Perasaan yang semrawut, beban pikiran yang tak juga berkurang membuat Vita menghabiskan sisa hari liburnya hanya dengan bergelung dibawah selimut tebalnya.
Bahkan perutnya yang mulai protes pun tak dihiraukan, lebih enak rebahannya dari pada bangkit mencari makanan.
Asli saat ini dia lagi dihadapkan pada dilema akut dalam hidupnya, tetap di zona nyaman dengan konsekuensi susah move on, atau keluar dari sini menyambut kehidupan yang baru dengan konsekuensi jadi pengangguran.
Tanpa sadar Vita meraih ponsel yang tergeletak disebelah kepalanya, dan jari tangannya menggulir mencari kontak seseorang.
Deringan ketiga terdengar sahutan dari seseorang diseberang sana. "Hallo Vit." suara merdu Wulan terdengar menyapa telinganya.
"Sibuk nggak Wul?" tanya Vita memastikan terlebih dahulu, karena sejak kepindahan sang sahabat ke luar negeri mengikuti suaminya yang sedang bertugas sebagai diplomat, kegiatan Wulan padat.
"Nggak say, apa kabar lo?"
"Baik Wul, lo gimana kabarnya?"
"Gue juga baik juga, nyambung banget sih gue kangen lo langsung ngehubungin gue." kata Wulan lalu terkikik pelan.
"Emang kita sehati gitu ya, hehehe, betewe Adam dirumah Wul?"
"Lagi ke kantor, lagi ada kerjaan, kenapa say?"
"Um.... Gue bingung nih Wul." gumam Vita masih ragu untuk menyampaikan niatannya buat resign.
"Tentang?"
"Jadi gini, kantor buka PD, siapa yang berminat bisa ikut."
"PD... maksud lo pensiun dini?" tanya Wulan memastikan.
"Iya pensiun dini, pesangonnya lumayan, enam puluh gaji Wul."
"Lo berminat? Terus lo mau ngapain?" tanya Wulan dari nadanya sih kurang setuju.
"Gue pengen pergi ninggalin Jakarta Wul, rasanya sesak banget hati gue, lo tahu what i means kan?"
"Gue paham Vit, cuman lo mau kemana dan mau ngapain?" ulang Wulan masih belum setuju.
"Gue pengen balik ke Solo aja, disini gue sendirian, lo jauh, keluarga gue jauh, rasanya tuh sepi, tersiksa." terang Vita.
"Lo mau ninggalin Galang?" tanya Wulan mengingatkan Vita bahwa disana ada makam Galang anaknya Vita yang meninggal karena sakit ketika bocah itu masih berusia satu tahun.
"Gue kan bisa ngedoain dia dimanapun gue berada Vit," jawab Vita sendu kalau kembali mengingat anak semata wayangnya itu.
"Ya kalo lo yakin, ya go ahead Vit, gue support apapun yang lo putusin, gue tahu berat hidup sendiri di kota seperti Jakarta, gue harap ini keputusan yang terbaik, besok kalo gue balik ke Indo, gue pasti bakalan tengokin makam Galang." kata Wulan akhirnya.
"Thanks ya Wul, you are my best friend."
"Gue cuman kepingin lo bahagia dan lupain Arya yang udah nyakitin lo itu."
"Pasti Wul, pasti, thanks kalo selama ini lo selalu ada buat gue." ucap Vita dengan tulus.
"Sama-sama Vita sayang, gue tutup dulu ya Azzam bangun." pamit Wulan lalu mematikan sambungan telepon mereka.
Vita kembali menggulirkan jarinya mencari kontak Ines, keponakan cewek yang terbilang paling dekat dengannya.
Tanpa menunggu lama, diseberang sana Ines langsung menerima panggilannya.
"Tan... tumbenan?" tanya Ines to the point.
"Dih.... gitu amat nanyanya, nggak suka aku telpon?" sahut Vita jutek.
"Hehehe marah," celetuk Ines geli.
"Nes.... bantuin tante dong."
"Bantuin apa? Kalo duit Ines nggak punya!" canda Ines dengan suara diketus-ketusin.
"Udah lupa kalo situ yang minta duit mulu kesini," cibir Vita.
"Eh iya lupa aku, hehehe."
"Betewe tante mau minta tolong apa?" sambung Ines setelah tawanya reda.
"Gini Nes, menurut kamu kalo tante mau resign gimana?"
"Hah!! Kenapa mau resign?" tanya Ines kaget.
"Cuman pengen ganti suasana baru aja sih sebenernya, disini ngerasa sumpek banget." keluh Vita.
"Bukannya lari dari om Arya kan?" tanya Ines yang sayangnya tepat banget, mungkin karena mereka sudah dekat walaupun jarak umur yang terentang jauh sekitar dua belas tahun.
"Jujur salah satunya itu, tante nggak mau udah capek-capek ngurus semua, tahu-tahu dia balik lagi ke tante terus mohon-mohon kayak biasanya dan tante luluh lagi."
"Kalo menurut tante itu yang terbaik, lakuin tan, aku juga nggak mau lihat tante terluka lagi, kalo jalan satu-satunya tante mesti menghilang, ya apa boleh buat, yang penting selalu kasih kabar ke aku."
"Makasih ya nduk, tolong jangan bilang ke siapa-siapa ya, terutama ke Uti, tante nggak mau Uti kepikiran." pinta Vita sungguh-sungguh.
"Sip tan, aku akan jaga rahasia."
Akhirnya setelah terombang-ambing, Vita bisa bernafas lega dengan support orang-orang tersayangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments