Akhirnya Vita sampai juga ke tempat kerjanya, setelah berjibaku dengan padatnya jalanan ibu kota yang selalu jadi alasan klasik sebagian warganya dalam menjalankan aktivitasnya.
Vita membenahi riasan wajahnya dan setelahnya langsung menuju ke dapur, seperti biasa dia perlu secangkir kopi pekat untuk memulai harinya, ya semacam mood booster drink buatnya.
Vita sengaja berdiri di depan pintu pantry yang tertutup rapat itu sambil mendengar bisik-bisik orang di dalamnya yang lagi asyik berghibah.
Penasaran, akhirnya Vita mendorong pelan pintu yang tertutup rapat itu, lalu melongokan kepala ke dalam ruangan sempit berukuran kurang dari empat meter persegi itu.
Ketiga temannya sontak memalingkan wajahnya ke pintu yang terkuak, menatap Vita malu, seolah-olah kaya orang yang ketahuan lagi melakukan kejahatan saja.
"Eh mbak Vita, mau bikin kopi mbak?" Sapa Iroh, office girl yang biasanya melayani karyawan di tempatnya bekerja.
Vita lalu ikut masuk ke dalam pantry sempit itu. "Pada ngomongin apa sih bisik-bisik gitu?" tanya Vita penasaran.
"Emang mbak Vita belum tahu berita yang lagi heboh kemarin?" tanya Sari, staff dari departemen Keuangan.
Vita menggelengkan kepala, ya emang dia beneran tidak tahu apa-apa sih.
"Kemarin kan mbak Vita cuti, pasti nggak denger kabar yang sekarang lagi heboh dan menggemparkan seisi kantor ini," bisik Iroh takut ada yang mendengar perkataannya.
"Oh pantes aja," sahut Sari
"Apaan sih? Jadi tambah kepo!" ujar Vita gemes, ngomong pada muter-muter.
"HRD lagi open PD mbak," jawab Tyas yang dari tadi cuman menyimak.
"PD? Maksud lo pensiun dini Yas?" tanya Vita terkejut, dan langsung berubah exciting mendengar informasi tersebut.
"He eh, siapa aja boleh ngajuin, tapi nggak ada yang mau." jelas Tyas lagi.
"Jadi bukan ditunjuk?" Vita menegaskan lagi.
Tyas, Sari dan Iroh serentak menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Vita.
"Betewe itungan berapa? Pada tahu nggak?" tanya Vita semakin tertarik.
"Enam puluh kali gaji mbak!" jawab Iroh cepat.
"What?!" pekik Vita tertahan.
"Beneran mbak segitu menurut info yang beredar."
"Itungan segitu nggak ada yang tertarik?" gumam Vita bingung.
"Ya iyalah mbak, enam puluh kali gaji kan cuman setara lima tahun kerja, nggak dapet bonus, nggak dapet THR, siapa coba yang tertarik ninggalin perusahaan yang sehat sentosa kayak gini," terang Sari di dukung oleh temen yang lain.
"Tapi kan ini enam puluh kali gaji guys, bikin ngiler banget," kata Vita semakin bersemangat.
Tahu dong lagi banyak masalah, lagi pengen melarikan diri, eh ada tawaran kayak gini, siapa yang tidak tergiur coba.
"Mbak Vita tertarik?" tanya Tyas bingung dengan antusiasme Vita.
"Iya mbak Vita tertarik mbak?" tanya Iroh setelah Vita tak menjawab pertanyaan Tyas.
Tak menjawab, Vita bergegas keluar dari pantry dan menuju ke ruangan managernya.
"Mbak Vita.... kopinya!" panggil Iroh menatap kopi yang sudah diseduh oleh Vita tadi ditinggalkan begitu saja.
Tyas, Sari dan Iroh saling tatap, otak mereka langsung loading, nggak mungkin kan Vita yang notabene karyawan berprestasi itu berminat mengajukan diri.
Tapi bisa saja kan, namanya dunia kerja, yang tak mungkin bisa menjadi mungkin, sesuatu penawaran yang menurut orang lain tak menarik bisa aja menurut yang lain menarik.
So.... lihat aja ke depannya ada berita apa lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Imas Masripah
mampir semoga ceritanya menarik😊
2024-05-28
1