Pagi ini Vita mengunjungi makam Galang sebelum nanti sore dia bertolak ke kota Solo menggunakan kereta api.
Vita berjongkok di sisi makam, dengan sesekali mengelus batu nisan anaknya, tak terasa airmata menetes jatuh membasahi nisan anaknya.
"Kamu lagi apa di sana nak? Tempatmu indah kan?" Suara Vita tenggelam dalam sedu sedan isak tangisnya.
"Baik-baik di sana ya nak, mungkin setelah ini mama akan jarang mengunjungimu, tapi percayalah bahwa mama akan memelukmu dalam setiap doa mama dimanapun mama berada."
"I love you sayang, mama akan selalu merindukanmu." Isak Vita semakin tenggelam dalam kesedihannya, sesekali jari lentiknya membersihkan makam Galang dari rumput yang tumbuh di atasnya.
Setelah berdoa dan menabur bunga di atas makam Galang, Vita mengusap batu nisan itu sekali lagi lalu beranjak meninggalkan tempat dimana jasad anaknya di baringkan.
Sesampainya di rumah Vita membaringkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar yang masih tetap sama tak berubah sedikitpun.
Guratan-guratan pola terbentuk di dinding plafon yang terbuat dari triplek itu karena setiap hujan sering terjadi kebocoran.
Dia pasti akan kangen kota ini, teman-teman di sini, walaupun bisa dibilang Vita tak punya banyak teman juga, tapi dua belas tahun menjadi bagian dari ibu kota ini tak bisa dipungkiri pasti meninggalkan jejak.
Vita merasa bersyukur karena kepindahannya tak perlu direpotkan dengan mengangkut semua barang rumah tangganya, bude Ningsih dengan senang hati menampungnya, sehingga memudahkan Vita hanya perlu membawa pakaiannya saja yang untungnya cukup dengan dua koper besar dan kecil, lainnya dia tinggal biar nanti dkasih ke orang yang lebih membutuhkan.
Sore harinya, Vita menyeret kedua kopernya keluar dari rumah, bude Ningsih sudah menunggu di depan rumah, mata tuanya sembab, mendengar Vita akan pergi meninggalkan Jakarta dan semua permasalahannya membuat hatinya bersedih, dia juga seorang ibu, seandainya anak perempuannya yang mengalami kejadian seperti Vita tentu dia juga tak akan terima, tapi bukankah manusia harus menerima takdir yang harus ia jalani, susah dan senang, tawa dan tangis.
Bude Ningsih memeluk Vita dengan erat. "Hati-hati disana, jaga diri baik-baik, sering-sering kasih kabar ke bude."
Vita menyusut ujung matanya, tiba-tiba perasan sedih menguasai hatinya, bude Ningsih perempuan enam puluh tahun itu bukan saja tetangganya tapi sudah jadi ibu kedua bagi Vita, kebaikannya sangat luar biasa.
"Vita nitip Galang ya bude, saya sudah kasih uang administrasi untuk memperpanjang sewa tanah makamnya selama lima tahun."
"Iya nduk, bude akan sering tengok ini anakmu, kamu ndak usah khawatir." kata bude Ningsih mengelus kepala Vita dengan lembut.
Tidak ingin semakin larut dalam kesedihannya, Vita segera berpamitan dengan bude Ningsih dan keluarganya, lalu Vita keluar dari gang menuju ke taksi yang sudah menunggunya.
"Sore mbak, ke Gambir ya?" sapa pak sopir dengan ramah.
"Sore Pak, iya ke Gambir." jawab Vita sopan.
Taksi itu membelah jalanan kota yang sudah mulai padat, perlu cukup waktu untuk sampai ke stasiun terbesar di Jakarta itu dari rumahnya yang terletak di daerah Depok.
Vita menikmati kemacetan yang ada di sisi kanan kirinya, suasana seperti ini pasti akan dia rindukan kelak.
Vita menarik nafas dalam dan memejamkan mata, kesedihan kembali menyeruak dalam hatinya.
'Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal semua kenangan, aku siap melangkah melanjutkan hidup' batin Vita sendu.
Yah.....bagaimana pun hidup harus terus berlanjut, tak perlu menengok kebelakang lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments