Vita duduk di salah satu kursi di kafenya, kakinya ia luruskan mencoba mengusir pegal yang berdenyut di betis efek kelamaan berdiri melayani pelanggan.
Kafe Omah Pasta nya semakin rame, mungkin sekarang waktunya Vita mencari karyawan baru lagi, nggak mungkin kan dia sama Retno terus-terusan bertempur dari buka sampai tutup.
Rasanya Vita tuh disayang banget sama Tuhan, setelah hidupnya terpuruk dan carut marut, sekarang dengan begitu besarnya Tuhan memperlihatkan kebaikanNya.
"Ret, kamu punya temen yang mau kerja nggak?" tanya Vita ketika Retno keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.
"Buat?" Retno mengeryitkan kening sambil mengambil duduk di depan Vita.
"Ya buat kerja disini Ret, pertanyaanmu kadang aneh!" ketus Vita kadang emosi dengan keleletan Retno.
"Oh, ada mbak, Susi lagi nyari kerjaan tuh."
"Susi siapa Ret?"
"Temen sekolah mbak, kalo mbak Vita oke besok aku suruh dia ngadep mbak Vita deh."
"Orangnya gimana?"
"Kurus, manis,... "
"Cckk.... maksud aku tuh jujur, pekerja keras atau nggak, apa hubungannya sama fisik sih, emang kita agency artis!" ketus Vita kesel karena terkadang Retno tuh nggak nyambung diajakin bicara.
"Eh iya ya." Retno terkekeh geli sendiri.
"Orangnya sih Oke mbak, namanya juga gadis desa, pasti udah biasa kerja kayak ginian." sambung Retno setelah berhenti tertawa,
"Ya udah besok agak siangan suruh dateng ke kafe, aku pagi mau ke pasar dulu beli bahan yang udah pada habis." kata Vita kemudian.
"Boleh ikutan nggak mbak?" tanya Retno dengan mata penuh harap.
"Tapi aku berangkat pagi Ret, setelah subuh, tahu sendiri kan bahan-bahan kita adanya di Solo." jawab Vita bukan ingin menolak permintaan Retno, tapi pagi-pagi harus berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan pasta, dilanjut masak dan membuka gerai pasta nya pasti butuh stamina yang fit, Vita tak ingin Retno kecapaian nantinya.
"Nggak papa mbak, bosen aku pengen ngeliat keramaian di luar sana."
"Lagu lo Ret, lama-lama bahasa lo udah kayak anak Jakarta aja." kata Vita geli sendiri mendengar bahasa Indonesia dengan aksen medok khas Jawa yang diucapkan Retno.
***
Keesokan harinya, Vita ditemani Retno dengan mengendarai motor melaju menuju ke pasar Gede Solo.
Udara dingin yang menemani perjalanan mereka tak mengurungkan semangat keduanya memacu kendaraan roda dua tersebut.
Biasanya kalo Mamat sedang tak sibuk, Vita akan mendelegasikan pekerjaan ini ke Mamat, dia hanya perlu memesan barang yang diperlukan kepada pemilik toko, kemudian membayar melalui mobile banking dan Mamat hanya tinggal mengambilnya,
Tapi berhubung Mamat tak ada hari ini, Vita memutuskan untuk berbelanja sendiri sekaligus jalan-jalan sambil menikmati jajanan penggugah selera yang tersebar hampir di seluruh sudut pasar tersebut.
Tak kurang tiga puluh menit, motor matic milik Vita sudah terparkir manis di tempat parkir.
"Mau sarapan dulu, atau mau belanja dulu Ret?" tanya Vita menawarkan pilihan pada Retno.
"Belanja dulu deh mbak, baru sarapan." jawab Retno sambil melepas pengait helm yang dikenakannya.
"Oke." sahut Vita langsung memasuki pasar yang sudah terlihat ramai walau masih terbilang pagi.
Karena semua barang yang dibutuhkan Vita hanya tinggal mengambil di toko langganan, alhasil acara belanja mereka tak berlangsung lama.
Setelah semua kebutuhan mereka lengkap, Vita dan Retno menuju ke warung soto yang berada di sudut pasar tersebut.
Kuah soto yang mengepul itu membuat air liur Vita ingin menetes keluar, dia sendok kuah tersebut lalu suara seseorang memanggilnya.
"Vita..... kamu kesini?" suara Bima mengintrupsi acara sarapan Vita.
Vita menoleh dan shock ketika mendapati seorang wanita yang berdiri dibelakang Bima menatap intensif padanya.
'Ah.... apa lagi ini, kenapa hidupku jadi seruwet ini sih?!' maki Vita dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
MAMAT URUS BISNISNYA, OJOL CMA SAMARAN
2024-06-28
1