Satu setengah bulan bukanlah waktu yang lama untuk membereskan semua tugas yang harus diselesaikan, nyatanya hari ini adalah hari terakhir Vita tercatat sebagai karyawan di perusahaan tempatnya bekerja.
Dalam kurun waktu sesingkat itu, Vita harus bisa membuat Desi siap menggantikan posisinya, mengajar Hana teman beda devisi yang akhirnya di hire untuk di tempatkan di departemen marketing (untuk yang ini, Vita benar-benar kewalahan karena pak Hans sangat perfeksionis, Hana diminta harus bisa menguasai pekerjaannya, paling nggak selevel Rani kemampuannya).
Lalu Vita juga harus meluangkan waktu mengambil akta cerai di pengadilan agama, sebagai bukti statusnya yang baru, agar di tempat baru nanti tak ada kendala yang berarti karena Vita belum merubah data kependudukannya karena alamat rumah baru yang belum jelas.
Dan untungnya Ines yang ia kasih tugas untuk mempersiapkan tempat tinggalnya di seputaran Solo, entah karena pertimbangan apa justru memilihkan tempat tinggal untuknya di sebuah kota kecil tak jauh dari gunung Lawu.
Hari ini hari terakhir dimana Vita tercatat sebagai karyawan PT. Sari Nirwana, sejak pagi Rani sering mengusap matanya yang berembun, jadi patner kerja Vita selama hampir empat tahun, banyak kenangan yang tersisa diantara mereka.
Desi pun tak banyak berkomentar, hatinya rasa tak rela melepas Vita pergi dari kantor, kalo boleh memilih Desi lebih baik tetap jadi staff biasa dan tak perlu mengganti posisi Vita, karena jabatan ini dia dapat tapi konsekuensinya Vita resign.
Dering telepon internal mengagetkan ketiganya yang sedang asyik berpelukan, gegas Hana yang sedang mengerjakan pekerjaannya segera mengangkat telepon tersebut.
"Tolong Vita suruh masuk ke ruangan saya!" Klik, suara pak Hans terputus.
"Mbak Vit, dipanggil bapak." info Hana membuat Vita melepaskan pelukannya.
"Udah ah jangan nangis, aku jadi ikutan melow," kata Vita mengusap airmata Rani yang tak juga berhenti. Dasar melow.
"Aku masuk ke pak Hans dulu, siapa tahu dapet pesangon tambahan dari dia." pamit Vita lalu melangkah menuju ruangan di depannya.
Tok.... tok....
Dan tanpa dipersilakan Vita langsung menerobos masuk ke ruangan tersebut.
Dengan menyunggingkan senyum, Vita menyapa pak Hans yang sedang menatapnya dengan intens.
"Bapak panggil saya?"
"Duduk!" perintahnya judes.
Vita menjatuhkan pantat dan duduk di hadapan pak Hans. "Udah mau pisahan masih judes aja sih pak." goda Vita tersenyum jahil.
"Muka kamu tuh bikin bete, nyebelin!"
"Idih... gini-gini dulu kalo sehari nggak lihat muka saya bapak senyo seharian kan?"
"Terpaksa, karena saya butuh kamu buat kerja, kalo nurutin ati udah saya buang dulu-dulu!" kata pak Hans dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Lalu pak Hans mengambil sesuatu dari lacinya dan menyerahkan sebuah kota kecil kepada Vita.
Vita menatap pak Hans, dengan tatapan penuh terimakasih, biar gimanapun ternyata bosnya itu ada perhatian juga terhadapnya.
"Inget kalo kamu pengen balik ke Jakarta hubungi saya, selalu ada tempat kosong buat kamu," kata pak Hans lalu menjabat tangan Vita erat.
"Thanks a lot ya pak," sahut Vita dengan mata yang tiba-tiba berair.
"Take care ya Vit, semoga sukses selalu."
Vita hanya menganggukkan kepala tanda syukur atas semua waktu yang telah mereka lalui bersama, walau mereka atasan dan bawahan yang seringnya bersitegang tapi tetap saja dua belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan.
Semoga jalan Vita tetap indah, walau kedepannya akan selalu ada rintangan dan hambatan.
Life must go on khan, jadi tetap percaya semua akan indah pada waktunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments