Vita keluar dari ruangan Hans dengan perasaan lega, setidaknya Hans tidak menolak permintaannya.
"Lama banget di ruangan pak Hans, mbak diomelin ya?" tanya Rani ketika Vita sudah duduk di meja kerjanya.
"Dih ngaco lo Ran, Vita mana pernah diomelin sama pak Hans, yang ada pak Hans diomelin Vita," sahut Desi cengengesan.
"Sembarangan lo Des, masak gue ngomelin bos sih!" Vita memelototkan mata menolak pernyataan Desi.
Vita, Desi dan Rani merupakan teman satu tim yang mana Vita paling lama kerja di bagian itu dan sekaligus Supervisor mereka.
"Habisnya ngobrolnya lama banget, mbak kan paling alergi lama-lama di ruangan pak Hans."
"Gue tuh bukannya alergi, tapi gue tuh males suka ditambahi pekerjaan mulu, satu belum selesai, eh pasti disuruh lagi."
"Namanya juga anak kesayangan," ledek Desi terkikik.
"Lo gantiin deh Des, gue ikhlas kok kalo lo mau ganti posisi sama gue, " ucap Vita lembut sambil menaik turunkan alisnya.
"Ogah, kerjaan gue dicela mulu sama beliau," tolak Desi cepat-cepat.
"Kalo gitu lo deh Ran," gantian Vita menawarkan ke Rani.
"Dih ogah, mau masuk ke ruangan bapak aja aku udah panas dingin kok," tolak Rani juga.
"Kalian emang nggak setia kawan!" celetuk Vita gemes.
Mereka bertiga tuh ngobrol sambil kerja, karena meja mereka saling berhadapan dan ruangan di tempat kerja mereka tuh di ruangan tertutup yang masing-masing bagian di bedakan ruangannya.
Jadi amanlah kalo buat ghibah, paling yang denger pak Hans, bos mereka itu bukan bos killer yang bikin anak buahnya spaneng, selama kerjaan beres dan kalo ngobrol nggak boleh kenceng biar nggak terdengar sampai luar ruangan.
"Ran.... tolong kamu masukin ke ruangan pak Hans dong nih laporan, mau dipakai buat meeting ntar siang, biar di cek dulu." Vita menyodorkan laporan penjualan yang barusan dia periksa ulang.
"Mbak Vita aja deh, aku takut." tolak Rani.
"Nggak papa Ran, aku lagi nanggung nih, lagi ngerjain nego ke bank buat narik uang, finance lagi butuh." kata Vita masih fokus menatap layar komputernya.
Rani belum juga beranjak dari tempat duduknya. " Atau kamu mau nerusin kerjaanku?" tawar Vita bikin Rani tambah manyun.
Rani lalu berdiri lalu menyambar file yang ada di atas meja Vita. "Ngasih pilihan kok semua sulit, udah tahu aku belum bisa ngerjain nego gituan, astaga punya senior raja tega semua," gerutu Rani sambil melangkah menuju ruangan pak Hans.
Desi menatap Vita terheran, sepanjang mereka bekerja dalam satu tim, belum pernah Vita menyuruh temannya untuk menggantikan dirinya masuk ke ruangan bos.
"Lo lagi nggak delegasikan kerjaan lo ke kita kan Vit? Jangan bilang ke gue kalo lo minat ikutan PD." tebak Desi sialnya tepat sasaran.
***
Vita merebahkan diri di ranjangnya, matanya menatap plafon kamarnya yang ada bekas rembesan air hujan karena atap bocor.
Meskipun kamarnya tak sebesar dan tak semewah kamar tidurnya di rumah lamanya dulu, tapi bisa merebahkan badan setelah seharian menjalankan aktivitasnya yang segunung, merupakan suatu kenikmatan tersendiri yang syukurnya masih bisa dia nikmati.
Menimbang dan memikirkan lagi keputusannya untuk pensiun dari tempat kerjanya yang telah ia jalani selama sepuluh tahun itu nyatanya menimbulkan kebimbangan tersendiri.
Untung tadi pak Hans memberi waktu kepadanya untuk memikirkan lagi permintaannya.
Sekarang sendirian di kamar dan merenung, ternyata ada ketakutan tersendiri, apakah keputusan ini tepat atau malah akan menjerumuskan dirinya semakin dalam.
Apakah ia bisa beradaptasi di tempat baru, lalu kemana ia harus melarikan diri, nanti disana mau ngapain, siap nggak hidup sendiri.
Ternyata dia memang harus lebih memantapkan hati lagi sebelum semuanya terlanjur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
KLO SDH 10 TH MNIKAH, KIRA2 BRAPA USIA VITA SKRG, 30 ATAU 30++????
2024-06-28
0