Keluar dari ruangan pak Hans, Desi menghentakkan kaki dan dengan kasar duduk di kursi kerjanya.
Vita terkekeh pelan melihat kelakuan teman satu tim nya tersebut. "Mental baru tahu rasa!"
"Bodo!" sahut Desi ketus tak lupa pakai melengos segala.
"Mbak Vita beneran mbak?" tanya Rani sendu, matanya sudah berkaca-kaca.
"Beneran Ran, maaf ya kalo kemarin aku belum terbuka sama kalian, soalnya aku lagi mikir, " jawab Vita dengan tenang.
"Padahal aku seneng lho punya atasan mbak Vita, nggak pelit ilmu, nggak pelit nilai, kalo salah nggak diomelin." Rani mengusap sudut matanya yang sudah tergenang airmata.
"Tenang Ran, Desi kan juga baik, dia bakalan support kerjaan kamu kok, ya nggak Des?" ucap Vita tak ada respon yang berarti dari Desi, bukannya Desi marah atau benci ya, cuma dia tidak ingin kehilangan atasan dan teman yang menyenangkan seperti Vita.
"Iya sih baik, tapi lebih judes dari mbak Vita." sahut Rani membuat Desi keki dan melempar tissue ke arah Rani.
"Sudah, sudah, yang penting kita jangan lost contact ya." pinta Vita tersenyum manis, mengurai kesedihan yang tiba-tiba muncul diantara mereka.
"Sebenarnya mbak Vita mau ngapain sih mbak? Mbak Vita beneran diterima kerja di perusahaan lain dengan jabatan dan gaji yang lebih tinggi?" tanya Rani penasaran dengan alasan Vita yang sejujurnya.
Vita menarik nafas panjang, menimbang sejenak lalu berkata pelan. "Sebenarnya aku baru aja divorce, dan pengen nenangin diri."
Mendengar perkataan Vita barusan, membuat Desi dan Rani terkejut dan tak bisa berkata apa-apa.
"Ya ampun babe, sorry gue nggak tahu, jadi belakangan hari lo cuti itu ngurusin itu?" tanya Desi dengan wajah sendu.
"Udah nggak usah dibahas, udah lewat, takut bikin gue badmood."
"Beneran lo nggak papa Vit? Gue jadi sedih tahu nggak," ucap Desi lirih.
"Udah ah jangan pada melow, PR kita banyak, gue nggak mau rencana gue molor gara-gara lo pada mengasihani gue!" seloroh Vita mencoba mencairkan suasana.
Desi dan Rani saling tatap, bingung tapi juga senang, karena tampaknya perceraian tersebut tak mempengaruhi Vita.
Lalu mereka kembali serius menekuni pekerjaan mereka, Vita dengan sabar mengajari Desi beberapa pekerjaan yang nanti akan dia handle.
Kalo untuk proses pelayanan ke langganan sih mereka bisa langsung handle karena sistem kerjanya kan sama, cuma nama pelanggan aja yang berbeda.
"Gue heran deh Vit, lo baca klausul segini banyaknya kok nggak pusing sih, mana kebanyakan pakai bahasa Inggris lagi." gerutu Desi dari tadi mulutnya tidak berhenti mengoceh.
Vita terkikik. "Ya karena kebiasaan aja sih Des, ntar lama-lama lo juga bakalan menguasai."
"Market lokal aja pada sok-sok an pada pakai bahasa Inggris segala."
"Udah ih dari tadi ngomel mulu, kerja tuh ikhlas!" tabok Vita kesel.
Rani yang mendengar perdebatan keduanya hanya terkekeh dalam hati, bersyukur banget pak Hans tidak menunjuk dirinya.
Akhirnya obrolan santai di sela-sela pekerjaan mengalir diantara ketiganya, walaupun Desi sesekali masih terdengar sewotnya.
Walau rasanya tak rela melepas Vita, tapi mereka bisa apa? Apalagi mendengar masalah yang dihadapi Vita, mereka jadi lebih bisa memahami keadaan kenapa Vita harus mengambil keputusan ini.
Sebagai teman mereka hanya bisa mensupport Vita, agar dia bisa move on dan menata hidupnya kembali, walaupun akhirnya mereka harus rela menerima hibahan pekerjaan Vita.
Nasib memang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments