Pagi ini Vita begitu bersemangat untuk berangkat ke kantor, hal yang jarang terjadi, karena biasanya pagi harinya kebanyakan kusut, ruwet dan tak bersemangat.
Semangat itu tetiba muncul karena dia sudah seratus persen yakin dengan keputusannya, so Vita nggak sabar untuk ketemu pak Hans lagi.
Seperti biasa drama setiap pagi yang harus ia lalui, berjibaku dengan angkot yang tersendat karena macet dan juga KRL yang selalu penuh dengan orang-orang yang berjubel memburu waktu untuk sampai ke tujuan.
Tapi semua itu sekarang malah dinikmati Vita, mengingat sebentar lagi suasana seperti ini tak akan ia rasakan lagi.
Setelah semalam dia mendengar pendapat Wulan dan Ines, otaknya langsung dipenuhi dengan nama-nama kota yang akan jadi tempat pelariannya.
Semarang, Yogyakarta atau malah memilih kota kecil di sekitaran Solo yang sudah sedikit familiar untuknya, ah nggak tahan banget untuk segera merealisasikan keinginannya.
Sesampainya di kantor seperti biasa, Vita membenahi riasannya dan mengganti sendal anti badainya dengan sepatu kerja.
Masih terlalu pagi, Vita memutuskan menuju pantry untuk menyeduh kopi yang biasa ia jadikan mood booster nya sebelum bekerja.
Kebetulan pintu pantry terbuka lebar, tak ada satupun orang yang berjubel di dalamnya sekedar untuk sarapan atau bergosip ria, terlihat cuma ada Iroh saja di sana.
"Bikin kopi mbak Vit?" tanya Iroh sedikit bergeser membiarkan Vita mengambil cangkirnya di kitchen set.
Vita hanya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Iroh.
"Betewe Roh, sudah ada info yang ikutan PD belum?" tanya Vita menggali informasi, biasa dong kalo OG dan OB tuh malah lebih tahu daripada staff, soalnya mereka yang leluasa keluar masuk ruangan boss menyiapkan minuman atau membersihkan ruangan mereka, jadi di sela-sela aktivitas itu OG OB sengaja ikut menguping pembicaraan petinggi perusahaan.
"Setahu aku sih baru Fifi anak import sama Anggun anak accounting mbak." jawab Iroh.
"Sebenarnya apa sih kebijaksanaan perusahaan dengan adanya PD?" tanya Vita kepo.
"Bilangnya sih efisiensi mbak," jawab Iroh, nah kan lebih tahu dia daripada Vita.
"Kok nggak ditunjuk aja, lagian kalo di open gini kan yang harusnya dirampingin personilnya malah nggak kesentuh, iya nggak sih?" ucap Vita sambil menyeruput kopinya.
"Iya mbak, bener, tuh kan si Fifi belum di acc sama emaknya, staff import aja cuman empat, eh ini mau ikutan PD." jawab Iroh.
"Iya HRD sama Finance yang banyak orangnya aja malah nggak ada yang ngajuin diri, " gerutu Vita.
"Ho oh."
"Mungkin mereka nunggu di PHK kali mbak, kan dapet pesangon seratus kali." lanjut Iroh membuat Vita melongo, baru ingat peraturan perusahaan yang beberapa tahun lalu dirinya ikutan menandatangani PP nya.
"Tapi ya mana mungkin sih Roh, kantor mau ngegelontorin uang pesangon segitu banyaknya, enam puluh kali gaji aja udah gede banget itu."
"Iya bener mbak, ngomong-ngomong di marketing belum ada yang ngajuin mbak?" tanya Iroh menyentak kesadarannya.
"Belum tahu sih Roh, kayaknya ada," jawab Vita langsung pamit kembali ke ruangan, jelas tidak mau keceplosan.
Sampai di ruangan, sekilas ia melihat siluet pak Hans di dalam ruangannya, tak menunggu waktu lagi, Vita mengetuk pintu di depannya, dia harus menyampaikan maksudnya sebelum Rani dan Desi sampai.
Vita menjulurkan kepala ketika pintu sengaja ia buka.
Dengan ketus pak Hans membuka suara. "Kalo kamu mau bikin saya pagi-pagi pusing, mending kamu nggak usah masuk!"
"Hehehehe, bapak judes banget sih." Ledek Vita masuk ke dalamnya walaupun tak dipersilakan masuk oleh si empunya ruangan, lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja pak Hans.
"Tanpa kamu ngomong, saya juga udah tahu apa yang kamu mau sampaikan!" Masih dengan suara yang ketus, ditambah sekarang pak Hans memalingkan wajahnya menatap layar komputernya.
"Plis deh pak, kemarin bapak kan bilang suruh saya mikir dulu, ini saya udah mikir, kok bapak malah judes gitu." kata Vita dengan suara pelan, menahan tawanya melihat muka bosnya yang langsung bete itu.
"Kamu beneran udah yakin dengan keputusan kamu?" tanya pak Hans memastikan sekali lagi.
"Seribu persen yakin pak!" jawab Vita mantap.
"Terus kamu mau ngapain?" tanya pak Hans penasaran dengan rencana Vita sesungguhnya.
"Sementara saya pengen rehat sejenak pak , setelah itu baru mikir mau ngapain." jawab Vita enteng, emang dia belum mikir mau ngapain, yang penting pergi dulu dari Jakarta.
"Kamu nggak merasa terlalu berani berspekulasi Vit?" tanya pak Hans mencoba membuat Vita mengurungkan niatnya.
Vita menggeleng, sekali menunjukkan bahwa dia sudah seratus persen yakin.
"Ya sudah kalo itu keputusanmu, tapi kamu boleh keluar dari sini kalo saya sudah dapat pengganti." putus pak Hans akhirnya.
"Tapi nanti kalo batas waktunya habis dan belum dapat pengganti saya gimana pak?" rengek Vita memelas.
"Pokoknya kamu tetap bisa ikut program PD, cuman mungkin kamu nunggu saya dapat orang dulu." jawab pak Hans tegas.
"Makasih banyak ya pak udah ngertiin saya, tapi beneran ya pak jangan di hold" pinta Vita tulus.
"Iya,iya berisik! Oh ya satu lagi, kalo misal kamu disana nggak menemukan passion kamu, dan kamu pengen kembali ke Jakarta, hubungi saya, mungkin saya bisa hire kamu untuk perusahaan keluarga saya." sambung pak Hans membuat Vita nggak bisa berkata apa-apa lagi.
Ternyata di dunianya yang semrawut, masih banyak orang yang sayang dan se perhatian itu padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments