"Des..... tolong mintain sign ke bapak dong," pinta Vita sambil menyodorkan sales kontrak yang baru saja ia print.
Desi menunjuk jari ke batang hidungnya. "Aku?"
Vita mengangguk. "Urgent! Tolongin yak, aku mau print yang lain lagi nih, banyak soalnya." Vita kembali menekuri komputer, membuat Desi mendengus sebal.
Senyum Vita terbit sekilas melihat Desi melangkah gontai menuju ruangan pak Hans yang ada di depan ruangan mereka.
Pasti anak buahnya itu kesel karena Vita melimpahkan pekerjaannya pada orang lain, padahal dia sendiri waktu itu yang membagi pekerjaan sesuai dengan jenis produk yang mereka jual, satu orang pegang satu produk.
Dan lagi kalo masuk ke ruangan pak Hans untuk minta tanda tangan kontrak, kadang pak Hans suka nanya aneh-aneh, kalo dia nggak bisa jawab gimana coba.
"Mbak Vita, jangan nyuruh aku ya," pinta Rani memelas, dia masuk belakangan di departemen marketing, satu tim sama Vita dan Desi, jujur masih belum bisa sesinergi sama bosnya, kadang masih suka grogi.
Suka heran sama Vita yang bisa cengengesan, malah terkadang ikutan ngomelin pak Hans kalo bos mereka itu bikin salah.
Pasal satu 'Bos tak pernah salah' dan pasal dua 'Kalo bos salah, lihat pasal satu' peraturan dalam dunia kerja tentang bos kalo bikin kesalahan tak berlaku bagi Vita, kalo pak Hans salah pasti Vita ngomel.
Ya tak bisa dipungkiri sih hubungan kerja mereka bisa seharmonis itu wong Vita udah bekerja untuk beliau sejak dia masuk ke perusahaan ini.
Desi menyodorkan sales kontrak yang sudah ditandatangani sama pak Hans. "Sekalian tolongin lo email ke mereka dong Des, pak Semesta lagi nungguin, besok mau minta dikirim barangnya."
"Lo lama-lama nglunjak deh Vit, kerjaan gue juga lagi banyak," tolak Desi meletakkan file tersebut ke meja Vita.
"Plis tolongin, gue pusing banget nih mau bikin kopi," tanpa akhlak Vita meninggalkan mejanya dan berlalu menuju pantry.
"Lo ngerasa aneh nggak sih Ran?" bisik Desi menyorongkan badan ke arah Rani.
"Iya ya mbak, nggak biasanya mbak Vita delegasiin kerjaan kayak gini." Angguk Rani dengan suara ikutan berbisik.
"Dan tadi pak Hans nggak komen apa-apa lho, kayak ngerti gitu."
"Biasanya bapak kan bawel ya."
"Apa firasat gue bener ya Ran?"
"Firasat apa?" tanya Rani bingung.
"Jangan-jangan Vita mau ikutan PD!" celetuk Rani lirih.
"Ah masak mbak?! Nggak mungkin sih kalo menurut aku, kan jabatan mbak Vita udah oke, gaji juga udah oke, udah gitu klop banget sama bapak, nggak mungkin!" tepis Rani yakin.
"Apanya yang nggak mungkin Ran, lo inget kan beberapa kali Vita cuti, gue rasa dia lagi wawancara kerja di tempat lain, secara dia tuh pinter banget anaknya, ngerjain LC (letter of credit) aja bat bet bat bet, nego ke customer jago, apalagi ngadepin bapak yang permintaannya kadang diluar nalar aja dia bisa."
Rani manggut-manggut setuju mendengar penjelasan Desi yang emang sesuai kenyataan yang ada.
"Terus disini dia cuman menjabat Supervisor, pak Hans ngajuin promosi buat naik ke asmen aja, beuh dipersulit ama HRD, ya jangan salahin kalo dia cabut!" sambung Desi dengan suara ketus.
"Kalian pada ngomongin gue ya? Ngobrol pakai bisik-bisik gitu!?" tegur Vita berdiri di belakang mereka sambil memegang secangkir kopi.
"Iya.... lo aneh belakangan hari ini!" jawab Desi tanpa tedeng aling-aling.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments