Keesokan harinya setelah Vita menghadap Hans untuk menyampaikan keputusannya, Hans langsung bergerak cepat, menghubungi HRD untuk mengajukan nama Lavita Aurora dalam program PD, meminta HRD untuk mencarikan orang baru untuk masuk dalam timnya.
"Kalo memang pak Hans keberatan Vita ikut program PD, bapak bisa menolaknya kok." usulan pak Pram waktu Hans menyodorkan nama Vita dan meminta penambahan staff di departemen yang ia pimpin.
"Saya memang bisa menolak pak Pram, tapi bukankah semua karyawan berhak mengambil program ini, saya rasa Vita pun berhak mengajukan diri, kan tak ada batasan apapun." Tolak Hans tak mau menahan Vita untuk tetap menjadi anak buahnya.
"Bagaimana kalo kita acc usulan bapak waktu itu yang ingin menaikan jabatan Vita jadi asmen bapak?" tawar Pram lagi mencoba negosiasi dengan Hans, karena Hans salah satu pimpinan yang perfeksionis dan banyak maunya, untuk menyediakan staf yang kompeten seperti Vita dalam waktu singkat, tentu dirinya juga kesulitan.
"Saya rasa Vita tetap pada keputusannya pak Pram, dan saya menghargainya." jawab Hans tegas.
"Baik kalo begitu pak, saya akan berusaha untuk mempersiapkan pengganti Vita." Akhirnya Pram mengalah, mana bisa dia melawan Hans yang notabene termasuk saklek itu.
Setelah pembicaraan Hans dengan pimpinan HRD selesai, kini giliran Hans memanggil ketiga staff nya untuk menghadapnya.
"Bapak manggil kami?" tanya Vita setelah dirinya dan kedua temannya masuk ke ruangan Hans.
"Ambil kursi dari luar Ran," perintah Hans kepada Rani ketika gadis itu hanya berdiri karena tidak kebagian kursi yang telah ditempati terlebih dahulu oleh Vita dan Desi.
Rani langsung melangkah keluar ruangan, dan kembali masuk dengan mendorong kursi kerjanya ke dalam ruangan Hans.
Rani duduk di hadapan Hans dengan gelisah, tangannya yang berkeringat dia usap-usapkan ke rok yang ia pakai.
Vita mengulum senyum melirik kelakuan Rani yang terlihat grogi, memang pak Hans hantu apa sampai sebegitu takutnya ama beliau.
"Saya mengumpulkan kalian semua disini, karena ada yang mau saya bahas." Dengan suara baritonnya pak Hans membuka meeting dadakan mereka.
Ketiganya mengangkat kepala menatap penuh tanya kepada lelaki setengah abad itu yang masih kelihatan stylish dan ganteng.
Desi dan Rani menatap dengan mata bingung, menerka-nerka apakah ada pekerjaan mereka yang salah, sedang Vita menatap pak Hans dengan tatapan santai, ya iyalah dia tahu apa yang akan dibicarakan.
"Pak.... bicaranya jangan serius-serius, nanti Rani ngompol lho," tegur Vita pelan, menjaga intonasinya biar terdengar nggak becanda.
"Vit.... saya serius, kamu malah senyam-senyum nggak kepuguhan, saya tarik persetujuan saya baru tahu rasa kamu!" omel pak Hans senewen.
Vita menunduk bukannya takut, malah menahan dirinya agar tidak terkekeh.
"Jadi gini.... Vita mengajukan diri untuk program PD.... " pak Hans belum selesai menjelaskan, terdengar suara Desi yang menginterupsi perkataannya.
"Bener kan dugaan kita Ran."
"Des....!" tegur pak Hans keki.
"Eh maaf Pak, saya emosi soalnya." sahut Desi langsung menunduk.
"Jadi rencananya saya akan narik salah satu staff dari departemen lain buat masuk ke tim kita, sementara itu kerjaan Vita kamu yang handle ya Des, untuk kerjaan Desi nanti sebagian dipindah ke Rani, yang sebagian ke anak baru, nah selama satu setengah bulan ini kamu belajar sama Vita, rencananya kamu yang ganti jabatan Vita nanti." terang pak Hans membuat Desi melongo, jujur kalo boleh memilih dia tidak mau sebagai pengganti Vita, secara dia belum bisa sesinergi sama pak Hans.
"Gimana Des? Setuju kan?" tanya Pak Hans menatap Desi meminta jawaban.
"Saya nggak setuju pak!" tolak Desi tegas.
"Hah! Kok gitu sih Des?" tanya Vita dengan muka memelas.
"Saya nggak setuju Vita ikutan PD pak, tolak aja!" jawab Desi ketus.
"Nggak bisa Des, Vita berhak mengambil kesempatan ini, saya juga sebenarnya nggak setuju, tapi saya nggak bisa berbuat banyak, karena setiap karyawan punya hak untuk mengajukan diri tak terkecuali Vita"
"Tapi kita kan kekurangan orang pak!" Desi masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Iya saya tahu, makanya saya minta ke pak Pram dicarikan orang, nanti Vita masih akan tetap mendampingi kalian sampai kalian bisa ditinggal."
"Kok gitu sih pak, nanti yang ada saya jadi nggak ikutan PD dong!" sahut Vita dengan suara meninggi.
"Tenang Vit, saya jamin kamu masih bisa ikutan PD." ujar pak Hans.
"Pokoknya pesangon saya dikasih dulu pak, nanti saya jadi karyawan kontrak aja, daripada pengajuan saya ditolak!" ucap Vita tegas.
"Astaga, nih bocah susah amat yak dibilangin ya!" gerutu pak Hans memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments