"Saya Rara, istrinya Evan mbak."
Perkataan Rara tadi sore ketika menyambangi kafe Vita kembali terngiang di telinga Vita.
Seketika pikiran Vita travelling ke masa dulu dia pacaran sama Evan di awal mereka duduk di bangku SMU.
Evan yang merupakan tetangga beda RT dengannya itu merupakan cinta pertama Vita.
Mereka pacaran cuma hitungan bulan karena Vita diputusin oleh Evan karena Vita kurang cantik dan kuper.
Sejak mereka putus mereka jadi saling tak bertegur sapa, untung saja walau mereka satu kampung tapi beda RT sehingga selalu ada cara untuk menghindar.
Kalo sekarang Rara bisa kenal dirinya yang notabene tak pernah bersinggungan dengan Evan setelah mereka putus, apa mungkin Evan menceritakan perihal dirinya ke Rara.
"Dari tadi bengong aja mbak," tegur Retno membuyarkan semua lamunan Vita.
"Aku lagi bingung Retno." Desah Vita lelah.
"Bingung kenapa tho mbak?" tanya Retno bingung melihat Vita sejak tadi terbengong memikirkan sesuatu.
"Itu tadi istri mantan pacarku kenapa bisa kenal sama aku?" gumam Vita masih belum mengerti.
"Lha emang kenapa kalo kenal?" Retno justru melontarkan pertanyaan ke Vita.
"Ih kamu tuh diajakin ngomong nggak nyambung banget sih Ret, aku tuh bingung padahal sejak putus sama Evan tuh nggak pernah kontakan lagi, dia pacaran sama siapa nikah ama siapa, aku tuh nggak tahu, kalo sekarang istrinya bisa ngenalin aku tuh dia kenal darimana." terang Vita sengit sendiri karena Retno yang tidak nyambung itu.
"Ya mungkin saja mas Evan cerita ama istrinya karena mbak itu pacar terspesial." kata Retno.
"Ah masak gitu sih? Kan aku pacar yang tak dianggap!" Vita mencibir tak percaya atas analisa gadis abg yang bahkan belum pernah sekalipun pacaran.
***
Keesokan harinya Vita dan Retno kembali mengelola bisnis kafenya, dagangan yang semakin laris membuat Vita semakin sibuk menenggelamkan diri dengan meracik bumbu pasta.
Lagi membantu Retno memanggang lasagna pesenan langganan mereka ketika bel tanda pelanggan datang berbunyi.
"Selamat datang....," Vita tak melanjutkan sapaannya ketika menyadari Rara kembali datang menyambangi kafenya.
"Halo mbak Vita, maaf aku dateng lagi, anak-anak suka ama pasta disini." sapa Rara tersenyum penuh arti.
Susah payah Vita meneguk ludahnya, ini tak seperti yang ia bayangkan kan? Bukan alesan perempuan cantik di depannya untuk datang lagi ke kafenya kan?
Tak mungkin juga ia berurusan dengan Rara sedang hubungannya dengan Evan sudah kandas terlebih dahulu sebelum mereka berpacaran.
"Thanks God kalo anak-anak mbak Rara suka, mau pesen apa mbak?" sambut Vita sopan.
"Lasagna dua sama fetucini satu, ekstra cheese ya mbak." jawab Rara sopan.
"Oke mbak, silakan tunggu sebentar ya." Vita melangkah gontai memasuki dapurnya, jujur perasaannya insecure banget sama Rara.
Gimana nggak insecure melihat Rara yang lembut dan juga cantik, berbanding terbalik dengan dirinya yang seringnya judes dan bicara nyablak itu.
Tak mungkin dong kalo Rara sedang mencari tahu kabar tentang dirinya, terlalu kepedean kalo Vita merasa begitu.
Tak berapa lama pesanan Rara selesai di panggang, Vita membawa makanan tersebut dan mengemasnya dalam paperbag.
"Semuanya enam puluh ribu mbak." Vita menyerahkan paperbag tersebut kepada Rara dan menerima uang dari perempuan di depannya.
"Thanks mbak Vita, betewe dapet salam dari Evan." Setelah mengucapkan kalimat tersebut Rara berjalan keluar dari kafe tersebut.
'Eh.... nggak salah denger kan kuping gue!' batin Vita shock.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments