"Damn it! Mau apa lagi sih dia?" maki Vita lirih.
Tak berniat untuk mengangkat, tapi dering ponsel itu terus memanggil membuat Vita mendenguskan suara.
"Angkat aja mbak," tegur Mamat sopan.
"Males.... kamu aja tolong angkatin dong, bilang aku lagi apa gitu!" Vita menyodorkan ponselnya ke arah Mamat, membuat Mamat mengeryitkan kening bingung dengan sikap Vita.
"Ini tolongin." Vita masih terus menyodorkan ponselnya ke arah Mamat.
Bulek Sri terkekeh geli melihat muka bete Vita dan muka bingung Mamat.
"Udah kamu angkat aja Mat, kasihan mbak Vita tuh."
Dengan ragu Mamat menerima ponsel Vita lalu menggeser tombol hijau dan menempelkan ke telinga.
"Lama banget sih Yang angkatnya." Suara Bima terdengar keki dari ujung sana.
Mamat memelototkan matanya, bingung karena mendengar suara cowok, lalu mengembalikan ponsel di tangannya kepada Vita.
"Udah terima aja, ngomong sesuka kamu." ucap Vita tanpa suara.
"Halo." kata Mamat akhirnya.
"Lho ini siapa?!" tanya Bima kaget karena mendengar suara cowok.
"Mbak Vita nya lagi nggak ada mas." jawab Mamat dengan suara sopan.
"Kamu siapa?" tanya Bima lagi.
"Pacar Vita?!" Cecar Bima asal.
"Eh bu bukan mas." jawab Mamat kaget.
"Kok hp Vita di kamu? Vita kemana?" cecar Bima tak menyerah.
"E e mbak Vita e." Mamat bingung mau menjawab apa.
Kesal dengan jawaban Mamat, Vita lalu merebut ponselnya dari tangan Mamat, sengaja menjauhkan dari bibirnya sambil berucap, "Telepon dari siapa Yang?"
Mamat melotot mendengar Vita berkata seperti itu, hah... ini maksudnya apa ya? batin Mamat gamang.
"Ngapain sih lo telpon lagi Bim? Hadeuh alamat berantem nih sama pacar aku, dia kan posesif banget, habis ini jangan hubungi gue lagi!" omel Vita langsung mematikan sambungan telepon mereka.
"Kalo mbak Vita beneran mau sama kamu, kamu dapet durian runtuh sekebon ya Mat." ledek bulek Sri sambil terkekeh.
Mendengar ledekan bulek Sri, Mamat tersenyum dengan canggung, Vita tersenyum geli melihat cowok di depannya itu salah tingkah.
Untuk ukuran cowok desa, bisa dibilang Mamat punya wajah yang good looking, wajahnya ganteng dengan kulit bersih walau bukan termasuk putih meskipun sering tersengat terik matahari karena pekerjaannya sebagai driver ojek, tapi sedap dipandanglah pokoknya.
Apalagi sikap Mamat yang begitu sopan dan baik hati bikin Vita terkagum pada kepribadian cowok itu.
Awal perjumpaan mereka sebenarnya lucu tapi juga mendebarkan, Vita yang saat itu sedang tersesat di suatu daerah sehabis survei rumah yang akan dibelinya, karena kesoktahuannya Vita yang ke tempat itu naik ojol dengan santainya menyuruh abang ojolnya meninggalkan dirinya.
Nah sehabis dari tempat itu tiba-tiba saja kuota internetnya habis, mau minta tolong ke si empunya rumah buat order ojol, ternyata ponsel mereka ponsel jadul yang hanya bisa menerima dan menelepon, alhasil Vita berdiri di pinggir jalan dengan harapan adanya taksi atau semacamnya yang lewat situ.
Eh Mamat yang merupakan driver ojol lewat dan langsung di suruh berhenti, awalnya Mamat ketakutan, setelah dijelaskan oleh Vita, akhirnya Mamat mau mengantarkan dirinya pulang, dan sekarang kalo Vita mau kemana-mana Mamat yang mengantarnya.
"Jadi besok kita langsung ke notaris aja ya bulek?" tanya Vita mengalihkan perhatian bulek Sri yang dari tadi menggoda Mamat tanpa henti.
"Ya boleh mbak Vita, jam berapa?"
"Pagian aja ya bulek, jam sembilan nan."
"Kamu juga ikut ya Mat, jadi saksi jual beli ini." pinta Vita membuat Mamat kaget.
"Kok saya ikut mbak?" tanya Mamat bingung.
"Kamu kan pacar jadi-jadiannya mbak Vita, kemana aja ya harus ikut." ujar bulek Sri di sela ketawanya.
"Eh kok!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments