Tumbang karena flu ditambah dengan adaptasi cuaca di tempat baru sebenarnya tak ada dalam agenda Vita sebelumnya.
Bayangannya setelah tiba di kota ini, Vita langsung bisa mengeksplor ke beberapa tempat yang menyenangkan yang ia tahu dari beberapa artikel yang ia browsing sebelumnya.
Kotanya kecil, tapi suasananya enak, tidak rame tapi tidak sepi juga, gimana ya.... susah buat ngejelasinnya, Vita ngerasa langsung cocok aja sih disini.
Apalagi ketika ia membutuhkan sesuatu, baik itu makanan atau kebutuhan yang lainnya, Vita tinggal jalan beberapa puluh meter dan langsung bisa mendapatkan apa yang ia perlukan.
Dan yang paling utama adalah tersebarnya berbagai macam resto dan penjual kaki lima tak jauh dari tempat tinggalnya, Vita dan jajanan bagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Tak ingin membuang banyak waktu lagi, mumpung hari juga sudah beranjak sore dan suasana juga mendukung, Vita keluar dari kamarnya dan bergegas menuju alun-alun kota, apalagi tujuannya kalo bukan untuk jajan.
Anggap aja healing tipis-tipis sebelum dia menentukan mau ngapain nanti, nggak mungkin kan makan tidur makan tidur, yang ada pesangon nya habis, hidupnya keleleran.
Mata lentik Vita memindai sekitarnya, menentukan pilihan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah meronta minta segera diisi.
Akhirnya Vita menikmati semangkuk ramen yang rasanya so so sebenarnya, tapi makan ramen seorang diri sambil duduk lesehan di tikar dengan pemandangan lalu lintas di jalan protokol di depannya jadi pengalaman yang tak kan pernah Vita lupakan.
Di kota ini, sendirian, dengan status baru, rasanya lebih ke lega daripada kesepian, meski tak dipungkiri kalo Vita mengingat kembali pengkhianatan Arya, sudut hatinya masih terasa perih.
Vita mengangkat mangkuk ramen, lalu mendekatkan sendok yang terisi penuh dengan ramen, tak lupa meniupnya sebentar, lalu....
"Vita!" panggil seseorang membuat sendok berisi ramen itu jatuh mengenai celananya.
"Anjir!" maki Vita pelan sambil memeriksa celananya yang terkena noda kuah ramen.
Vita menatap nyalang seseorang yang berdiri menjulang di depannya.
Deg....
'Bima' batin Vita shock melihat mantan pacarnya yang tanpa permisi sudah duduk di hadapannya.
"Vita, nggak nyangka ketemu kamu disini," sapa Bima sumringah sambil menatap lekat Vita, jelas terlihat binar-binar cinta di kedua manik hitamnya.
"Hai Bim, apa kabar?" sapa Vita menampilkan senyum manisnya, padahal dalam hati gondok dan tak suka dengan pertemuan mereka.
"Baik Vit, baik, kamu ngapain disini, sama siapa?" tanya Bima penasaran, karena setahunya sejak lulus kuliah Vita langsung hijrah ke Jakarta.
"Aku lagi solo travelling, kamu ngapain disini Bim?" Vita berusaha basa-basi, padahal sebenarnya dia tak suka diganggu, apalagi sama Bima.
Bima pacar kedua Vita, lelaki baik teman SMA nya yang tak pernah bisa Vita cintai dengan tulus.
Awal mulanya Vita hanya ingin ngegodain Bima, pura-pura naksir padahal aslinya tak ada rasa, tapi apa mau dikata ternyata Bima sudah naksir dirinya sejak duduk di kelas 11.
Berpacaran selama tiga tahun, tapi keduanya putus nyambung hampir empat kali, alasannya apa lagi kalo bukan Vita yang cari gara-gara.
Bima bukan tipe cowok idaman Vita, itu yang bikin Vita tak bisa mempertahankan Bima, selalu saja ada yang salah, selalu saja dibanding-bandingkan dengan pacar pertamanya.
Bima sudah berusaha membuat Vita jatuh cinta kepadanya, tapi apalah daya, cinta tak bisa dipaksakan dan akhirnya mereka berpisah.
"Arya kemana Vit?" tanya Bima membuat lidah Vita kelu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments