Vita bergegas menuju ke ruangan managernya, mengintip ke dalam ruangan melalui kaca kecil di samping pintu.
Setelah memastikan pak Hans ada di dalam ruangannya, Vita lalu mengetuk pintu di depannya, tak dipersilakan masuk Vita langsung nyelonong begitu saja.
Pak Hans menatap padanya, seperti biasa Vita langsung duduk di kursi yang tersedia terhalang meja kerja pak Hans.
"Ada apa Vit, tumben kamu belum sama panggil udah setor muka," ledek pak Hans lalu kembali menatap layar laptop.
"Nyindir nih pak?" celetuk Vita cengengesan, see.... sebenarnya hubungan atasan dan anak buah ini tidak sekaku hubungan kerja orang lain, meskipun Vita masih menjaga jarak tak mau masuk ke ranah pribadi mereka.
"Emang bener kan? Kamu saya panggil aja masih suka ntar sok ntar sok mulu, jadi nggak salah dong kalo saya heran kamu ngadep tanpa saya panggil."
Vita mengerucutkan bibirnya, mau menyanggah tapi ada hal lain yang lebih penting yang mesti ia sampaikan, mudah-mudahan nih bapak nggak ngereok ngedenger ucapan Vita.
"Iya deh pak saya minta maaf, tapi saya mau bicarain hal lain," kata Vita menghentikan debat kusir mereka.
"Serius amat sih Vit, saya jadi khawatir nih," kata Pak Hans menatap intens Vita.
Vita mengangguk. "Bapak udah denger tentang PD belum?" tanya Vita kembali ke mode serius.
"Kenapa emang?" pak Hans menatapnya tak suka.
"Dih bapak ditanya balik nanya ih!" ketus Vita pelan.
"Kamu nggak berniat ambil kan?" tanya pak Hans dengan tatapan menyelidik.
"Sayangnya saya tertarik pak," jawab Vita seraya menundukkan kepala dalam, tak berani menatap bosnya.
"Kenapa? Kamu nggak suka jadi anak buah saya? Gaji kamu kurang?" Cecar pak Hans dengan suara datar cenderung malas.
Gimana nggak shock, anak buah yang berdedikasi, loyal terhadapnya, pinter pula, mau resign, yang bener aja kan? Padahal selama ini bisa dikatakan Vita dan Hans adalah soulmate dalam pekerjaan, ama yang dimau dan diminta Hans pasti Vita bisa mengerjakan, tanpa banyak tanya pula.
"Bukan itu pak," sahut Vita cepat.
"Lalu?"
Vita menghela nafas dalam, lidahnya sebenarnya kelu kalo harus menceritakan masalah pribadinya, karena memang selama ini hubungannya dengan atasannya ini murni hubungan kerja, tak pernah masuk ke ranah pribadi, apalagi curhat-curhatan, nggak pernah sama sekali.
"Saya pengen pergi dari Jakarta pak," sahut Vita akhirnya mengungkapkan kenyataan yang ada daripada dia ditahan oleh pak Hans.
Hans mengeryitkan keningnya bingung, Vita ngomongnya muter-muter kayak gasing. "Coba ngomong yang jelas Vit, saya nggak paham maksud kamu!"
Sekali lagi Vita mengambil udara untuk memenuhi paru-paru nya, terus terang dia butuh pasokan oksigen untuk memenuhi otaknya agar bisa berbicara bener dihadapkan atasannya.
"Sebenarnya saya sudah divorce pak.. " kata Vita lirih, malu, aseli dirinya malu harus jujur seperti ini tentang rumah tangganya yang berantakan.
"Jadi selama ini...." Perkataan Hans mengambang di udara, dia menatap Vita yang menundukkan kepala seolah malu dengan aib ini.
"Iya, saya sering cuti karena ngurusin perceraian saya pak, dan jujur saya kepengen pergi dari Jakarta, melupakan semua yang telah terjadi."
"Lalu kamu mau kemana dan ngapain?" tanya Hans tegas, lebih ke peduli sih suaranya.
"Saya kepengen pindah ke kota lain pak, nah mumpung ada program ini, makanya saya ambil, boleh ya pak?" Vita menatap Hans dengan tatapan memohon.
"Sudah kamu pikirin masak-masak? Memulai dari nol itu nggak gampang lho Vit, terus terang saya sudah cocok kerja sama kamu."
"Saya mohon pak."
Kini giliran Hans menarik nafas berat. "Oke saya kasih waktu seminggu buat kamu mikir, toh program ini dibuka akhir bulan, jadi kamu pikirin dulu, dan kalo kamu sudah mantap, saya tidak bisa menolaknya."
"Terima kasih ya pak, you are the best pokoknya." Pekik Vita kesenengan.
"Udah sana keluar, kamu pagi-pagi bikin mood saya jelek! Laporan yang saya minta kemarin cepet bawa sini, mau saya pakai meeting nanti siang!" ketus Hans.
Vita mengangkat tangannya membentuk tanda hormat lalu pergi dari hadapan Hans.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SDH BACA KISAH ANAKNYA SI LETTA & VETSA, GK SAH GK BACA KISAH ORTU LETTA.. BIAR NYAMBUNG..
2024-06-28
0