbak kenal saya?" tanya Vita sopan, takut melukai perasaan orang di depannya, takut kenal tapi dikira pura-pura lupa.
"Saya Rara mbak, istrinya Evan." ucap Rara membuat Vita melongo.
'Evan? Maksudnya Evan mantan pacar pertamaku kan?' batin Vita shock.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments