Mamat berhenti di depan sebuah rumah mungil, yang sebenarnya tak mungil bila dibandingkan dengan rumah-rumah sekitarnya.
"Mari mbak Vita." Ajak Mamat bukan ke rumah yang bertuliskan dijual pada pagarnya, melainkan rumah di sampingnya.
"Bulek... bulek Sri." panggil Mamat mengetuk pintu jati yang tertutup rapat di depannya.
Setelah ketukan yang kesekian kali baru pintu di depannya terbuka lebar, menampilkan sesosok perempuan setengah baya.
"Eh Mamat, masuk Mat, " Ajak bulek Sri mempersilakan Vita dan Maman duduk di ruang tamu.
"Mbak ini yang kamu ceritakan kemarin?" tanya bulek Sri menatap Vita ramah.
Vita mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. "Vita bulek."
"Iya bulek, mbak Vita ini tertarik sama rumah sebelah yang mau dijual." kata Mamat setelah Vita dan bulek Sri saling berjabat tangan.
"Kalo gitu ayo kita lihat rumah sebelah, siapa tahu cocok sama mbak Vita." Ajak bulek Sri setelah terlebih dahulu mengambil kunci yang ia taruh di bufet.
Mereka berjalan beriringan, bulek Sri membuka pagar rumah tersebut lalu melangkah lebih dalam dan membuka kunci pintu rumah tersebut.
"Maaf belum dibersihkan mbak Vita, habis Mamat ngasih tahunya dadakan." ucap bulek Sri sambil membuka pintu dan jendela lebar-lebar agar aroma pengap dalam rumah bisa sedikit berkurang.
Vita melangkah ke dalam dan mengecek kondisi rumah tersebut dengan teliti, secara garis besar rumah tersebut masih kelihatan bagus walau tampak kusam, mungkin efek tidak pernah ditempati dalam kurun waktu lama.
"Emang kecil mbak rumahnya." celetuk bulek Sri yang terus mengikuti setiap langkah Vita.
"Luas seratus meter kecil ya bulek?" tanya Vita terkekeh, ya kecil untuk mereka tapi untuk Vita ukuran segitu sudah cukup untuk dia yang akan menempati seorang diri.
"Ya siapa tahu mbak Vita nyari yang gedean." jawab bulek Sri tersenyum.
"Aku sih sreg sama rumah ini bulek, harganya boleh kurang nggak ya bulek?" tawar Vita ketika mereka kembali ke depan bergabung dengan Mamat.
"Mbak Vita emang mau nawar berapa?" tanya bulek Sri.
"Seratus lima puluh boleh nggak bulek? Soalnya saya kan mesti renovasi dulu, bayar buat balik nama sama kasih komisi buat mas Mamat juga." kata Vita mencoba bernegosiasi.
"Eh nggak usah mikirin saya mbak." sahut Mamat yang mendengar namanya disebut-sebut.
"Ya nggak gitu mas, kan itu udah haknya mas Mamat ya harus saya berikan, biar saya berkah juga." kata Vita.
"Gini aja deh mbak Vita, naikin dua lima lagi ya?" pinta bulek Sri.
"Sepuluh deh bulek, kalo oke besok kita ke bank terus ke notaris biar langsung balik nama."
Bulek Sri tampak berfikir." Oke deh mbak, jadi seratus enam puluh ya, deal." Bulek Sri menyodorkan tangannya meminta tangan Vita untuk berjabat tangan.
Vita terkekeh melihat bulek Sri yang gaul, dan menjabat tangan bulek Sri.
Mamat tampak tersenyum, ikut senang melihat Vita akhirnya menemukan rumah yang diinginkan perempuan itu.
"Mas Mamat, uang komisinya mau ditransfer atau saya kasih cash?" tanya Vita.
"Gampang mbak, pegang aja dulu." sahut Mamat enteng.
Vita tersenyum menanggapi pernyataan Mamat, cowok yang sopan, baik dan juga ganteng, sayang cuman jadi tukang ojek, coba aja ke agensi pencarian bakat bisa jadi artis dia.
Masih asyik berbincang dengan bulek Sri dan Mamat, tiba-tiba ponsel Vita berdering nyaring, mengagetkan ketiganya.
"Damn it, mau apa lagi sih dia!" Maki Vita lirih yang sayangnya terdengar di telinga Mamat dan bulek Sri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments